Hemp Protein, Benarkah Dibuat dari Biji Tanaman Ganja?

hemp protein

Hemp protein mulai banyak digunakan sebagai salah satu sumber protein nabati dalam protein powder. Namun, namanya sering menimbulkan pertanyaan karena hemp berasal dari Cannabis sativa L., spesies tanaman yang juga mencakup varietas cannabis yang digunakan untuk menghasilkan ganja.

Lantas, apakah hemp protein benar-benar dibuat dari biji tanaman yang sama dengan ganja? Jika berasal dari kelompok tanaman yang sama, apakah THC juga menjadi bagian dari hemp protein? Dan bagaimana sebenarnya biji hemp diolah hingga menjadi bubuk protein?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu melihat lebih jauh perbedaan antara hemp dan ganja, termasuk karakteristik tanaman, kandungan senyawa di dalamnya, serta proses pengolahan biji hemp menjadi protein powder.

Apa Itu Hemp Protein?

Hemp protein merupakan sumber protein nabati yang berasal dari biji tanaman hemp. Biji hemp yang telah dikupas, atau dikenal sebagai hemp hearts, mengandung berbagai zat gizi dan dapat menyediakan sekitar 10 gram protein dalam setiap 30 gram sajian.

Di pasaran, hemp protein tersedia dalam beberapa bentuk, seperti tepung hemp (hemp flour/meal), konsentrat protein hemp (hemp protein concentrate), dan isolat protein hemp (hemp protein isolate). Produk-produk tersebut dapat digunakan sebagai bahan dalam berbagai pangan, termasuk susu nabati, roti, emulsi pangan, hingga produk analog daging.

Hemp protein umumnya memiliki warna kehijauan hingga kecokelatan dengan cita rasa khas yang menyerupai kacang (nutty) atau sedikit earthy. Bahan ini juga secara alami memiliki kadar gluten yang sangat rendah, sehingga dapat menjadi salah satu pilihan bahan pangan bagi konsumen yang perlu menghindari gluten.

Apakah Hemp Berasal dari Tanaman Cannabis sativa?

Secara taksonomi, hemp dan ganja memang masih berada dalam spesies yang sama, yaitu Cannabis sativa L.. Namun, hemp industri dan ganja yang digunakan untuk tujuan psikoaktif berasal dari kelompok tanaman yang berbeda karena telah mengalami seleksi dan domestikasi untuk tujuan penggunaan yang berbeda.

Hemp industri dibudidayakan untuk berbagai kebutuhan, seperti serat tekstil, kertas, bahan bangunan, serta biji yang dapat diolah menjadi minyak dan protein pangan. Sementara itu, varietas cannabis tipe obat atau rekreasi lebih dikenal karena kandungan kanabinoid psikoaktifnya.

Perbedaan tersebut juga terlihat pada karakteristik genetik dan kemampuan tanaman dalam menghasilkan kanabinoid. Hemp industri secara umum memiliki kadar kanabinoid psikoaktif yang jauh lebih rendah dibandingkan cannabis tipe obat, sehingga penggunaannya sebagai bahan pangan dan industri memiliki karakteristik yang berbeda.

Jadi, meskipun hemp dan ganja memiliki hubungan botani yang erat, keduanya tidak dapat disamakan begitu saja. Untuk memahami apakah hemp protein berkaitan dengan THC, pembahasannya perlu melihat lebih jauh kandungan senyawa pada biji hemp serta bagaimana bahan tersebut diproses menjadi protein powder.

cannabis sativa

Apakah Biji Hemp Mengandung THC?

Tetrahydrocannabinol (Δ9-THC) merupakan salah satu kanabinoid yang dikenal karena efek psikoaktifnya. Karena hemp masih termasuk dalam kelompok Cannabis sativa, keberadaan THC pada bahan pangan berbasis hemp tentu menjadi salah satu hal yang menarik untuk dibahas.

Secara alami, biji hemp bagian dalam bukan tempat tanaman memproduksi dan mengakumulasi THC. Kanabinoid seperti THC dan CBD terutama diproduksi pada trikoma kelenjar yang banyak terdapat di bagian bunga dan daun tanaman. Namun, biji dapat terkena residu kanabinoid ketika bersentuhan dengan bagian tanaman tersebut selama proses panen dan pengolahan.

