Kimchi Makin Lama Makin Enak? Ini Fakta Sains Fermentasinya!

Kimchi makin lama makin enak adalah FAKTA, tetapi ada batasnya. Kimchi merupakan makanan fermentasi tradisional Korea yang dibuat dari sayuran, garam, dan bumbu rempah, kemudian difermentasi oleh Bakteri Asam Laktat (BAL) seperti Lactobacillus, Leuconostoc, dan Weissella.

Selama fermentasi berlangsung, rasa kimchi akan berubah dari segar dan renyah menjadi semakin asam, gurih, dan kompleks. Kandungan kimchi didominasi oleh serat, vitamin C, vitamin K, senyawa antioksidan, dan miliaran probiotik alami.

Dalam keseharian, manfaat kimchi tidak hanya sebagai sumber probiotik tetapi juga sebagai pendamping makanan yang membantu meningkatkan cita rasa dan mengurangi rasa enek pada makanan berlemak.

Cara simpan kimchi terbaik adalah dalam wadah kedap udara pada suhu stabil 0–4°C agar fermentasi berjalan lambat dan teksturnya tetap renyah. Namun, jika muncul jamur berbulu, lendir berlebih, atau bau busuk menyengat, kimchi sudah tidak layak konsumsi.

Satu mangkuk penuh kimchi merah merona dengan taburan wijen dan irisan daun bawang segar di atas meja makan.

Bagi pencinta drama Korea, K-pop, atau kuliner Korea, kimchi mungkin menjadi salah satu makanan yang paling sering terlihat. Hidangan berwarna merah cerah ini hampir selalu hadir di meja makan masyarakat Korea mulai dari sarapan hingga makan malam.

Namun, berbeda dengan kebanyakan makanan lain yang semakin lama disimpan justru semakin rusak, kimchi memiliki karakteristik yang unik. Banyak orang Korea justru sengaja menyimpan kimchi selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk mendapatkan rasa yang dianggap “lebih enak”.

Benarkah demikian? Mari kita bedah fakta sains fermentasi di balik makanan legendaris ini bersama Delinutri.

Apa Itu Kimchi dan Dari Mana Asalnya?

Kimchi adalah makanan fermentasi tradisional Korea yang dibuat melalui proses penggaraman dan fermentasi berbagai jenis sayuran terutama sawi putih (Brassica rapa subsp. pekinensis), yang kemudian dicampur dengan pasta bumbu (yangnyeom) seperti bubuk cabai Korea (gochugaru), bawang putih, jahe, daun bawang, serta produk fermentasi hasil laut seperti jeotgal atau kecap ikan.

Sejarah kimchi diperkirakan telah dimulai sejak abad ke-3 hingga ke-4 Masehi sebagai strategi masyarakat Korea untuk mempertahankan pasokan sayuran selama musim dingin yang panjang. Seiring waktu, kimchi berkembang menjadi simbol budaya Korea dan kini telah dikenal secara global.

Ternyata Ada Ratusan Jenis Kimchi

Meskipun kebanyakan orang hanya mengenal kimchi sawi putih, faktanya terdapat lebih dari 200 variasi kimchi di Korea.

Beberapa jenis kimchi yang paling populer antara lain:

1. Baechu Kimchi

Jenis paling terkenal yang menggunakan sawi putih sebagai bahan utama.

2. Kkakdugi

Kimchi berbahan dasar lobak putih yang dipotong berbentuk dadu dengan tekstur renyah.

3. Dongchimi

Kimchi berkuah bening yang memiliki rasa segar dan ringan.

4. Nabak Kimchi

Kimchi berkuah dengan campuran kubis dan lobak.

5. Yeolmu Kimchi

Kimchi yang dibuat dari lobak muda beserta daunnya.

Bahkan saat ini, berbagai negara mulai mengembangkan kimchi berbahan lokal seperti bengkuang, mentimun, hingga kale.

