
Di tengah meningkatnya kesadaran untuk menjaga pola makan, banyak orang mulai mengurangi konsumsi gula. Meski begitu, keinginan untuk tetap menikmati rasa manis sering kali membuat perubahan ini tidak mudah dilakukan.
Karena itu, berbagai alternatif pemanis mulai banyak digunakan, salah satunya adalah stevia. Pemanis alami ini dikenal memiliki rasa manis yang kuat tanpa memberikan tambahan kalori seperti gula pada umumnya.
Namun, sebelum kamu memutuskan untuk menggunakannya dalam pola makan sehari hari, penting untuk memahami apa itu stevia serta melihat kelebihan dan kekurangannya sebagai pengganti gula.
Apa Itu Stevia?
Stevia adalah pemanis alami tanpa kalori yang berasal dari ekstrak tanaman semak Stevia rebaudiana Bertoni. Tanaman ini termasuk dalam keluarga Asteraceae dan secara alami tumbuh di wilayah Amerika Selatan, khususnya Paraguay dan Brasil. Sejak dulu, masyarakat setempat sudah menggunakan daun stevia sebagai pemanis alami untuk berbagai kebutuhan, termasuk minuman herbal.
Rasa manis pada stevia berasal dari senyawa alami yang disebut glikosida steviol. Komponen utamanya adalah steviosida dan rebaudiosida A. Senyawa ini memiliki tingkat kemanisan yang sangat tinggi, bahkan bisa mencapai hingga sekitar 300 kali lebih manis dibandingkan gula tebu biasa. Karena itu, kamu hanya perlu menggunakan sedikit stevia untuk mendapatkan rasa manis.
Di dalam tubuh, cara kerja stevia berbeda dengan gula. Senyawa dalam stevia tidak dicerna seperti karbohidrat biasa di lambung. Sebaliknya, senyawa ini akan diolah oleh bakteri baik di usus besar, lalu dikeluarkan dari tubuh. Itulah alasan mengapa stevia tidak memberikan tambahan kalori saat kamu mengonsumsinya.
Apa Kelebihan Stevia Dibanding Gula Biasa?
Sebagai alternatif dari gula pasir, stevia punya beberapa kelebihan yang membuatnya banyak dipilih dalam pola makan sehari hari.
Tidak mengandung kalori dan tidak menaikkan gula darah
Stevia tidak menyumbangkan kalori dan tidak menyebabkan lonjakan gula darah seperti gula biasa. Karena itu, stevia sering digunakan oleh kamu yang ingin mengurangi asupan gula atau menjaga kadar gula darah tetap stabil.
Lebih ramah untuk kesehatan gigi
Gula mudah diolah oleh bakteri di mulut menjadi asam yang bisa merusak gigi. Berbeda dengan itu, stevia tidak dimanfaatkan oleh bakteri mulut, sehingga risiko kerusakan gigi dan gigi berlubang bisa lebih rendah.
Berpotensi membantu menjaga tekanan darah
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kandungan dalam stevia dapat membantu menurunkan tekanan darah. Meski begitu, manfaat ini tetap perlu dilihat sebagai bagian dari pola hidup sehat secara keseluruhan.
Stabil saat dipanaskan
Stevia cukup stabil saat digunakan dalam suhu tinggi. Artinya, kamu tetap bisa menggunakannya untuk memasak atau membuat minuman hangat tanpa mengurangi rasa manisnya.
Berapa Dosis Konsumsi Stevia yang Aman?
Meskipun stevia tergolong aman digunakan, kamu tetap perlu memperhatikan jumlah konsumsinya sesuai anjuran kesehatan. Batas aman konsumsi stevia ditetapkan dalam bentuk Asupan Harian yang Dapat Diterima atau Acceptable Daily Intake. Nilainya adalah sekitar 4 miligram per kilogram berat badan per hari.
Dalam rentang konsumsi wajar, yaitu sekitar 0,1 hingga 4 miligram per kilogram berat badan per hari, stevia masih dianggap aman.
Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa senyawa utama dalam stevia tidak bersifat berbahaya dalam penggunaan normal. Senyawa turunan stevia seperti steviosida dan rebaudiosida A tidak terbukti menyebabkan efek yang merugikan dalam tubuh jika dikonsumsi sesuai batas yang dianjurkan.