Artinya, persoalannya bukan karena THC sengaja ditambahkan ke dalam biji hemp, melainkan karena kontaminasi selama proses produksi dapat meninggalkan jejak THC pada bahan yang berasal dari biji. Karena itu, produk pangan berbasis hemp tetap perlu memenuhi standar keamanan dan batas kontaminan yang berlaku di masing-masing negara.

Di Uni Eropa, misalnya, regulasi menetapkan batas maksimum 3 mg/kg untuk biji hemp serta produk olahan dari biji, termasuk biji yang digiling dan sebagian dihilangkan lemaknya. Untuk minyak biji hemp, batasnya lebih tinggi, yaitu 7,5 mg/kg. Nilai tersebut dihitung sebagai ekuivalen THC, yaitu gabungan Δ9-THC dan Δ9-THCA dengan faktor konversi tertentu.

Dengan demikian, keberadaan jejak THC pada produk berbasis biji hemp tidak serta-merta berarti produk tersebut memiliki efek memabukkan. Yang menjadi perhatian utama adalah kadar THC aktual dan kepatuhannya terhadap standar keamanan pangan.

Bagaimana Biji Hemp Diolah Menjadi Hemp Protein?

Untuk menghasilkan hemp protein, biji hemp tidak langsung digiling menjadi bubuk protein. Biji terlebih dahulu melalui beberapa tahap pengolahan untuk memisahkan bagian yang tidak diperlukan dan meningkatkan konsentrasi proteinnya.

1. Pembersihan dan Pengupasan (Dehulling)

Biji hemp dibersihkan terlebih dahulu untuk menghilangkan kotoran dan material asing. Selanjutnya, bagian cangkang (hull) dipisahkan dari inti biji yang disebut hemp hearts.

Tahap ini penting karena cangkang mengandung banyak serat, sedangkan bagian inti memiliki konsentrasi protein dan lemak yang lebih tinggi. Dengan memisahkan keduanya, bahan yang akan diproses selanjutnya dapat lebih mudah dikendalikan komposisinya.

2. Pemisahan Minyak (Defatting)

Hemp hearts kemudian dapat melalui proses pengepresan untuk mengeluarkan sebagian besar minyaknya. Salah satu metode yang digunakan adalah cold pressing, yaitu pengepresan pada suhu relatif rendah untuk membantu mempertahankan kualitas minyak dan protein.

Setelah minyak dipisahkan, tersisa padatan yang disebut defatted hemp meal atau hemp cake. Bahan inilah yang menjadi bahan dasar untuk menghasilkan bubuk hemp protein.

3. Penggilingan dan Pemurnian

Padatan sisa pengepresan kemudian dikeringkan dan digiling menjadi bubuk. Tingkat pemrosesan selanjutnya menentukan apakah produk akhirnya dikategorikan sebagai tepung, konsentrat, atau isolat protein hemp.

Secara umum, semakin banyak komponen non-protein yang dipisahkan, semakin tinggi pula konsentrasi protein pada produk akhirnya.

Apa Perbedaan Tepung, Konsentrat, dan Isolat Hemp Protein?

  • Hemp flour/meal: berasal dari padatan biji yang sebagian besar minyaknya telah dipisahkan. Kandungan protein umumnya masih moderat dan seratnya relatif tinggi.
  • Hemp protein concentrate (HPC): mengalami pemisahan lebih lanjut untuk mengurangi sebagian komponen non-protein sehingga konsentrasi proteinnya meningkat.
  • Hemp protein isolate (HPI): mengalami proses pemurnian paling lanjut untuk menghasilkan konsentrasi protein yang jauh lebih tinggi dibandingkan tepung atau meal.

Pada proses isolasi, salah satu metode yang dapat digunakan adalah ekstraksi alkali dan presipitasi isoelektrik. Metode lain memanfaatkan ekstraksi garam yang dikombinasikan dengan ultrafiltrasi untuk memisahkan fraksi protein secara lebih selektif.