Kimchi Makin Lama Makin Enak? Ini Penjelasan Sainsnya

Jawabannya adalah: FAKTA, tetapi hanya sampai titik tertentu.

Ketika kimchi baru dibuat, rasa yang dominan adalah asin, segar, dan sedikit pedas. Namun, selama proses fermentasi, bakteri asam laktat mulai mengonsumsi gula alami dari sayuran dan mengubahnya menjadi berbagai senyawa baru.

Beberapa perubahan yang terjadi selama fermentasi meliputi:

  • Produksi asam laktat yang menciptakan rasa asam khas kimchi.
  • Produksi karbon dioksida (CO₂) yang menghasilkan sensasi sedikit berkarbonasi.
  • Pembentukan berbagai senyawa aroma yang memperkaya cita rasa.
  • Peningkatan rasa gurih alami atau umami.

Akibatnya, kimchi yang telah difermentasi selama beberapa minggu sering kali dianggap memiliki rasa yang lebih kompleks dan lebih lezat dibandingkan kimchi segar.

Namun, fermentasi yang terlalu lama juga dapat membuat kimchi menjadi terlalu asam dan kehilangan kerenyahannya.

Kandungan Kimchi per 100 Gram

Meskipun rendah kalori, kimchi memiliki kepadatan nutrisi yang cukup tinggi.

KandunganJumlah
Energi17–18 kkal
Karbohidrat6–7 g
Serat pangan2–3 g
Protein1–2 g
Lemak<0,5 g
Vitamin C15–25 mg
Vitamin K40–60 mcg
Natrium400–700 mg

Selain itu, kimchi juga mengandung:

  • Probiotik alami (Lactobacillus, Leuconostoc, Weissella)
  • Capsaicin dari cabai
  • Allicin dari bawang putih
  • Gingerol dari jahe
  • Polifenol dan flavonoid
  • Mineral seperti kalsium, magnesium, dan mangan

Kenapa Kimchi Rasanya Bisa Sangat Umami?

Salah satu alasan kimchi begitu disukai adalah karena rasanya yang kompleks yakni asin, asam, pedas, dan gurih sekaligus.

Rasa umami pada kimchi berasal dari beberapa sumber utama:

  • Asam glutamat alami dari sawi putih dan proses fermentasi.
  • Nukleotida IMP dan GMP dari kecap ikan dan jeotgal.
  • Asam amino bebas hasil pemecahan protein selama fermentasi.
  • Senyawa sulfur aromatik dari bawang putih dan daun bawang.

Kombinasi inilah yang membuat kimchi mampu meningkatkan kenikmatan makanan lain, terutama daging panggang dan makanan berlemak.

Manfaat Kimchi dalam Kehidupan Sehari-hari

Konsumsi kimchi secara rutin dapat memberikan berbagai manfaat praktis seperti berikut ini:

Membantu Menambah Nafsu Makan

Perpaduan rasa asam, pedas, dan gurih membuat kimchi efektif mengurangi rasa enek pada makanan berat.

Menambah Asupan Serat

Sayuran fermentasi ini tetap mempertahankan kandungan serat yang cukup tinggi.

Menjadi Alternatif Pendamping Rendah Kalori

Dengan hanya sekitar 17–18 kkal per 100 gram, kimchi sering digunakan sebagai pelengkap menu harian.

Menambah Variasi Rasa Masakan

Kimchi dapat digunakan untuk nasi goreng, sup, mi, pancake, sandwich, hingga burger.

Menyimpan kimchi di wadah kedap udara agar tidak cepat busuk

Cara Simpan Kimchi agar Awet dan Tidak Cepat Asam

Karena merupakan makanan “hidup”, cara penyimpanan kimchi sangat menentukan kualitas akhirnya.

1. Gunakan Wadah Kedap Udara

Pilih toples kaca atau wadah plastik food grade yang tertutup rapat.

2. Simpan pada Suhu 0–4°C

Suhu dingin memperlambat aktivitas bakteri asam laktat sehingga rasa asam berkembang lebih lambat.

