
Beras porang semakin populer sebagai alternatif nasi yang dianggap lebih sehat, terutama untuk kamu yang ingin menjaga gula darah atau menurunkan berat badan.
Beras putih memang sudah jadi makanan pokok sehari-hari. Namun, kandungan seratnya rendah dan indeks glikemiknya tinggi, sehingga bisa memicu kenaikan gula darah lebih cepat.
Di sisi lain, beras porang mengandung glukomanan, yaitu serat larut yang mampu membentuk gel di dalam saluran pencernaan. Efeknya, penyerapan gula jadi lebih lambat dan rasa kenyang bisa bertahan lebih lama.
Meski begitu, bukan berarti beras biasa sepenuhnya buruk dan beras porang sepenuhnya lebih baik. Kita tetap harus bijak dalam mengonsumsi beras porang untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan.
Apa Itu Beras Porang?
Beras porang adalah beras analog atau beras tiruan yang dibuat dari umbi porang (Amorphophallus muelleri) yang telah melalui proses pengolahan.
Umbi porang mentah tidak bisa langsung dikonsumsi karena mengandung zat yang dapat menimbulkan rasa gatal dan iritasi. Oleh karena itu, umbi ini perlu diolah terlebih dahulu menjadi tepung agar aman untuk dimakan.
Setelah menjadi tepung, porang akan diproses kembali dengan mencampurkannya bersama bahan lain seperti tepung jagung atau mocaf. Adonan tersebut kemudian dicetak menggunakan mesin hingga membentuk butiran kecil yang menyerupai beras.
Secara tampilan, beras porang terlihat mirip dengan beras biasa. Namun, kandungannya sangat berbeda karena didominasi oleh serat larut yang disebut glukomanan. Kandungan ini dikenal baik untuk kesehatan pencernaan dan dapat membantu kamu merasa kenyang lebih lama.
Kandungan Nutrisi Beras Porang vs Beras Biasa
Perbedaan antara beras porang dan beras putih cukup jelas, terutama jika dilihat dari kalori, karbohidrat, dan kandungan seratnya.
Kalori
Beras putih mengandung sekitar 112 hingga 130 kalori per 100 gram nasi matang.
Sementara itu, beras porang jauh lebih rendah, yaitu hanya sekitar 10 hingga 50 kalori. Ini membuatnya cocok untuk kamu yang ingin mengurangi asupan energi harian.
Karbohidrat dan Serat
Beras putih dikenal tinggi karbohidrat tetapi rendah serat.
Sebaliknya, beras porang memiliki kandungan karbohidrat yang lebih rendah dan justru kaya serat, terutama serat larut yang baik untuk pencernaan.
Indeks Glikemik
Beras putih termasuk dalam kategori indeks glikemik tinggi, yang berarti dapat meningkatkan gula darah dengan cepat.
Sedangkan beras porang memiliki indeks glikemik rendah, sehingga lebih aman untuk membantu menjaga kestabilan gula darah.
Selain itu, beras porang juga tidak mengandung gluten, sehingga bisa menjadi pilih.
Manfaat Beras Porang
Sebagian besar manfaat beras porang berasal dari kandungan glukomanan, yaitu serat larut yang berperan penting dalam sistem pencernaan. Berikut beberapa manfaat dari konsumsi beras porang sebagai alternatif penggani nasi:
Menjaga Gula Darah Tetap Stabil
Glukomanan membantu memperlambat penyerapan gula setelah makan, sehingga lonjakan gula darah bisa lebih terkontrol. Ini sangat bermanfaat terutama untuk kamu yang ingin menjaga kadar gula darah tetap stabil.
Membantu Menurunkan Kolesterol
Kandungan seratnya dapat mengikat kolesterol di dalam saluran pencernaan, lalu membuangnya keluar dari tubuh. Proses ini membantu menurunkan kadar kolesterol, khususnya kolesterol jahat.
Mendukung Kesehatan Pencernaan
Beras porang juga berfungsi sebagai prebiotik, yaitu makanan bagi bakteri baik di usus. Dengan begitu, keseimbangan mikrobiota usus tetap terjaga dan sistem pencernaan bisa bekerja lebih optimal.
Apakah Beras Porang Cocok untuk Diet?
Jawabannya, ya. Beras porang bisa menjadi pilihan tepat untuk kamu yang ingin menurunkan berat badan atau menjaga pola makan tetap terkontrol. Kandungan seratnya membantu tubuh merasa lebih nyaman saat mengurangi asupan kalori.
Membuat Perut Cepat Terasa Penuh
Glukomanan dalam beras porang dapat menyerap air dalam jumlah besar dan mengembang di dalam lambung. Proses ini membuat perut terasa penuh lebih cepat, sehingga kamu cenderung makan lebih sedikit.
Membantu Mengontrol Nafsu Makan
Setelah dikonsumsi, beras porang dapat merangsang tubuh untuk meningkatkan hormon yang memberi sinyal kenyang, sekaligus menekan hormon pemicu rasa lapar. Akibatnya, keinginan untuk makan berlebihan bisa lebih terkendali.