Kekurangan Stevia Sebagai Pengganti Gula
Di balik kelebihannya, stevia juga memiliki beberapa hal yang perlu kamu pertimbangkan sebelum menggunakannya dalam pola makan sehari hari.
Ada sisa rasa pahit setelah dikonsumsi
Salah satu keluhan yang paling sering dirasakan adalah munculnya rasa pahit atau sensasi yang kurang nyaman di akhir. Hal ini terjadi karena senyawa dalam stevia bisa memicu reseptor rasa pahit di lidah. Tingkat kepahitan ini bisa berbeda beda, tergantung jenis dan proses pengolahan stevia yang digunakan.
Potensi Genotoksisitas pada Dosis Ekstrem
Beberapa penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa senyawa hasil olahan stevia dapat berpotensi memengaruhi materi genetik jika digunakan dalam jumlah yang sangat tinggi. Oleh karena itu, penting untuk tetap mengonsumsinya sesuai batas yang dianjurkan agar tetap aman untuk tubuh.
Baca juga: Apakah Gula Singkong Lebih Sehat dari Gula Tebu? Ini Faktanya
Stevia Cocok Untuk Siapa?
Berdasarkan cara kerja dan manfaatnya di dalam tubuh, stevia bisa menjadi pilihan yang cocok untuk beberapa kondisi tertentu.
Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2
Stevia tidak meningkatkan kadar gula darah seperti gula biasa. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa stevia dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap lebih stabil dan meningkatkan senisivitas insulin dalam tubuh.
Individu dengan Obesitas
Mengganti gula dengan stevia bisa membantu mengurangi asupan kalori harian. Hal ini dapat mendukung keseimbangan energi dalam tubuh dan membantu proses penurunan atau menjaga berat badan.
Individu dengan tekanan darah tinggi
Beberapa studi menunjukkan bahwa stevia memiliki potensi membantu menurunkan tekanan darah. Karena itu, stevia bisa menjadi alternatif pemanis yang lebih aman untuk kamu yang ingin menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Meski begitu, penggunaan stevia tetap sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan pola makan masing masing.
Kesimpulan
Stevia rebaudiana menjadi salah satu alternatif pengganti gula yang cukup menjanjikan dalam pola makan sehari hari. Selain tidak memberikan tambahan kalori dan lebih ramah untuk kesehatan gigi, stevia juga memiliki potensi membantu menjaga kadar gula darah dan tekanan darah.
Hal ini membuatnya relevan untuk kamu yang ingin mengontrol asupan gula, termasuk pada kondisi seperti diabetes tipe 2 atau kelebihan berat badan.
Dari sisi keamanan, stevia tetap aman dikonsumsi selama digunakan dalam batas yang dianjurkan, yaitu sekitar 4 miligram per kilogram berat badan per hari. Dalam jumlah wajar, penggunaannya tidak menimbulkan efek berbahaya bagi tubuh.
Meski begitu, kamu juga perlu mempertimbangkan sisi rasanya. Stevia bisa meninggalkan sedikit rasa pahit di akhir karena interaksinya dengan reseptor rasa di lidah.
Jika digunakan dengan takaran yang tepat, stevia bisa menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih sehat tanpa harus sepenuhnya menghilangkan rasa manis dalam makanan atau minumanmu.
Referensi:
Dewi, L. P. O. S., & Yustiantara, P. S. (2023). Potensi Stevia (Stevia rebaudiana) sebagai Suplemen Nondiabetik Penunjang Terapi bagi Penderita Diabetes Mellitus Tipe II. Prosiding WORKSHOP DAN SEMINAR NASIONAL FARMASI, 2.
Hellfritsch, C., et al. (2012). Human Psychometric and Taste Receptor Responses to Steviol Glycosides. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 60(27), 6782-6793.
Hermanto, E., et al. (2025). The Effect of Consuming Stevia Liquid Extract (Steviol Glycosides) on Reducing Blood Sugar Levels in Patients With Type 2 Diabetes Mellitus. Jurnal Multidisiplin Sahombu, 5(08).
Limanto, A. (2017). Tinjauan Pustaka Stevia, Pemanis Pengganti Gula dari Tanaman Stevia rebaudiana. Jurnal Kedokteran Meditek, 23(61).
Raini, M., & Isnawati, A. (2011). Kajian: Khasiat dan Keamanan Stevia Sebagai Pemanis Pengganti Gula. Media Litbang Kesehatan, 21(4).