3. Simpan di Rak Dalam Kulkas

Hindari meletakkan kimchi di pintu kulkas karena suhunya sering berubah.

4. Gunakan Alat yang Bersih dan Kering

Hindari mengambil kimchi menggunakan sumpit atau sendok bekas makan untuk mencegah kontaminasi silang.

Jika disimpan dengan benar, kimchi dapat bertahan selama 3–6 bulan, bahkan beberapa jenis tradisional bisa bertahan lebih lama.

Ciri Kimchi yang Sudah Tidak Layak Konsumsi

Penting untuk membedakan antara kimchi yang “matang” dan kimchi yang benar-benar rusak.

Masih Aman Dikonsumsi:

  • Rasanya semakin asam
  • Muncul sedikit gelembung gas
  • Warna sedikit lebih gelap
  • Aroma fermentasi lebih kuat

Sudah Tidak Layak Konsumsi:

  • Muncul jamur berbulu putih, hijau, atau hitam
  • Tekstur menjadi sangat berlendir dan hancur
  • Aroma busuk menyengat atau tengik
  • Rasa pahit yang tidak biasa
  • Cairan berubah sangat keruh dan kental

Kesimpulan

Jadi, kimchi makin lama makin enak memang merupakan fakta ilmiah karena proses fermentasi terus menghasilkan rasa asam, gurih, dan aroma yang lebih kompleks. Namun, ada batas optimal fermentasi sebelum kualitasnya mulai menurun.

Selama disimpan dalam wadah kedap udara pada suhu dingin yang stabil, kimchi bukan hanya dapat bertahan selama berbulan-bulan, tetapi juga terus mengalami perkembangan cita rasa yang unik. Namun, jika sudah muncul jamur berbulu, lendir berlebihan, atau bau busuk yang menyimpang, jangan ragu untuk membuangnya demi keamanan pangan keluarga.

Nah, kamu sekarang sudah paham sains di balik fermentasi kimchi. Jangan lupa save dan share artikel ini ke temanmu yang penggemar makanan Korea, ya!

Referensi:

Alifidia Alim, S. M., & Palupi, K. S. (2025). Review Literatur: Perkembangan Metode Fermentasi Kimchi. Jurnal Agroindustri Pangan, 4(2), 83-102.

Akyuni, Q., Putri, F. R., Annisa, N., & Pevria, R. (2022). Pembuatan Kimchi Berbahan Dasar Sawi Putih (Brassica pekinensia L.). Prosiding SEMNAS BIO UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 492-498.

Enjelly., Radhifah., Fauzia, S. H., & Fevria, R. (2022). Peranan Fermentasi dalam Proses Pembuatan Kimchi Sawi Putih (Brassica chinensis L.) dan Mentimun (Cucumis sativus L.). Prosiding SEMNAS BIO UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 471-476.

Firanisa, R. A., Yumna, A., & Olland, M. D. (2024). Pengaruh Lama Fermentasi Kimchi terhadap Karakteristik Sensori berdasarkan Selera Orang Indonesia. Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(4), 22-27.

Handayani, I. (2023). Review Literatur: Pengaruh Konsentrasi Garam Terhadap Hasil Fermentasi Brassica juncea L. Untuk Pembuatan Kimchi. Biocaster: Jurnal Kajian Biologi, 3(1), 46-52.

Kharisma, V., Oktavia, F., Irawan, A. Y., Maharani, A. D., Achyar, A., & Anggriyani, R. (2022). Pengujian Organoleptik Kimchi Berbahan Baku Buah Bengkuang (Pachyrhizus erosus L.) Berdasarkan Lama Waktu Fermentasi. Prosiding SEMNAS BIO UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 372-380.

Kwon, D. Y., Chung, K. R., Lee, C. H., Kim, S. H., Daily, J. W., & Park, S. (2025). Scientific knowledge and wisdom of kimchi: a blessing Korean. Journal of Ethnic Foods, 12(8), 1-11.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top