Jadi, hemp protein yang berada dalam bentuk bubuk bukan sekadar biji hemp yang dihaluskan. Bahan ini merupakan hasil dari serangkaian proses pemisahan yang bertujuan mengurangi minyak, serat, dan komponen non-protein lainnya sehingga fraksi proteinnya menjadi lebih terkonsentrasi.

Berapa Kandungan Protein Hemp Protein?

Kandungan protein pada produk berbahan hemp bisa berbeda cukup jauh, tergantung pada proses pengolahannya. Semakin banyak lemak, serat, dan komponen non-protein lainnya yang dipisahkan, semakin tinggi pula konsentrasi protein dalam produk akhirnya.

Berikut perbandingan kandungan protein berbagai produk berbahan hemp:

Jenis ProdukKandungan Protein (% Berat Kering)Karakteristik Utama
Biji Hemp Utuh (Whole Seeds)20–25%Tinggi lemak tak jenuh omega-3 dan omega-6 serta serat
Biji Hemp Kupas (Hemp Hearts)30–36%Tinggi lemak, rendah serat, dan bertekstur lebih lembut
Tepung Hemp (Hemp Seed Meal)40–60%Lebih tinggi protein setelah sebagian minyak dipisahkan, tetapi masih kaya serat
Konsentrat Protein Hemp (HPC)50–70%Konsentrasi protein lebih tinggi, dengan sebagian komponen non-protein masih dipertahankan
Isolat Protein Hemp (HPI)80–95%Konsentrasi protein paling tinggi, dengan kandungan lemak dan serat yang lebih rendah

Perbedaan ini menunjukkan bahwa biji hemp dan hemp protein tidak dapat dianggap sebagai bahan yang sama. Biji hemp utuh masih mengandung banyak lemak dan serat, sedangkan proses defatting dan pemurnian dapat meningkatkan konsentrasi protein secara signifikan.

Karena itu, saat membeli produk hemp protein, jangan hanya melihat nama “hemp” pada kemasan. Periksa juga jenis produknya dan kandungan protein per sajian, karena tepung hemp dan isolat protein hemp dapat memiliki konsentrasi protein yang sangat berbeda.

Bagaimana Kualitas Protein Hemp?

Kualitas protein tidak hanya ditentukan oleh jumlah proteinnya, tetapi juga oleh kelengkapan asam amino esensial serta seberapa baik protein tersebut dicerna dan dimanfaatkan tubuh.

Hemp protein mengandung kesembilan asam amino esensial sehingga termasuk protein lengkap (complete protein), tetapi memiliki satu kelemahan utama, yaitu kandungan lisin yang relatif rendah.

Hemp protein terutama tersusun atas protein penyimpanan edestin dan 2S albumin. Kedua jenis protein ini relatif mudah dipecah oleh enzim pencernaan, sementara kandungan beberapa senyawa antinutrisi, seperti asam fitat dan inhibitor tripsin, relatif rendah dibandingkan beberapa jenis kacang-kacangan lainnya.

Bagaimana Nilai Kualitas Protein Hemp?

Kualitas protein dapat dinilai menggunakan beberapa metode, termasuk PDCAAS dan DIAAS. Keduanya mempertimbangkan komposisi asam amino esensial dan kemampuan tubuh mencerna serta memanfaatkannya.

  • PDCAAS (Protein Digestibility-Corrected Amino Acid Score): metode ini memberikan skor maksimal 1,00. Hemp protein memiliki skor sekitar 0,46–0,51 pada tepung atau ampas kasar dan meningkat menjadi sekitar 0,63–0,66 pada produk dari biji hemp yang telah dikupas. Sebagai perbandingan, isolat protein kedelai memiliki skor 1,00, sedangkan protein kacang polong berada di kisaran 0,80–0,90.
  • DIAAS (Digestible Indispensable Amino Acid Score): metode ini menilai kecernaan masing-masing asam amino esensial dan tidak memiliki batas skor maksimal 1,00. Protein hemp murni memiliki skor sekitar 54–60, lebih rendah dibandingkan whey, kedelai, dan kacang polong.