Menjaga Energi Lebih Stabil
Beras porang dicerna lebih lambat, sehingga energi dilepaskan secara bertahap. Ini membantu mencegah penurunan gula darah secara tiba-tiba yang biasanya memicu rasa lapar dan keinginan untuk ngemil.
Dengan efek tersebut, beras porang tidak hanya membantu mengurangi asupan kalori, tetapi juga membuat pola makan jadi lebih terkontrol tanpa terasa terlalu membatasi.
Apakah Aman Dikonsumsi Setiap Hari?
Beras porang umumnya aman dikonsumsi setiap hari, selama kamu mengolah dan mengonsumsinya dengan cara yang tepat.
Agar tetap nyaman dan aman, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan:
Pastikan Sudah Matang Sempurna
Beras porang harus terhidrasi dengan baik sebelum dikonsumsi. Jika masih kering atau kurang air, butirannya bisa terus menyerap cairan dan berisiko mengembang di kerongkongan.
Perbanyak Minum Air
Saat mengonsumsi beras porang, kamu dianjurkan untuk minum air yang cukup. Kandungan glukomanan dalam beras porang menyerap banyak air di dalam pencernaan. Jika asupan cairan kurang, hal ini bisa menyebabkan rasa tidak nyaman seperti sembelit atau perut terasa penuh berlebihan.
Mulai dari Porsi Kecil
Jika baru pertama kali mencoba, sebaiknya konsumsi secara bertahap. Ini membantu tubuh beradaptasi dan mengurangi kemungkinan kembung atau gas berlebih.
Perhatikan Jeda dengan Obat
Sebaiknya beri jarak waktu antara konsumsi beras porang dan obat, karena seratnya dapat memengaruhi penyerapan obat di dalam tubuh.
Baca juga: Apakah Benar Micin Lebih Sehat dari Garam? Ini Faktanya
Cara Menyajikan Beras Porang

Beras porang tidak dimasak seperti nasi biasa. Karena sudah melalui proses pemanasan di pabrik, kamu hanya perlu menghidrasi ulang menggunakan air panas agar teksturnya kembali pulen.
Takaran Saji
Satu porsi umumnya sekitar 40 sampai 50 gram beras porang kering, atau setara dengan 4 sampai 5 sendok makan.
Perlu Dicuci atau Tidak?
Untuk beras porang kering berbentuk butiran, kamu tidak perlu mencucinya karena sudah diproses secara higienis. Mencuci dengan air justru bisa membuat permukaannya menggumpal.
Namun, jika kamu menggunakan beras konjak basah seperti shirataki rice, sebaiknya dibilas dengan air mengalir selama kurang lebih 1 menit untuk menghilangkan aroma dari cairan kemasannya.
Cara Menyajikan dengan Metode Seduh
- Masukkan beras porang ke dalam wadah tahan panas
- Tuangkan air yang benar benar mendidih
- Gunakan perbandingan sekitar 1 banding 1,2 sampai 1 banding 1,5
- Tutup wadah dan diamkan selama 15 sampai 20 menit
- Setelah air terserap, aduk perlahan agar teksturnya lebih pulen
Pastikan kamu menggunakan air mendidih, bukan air hangat, agar bagian dalam butiran bisa matang dengan sempurna dan tidak terasa keras.
Cara Menyajikan Shirataki Basah
Setelah dibilas, panaskan beras di wajan tanpa minyak selama 5 sampai 8 menit. Proses ini membantu mengurangi kadar air dan membuat teksturnya lebih padat, sehingga lebih mirip nasi pada umumnya.
Kesimpulan
Beras porang bisa menjadi pilihan yang lebih sehat dibanding beras putih, terutama untuk kamu yang ingin menjaga gula darah atau menurunkan berat badan.
Dengan kandungan kalori yang rendah dan serat tinggi, beras ini memberikan rasa kenyang lebih lama sekaligus membantu kesehatan pencernaan.
Beras porang aman dikonsumsi setiap asalkan diseduh dengan rasio air mendidih yang tepat agar terhidrasi sempurna. Karena kandungan serat yang cukup tinggi, pastikan tubuh terhidrasi optimal saat mengonsumsi beras porang untuk menghindari sembelit.
Referensi:
Akhmad, A. R., et al. (2025). Formulation and Characterization of Analogue Rice from Rice, Arrowroot, and Porang Flours Using the Mixture Optimal Custom Design Method. Trends in Sciences.
Analisis Komprehensif Beras Porang (Amorphophallus muelleri): Tinjauan Multidisipliner terhadap Fisikokimia, Dinamika Nutrisi, dan Efikasi Klinis sebagai Pangan Fungsional Modern.
Faizal, S., et al. (2022). The Effect of Porang-Processed Rice (Amorphophallus muelleri) on LDL and HDL Levels in DM-Diagnosed Patients. International Journal of Pharmaceutical and Bio-Medical Science.
Jain A., et al. (2025). Amorphophallus konjac: traditional uses, bioactive potential, and emerging health applications. Frontiers in Plant Science.