Rendahnya skor tersebut terutama berkaitan dengan kandungan lisin yang menjadi asam amino pembatas. Artinya, hemp memang menyediakan semua asam amino esensial, tetapi jumlah salah satunya belum cukup optimal jika dibandingkan dengan kebutuhan tubuh.

Pengolahan juga dapat memengaruhi kecernaan protein hemp. Penghilangan kulit biji dapat meningkatkan kecernaan in vitro dari sekitar 84% pada biji utuh menjadi lebih dari 88–92% pada biji kupas atau isolat, salah satunya karena sebagian besar serat kasar yang dapat menghambat akses enzim terhadap protein telah dipisahkan.

Apa Manfaat Hemp Protein?

Meskipun kualitas proteinnya tidak setara dengan beberapa sumber protein seperti whey atau kedelai, hemp protein memiliki keunggulan lain. Bahan ini tidak hanya menyediakan protein, tetapi juga dapat membawa berbagai komponen gizi dan senyawa bioaktif, terutama pada produk yang masih mempertahankan sebagian komponen alami bijinya.

1. Mendukung Pemeliharaan Massa Otot

Hemp protein menyediakan BCAA (Branched-Chain Amino Acids), termasuk leusin, isoleusin, dan valin yang berperan dalam metabolisme dan fungsi otot. Jika dikombinasikan dengan latihan beban dan asupan protein yang cukup, hemp protein dapat menjadi salah satu sumber protein untuk mendukung pemeliharaan serta pemulihan otot.

Namun, kandungan lisin yang relatif rendah membuat hemp protein kurang optimal jika dijadikan satu-satunya sumber protein untuk tujuan pembentukan otot.

2. Mengandung L-Arginin

Salah satu karakteristik hemp protein adalah kandungan L-arginin yang relatif tinggi. Asam amino ini merupakan prekursor pembentukan nitric oxide (NO), molekul yang berperan dalam relaksasi pembuluh darah.

Karena itu, kandungan arginin menjadi salah satu komponen yang membuat hemp menarik untuk diteliti dalam kaitannya dengan kesehatan kardiovaskular.

3. Menyediakan Lemak Esensial pada Produk yang Tidak Terlalu Dimurnikan

Pada produk hemp yang masih mempertahankan sebagian fraksi lemak, bijinya menyediakan asam lemak esensial omega-6 dan omega-3. Hemp juga mengandung vitamin E dalam bentuk tokoferol yang berperan sebagai antioksidan.

Namun, karakteristik ini lebih relevan pada biji hemp, hemp hearts, atau produk hemp yang masih mengandung lemak, bukan pada isolat protein yang telah mengalami pemurnian lebih lanjut.

4. Mengandung Peptida Bioaktif

Protein hemp juga dapat menghasilkan berbagai peptida bioaktif ketika dipecah melalui proses hidrolisis. Beberapa penelitian telah mengeksplorasi potensi peptida tersebut dalam kaitannya dengan aktivitas antioksidan, respons inflamasi, dan pemulihan setelah aktivitas fisik.

Meski demikian, sebagian besar temuan mengenai efek spesifik peptida hemp masih berasal dari penelitian in vitro atau model eksperimental, sehingga tidak dapat langsung disamakan dengan efek klinis pada manusia.

5. Membantu Rasa Kenyang

Kandungan protein pada hemp dapat membantu memberikan rasa kenyang sebagai bagian dari pola makan secara keseluruhan. Pada produk yang masih mengandung serat, kombinasi protein dan serat juga dapat memperlambat proses pencernaan dan membantu mengontrol respons gula darah setelah makan.

Karena itu, hemp protein dapat menjadi salah satu pilihan bagi orang yang ingin menambah asupan protein sekaligus mendapatkan komponen gizi lain dari bahan nabati. Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada jenis produk hemp yang dikonsumsi, jumlahnya, dan keseluruhan pola makan.

Apa yang Perlu Diperhatikan saat Mengonsumsi Hemp Protein?

1. Periksa Jenis Produk dan Kandungan Proteinnya

Tidak semua produk berbahan hemp memiliki konsentrasi protein yang sama. Hemp seed meal atau tepung hemp masih mengandung cukup banyak serat dan komponen lain, sehingga kandungan proteinnya jauh lebih rendah dibandingkan isolat protein hemp.

Karena itu, periksa kandungan protein per sajian, daftar bahan, serta jumlah gula dan bahan tambahan pada label sebelum membeli.

2. Perhatikan Keamanan dan Kualitas Produk

Produk hemp protein sebaiknya berasal dari produsen yang jelas dan memiliki pengujian keamanan yang memadai. Pemeriksaan terhadap kontaminan, termasuk logam berat, juga penting terutama untuk produk yang dikonsumsi secara rutin.

3. Perhatikan Kondisi Pencernaan

Beberapa produk hemp masih mengandung serat dalam jumlah cukup tinggi. Bagi orang yang belum terbiasa mengonsumsi banyak serat, peningkatan porsinya secara tiba-tiba dapat menyebabkan kembung, gas, atau rasa tidak nyaman di perut.

Karena itu, konsumsi dapat dimulai dari porsi kecil dan ditingkatkan secara bertahap sesuai toleransi tubuh.

4. Tetap Jadikan Pelengkap, Bukan Pengganti Makanan

Hemp protein dapat membantu memenuhi kebutuhan protein harian, tetapi sebaiknya tidak menggantikan seluruh sumber makanan dalam pola makan. Makanan utuh tetap menyediakan berbagai vitamin, mineral, serat, lemak, dan senyawa bioaktif yang tidak selalu terdapat dalam bubuk protein.

Bagaimana dengan Regulasi Hemp di Indonesia?

Ini merupakan hal yang sangat penting bagi konsumen Indonesia. UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika memasukkan tanaman dari genus Cannabis beserta seluruh bagiannya, termasuk biji dan hasil olahannya, ke dalam Narkotika Golongan I.

Selain itu, BPOM menyatakan bahwa THC dilarang digunakan sebagai bahan baku pangan di Indonesia dan produk pangan yang mengandung THC tidak akan diberikan izin edar.

Karena itu, status legal hemp protein di Indonesia tidak dapat disamakan dengan negara yang telah memiliki regulasi khusus untuk industrial hemp. Konsumen sebaiknya tidak menganggap produk hemp yang legal di luar negeri otomatis legal untuk diimpor, dijual, atau dikonsumsi secara komersial di Indonesia.

Kesimpulan

Hemp protein merupakan sumber protein nabati yang menyediakan semua asam amino esensial, tetapi kandungan lisin yang relatif rendah membuat kualitas proteinnya berada di bawah beberapa sumber nabati seperti soy isolate.

Di sisi lain, hemp memiliki keunggulan karena masih dapat membawa serat, lemak tak jenuh, dan L-arginin, terutama pada produk yang tidak dimurnikan sepenuhnya. Hemp protein juga dapat digunakan sebagai bagian dari protein blend untuk melengkapi sumber protein nabati lainnya.

Namun, bagi konsumen di Indonesia, aspek regulasi perlu menjadi pertimbangan utama karena tanaman genus Cannabis dan hasil olahannya masih termasuk dalam ketentuan Narkotika Golongan I, sementara BPOM melarang penggunaan THC sebagai bahan baku pangan.

Referensi:

Banskota, A. H. et al. (2022). Biochemical Characterization and In Vitro Digestibility of Protein Isolates from Hemp (Cannabis sativa L.) By-Products for Salmonid Feed Applications. Molecules, 27(15), 4794. https://doi.org/10.3390/molecules27154794

Cabral, E. M. et al. (2023). Recovery of Protein from Industrial Hemp Waste (Cannabis sativa, L.) Using High-Pressure Processing and Ultrasound Technologies. Foods, 12(15), 2883. https://doi.org/10.3390/foods12152883

House, J. D. et al. (2010). Evaluating the Quality of Protein from Hemp Seed (Cannabis sativa L.) Products through the Use of the Protein Digestibility-Corrected Amino Acid Score Method. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 58(22), 11801–11807. https://doi.org/10.1021/jf102636b

Tang, C.-H. et al. (2006). Physicochemical and Functional Properties of Hemp (Cannabis sativa L.) Protein Isolate. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 54(24), 8945–8950. https://doi.org/10.1021/jf0619176

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top