Bagaimana Cara Membuat Telur Asin Masir? Apakah Harus Telur Bebek?

telur asin masir

Telur asin merupakan salah satu olahan tradisional yang sudah dikenal sejak lama di Indonesia. Selain berfungsi sebagai cara untuk mengawetkan telur agar tahan lebih lama, telur asin juga memiliki cita rasa khas yang membuatnya digemari banyak orang.

Seiring waktu, telur asin bahkan berkembang menjadi produk pangan bernilai ekonomi tinggi dengan berbagai variasi kualitas. Salah satu ciri telur asin yang paling dicari adalah tekstur kuning telur yang “masir”. Tekstur ini dianggap sebagai tanda telur asin berkualitas karena memberikan sensasi gurih, lembut, dan sedikit berminyak saat dimakan.

Di balik tekstur khas tersebut, sebenarnya terdapat proses perubahan alami pada struktur telur selama penggaraman. Proses inilah yang membuat telur segar bisa berubah menjadi telur asin dengan rasa dan tekstur yang berbeda dari telur biasa.

Apa Itu Telur Asin Masir?

Telur asin masir adalah telur asin yang telah mengalami proses penggaraman hingga menghasilkan tekstur kuning telur yang berpasir atau granular setelah dimasak. Selain terasa lebih padat, kuning telur juga biasanya mengeluarkan sedikit minyak, terutama di bagian pinggirnya.

Secara umum, telur asin yang dianggap berkualitas memiliki putih telur yang kenyal dan padat, serta kuning telur berwarna jingga pekat hingga kemerahan. Posisi kuning telurnya juga biasanya berada tepat di tengah dengan tekstur yang masir dan gurih saat dimakan.

Tekstur masir inilah yang membuat telur asin terasa lebih nikmat dan sering menjadi ciri khas telur asin premium.

Kenapa Telur Asin Bisa Menjadi Masir?

Tekstur masir pada telur asin sebenarnya terbentuk melalui proses alami yang cukup kompleks. Saat telur diasinkan, baik dengan cara direndam dalam larutan garam maupun diperam menggunakan campuran abu gosok dan garam, garam akan perlahan masuk ke dalam telur melalui pori-pori cangkangnya.

Selama proses tersebut, garam menarik air keluar dari bagian kuning telur sehingga kadar airnya berkurang. Kondisi ini membuat struktur protein di dalam kuning telur berubah dan mulai menggumpal menjadi butiran-butiran kecil. Butiran inilah yang kemudian menciptakan tekstur “berpasir” atau masir saat telur dimasak.

Selain itu, garam juga membantu memisahkan ikatan antara protein dan lemak pada kuning telur. Akibatnya, sebagian minyak alami dari kuning telur akan keluar dan membuat kuning telur tampak sedikit berminyak, terutama di bagian pinggirnya.

Kombinasi tekstur granular dan keluarnya minyak inilah yang membuat telur asin masir terasa lebih gurih, padat, dan nikmat dibandingkan telur asin biasa.

Faktor yang Mempengaruhi Telur Asin Masir

Tekstur masir pada telur asin tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor penting yang sangat memengaruhi hasil akhir telur asin, mulai dari tingkat kemasiran, rasa, hingga tekstur kuning telurnya.

Konsentrasi Garam

Jumlah garam yang digunakan menjadi salah satu faktor paling penting dalam pembuatan telur asin. Jika konsentrasi garam terlalu rendah, proses pengasinan tidak berjalan optimal sehingga telur lebih mudah rusak dan kuning telurnya sulit menjadi masir.

Sebaliknya, jika garam yang digunakan terlalu banyak, telur bisa menjadi terlalu asin dan teksturnya justru terlalu keras. Karena itu, diperlukan keseimbangan konsentrasi garam agar rasa dan teksturnya tetap pas.

Umur dan Kesegaran Telur

Telur yang segar biasanya menghasilkan telur asin dengan kualitas lebih baik. Idealnya, telur yang digunakan berumur sekitar 1–3 hari setelah ditelurkan.

Telur yang terlalu lama disimpan umumnya memiliki putih telur yang lebih encer dan struktur proteinnya mulai melemah. Kondisi ini dapat memengaruhi proses pengasinan dan membuat tekstur kuning telur menjadi kurang padat serta kurang masir.

Media Pemeraman

Media yang digunakan selama proses pengasinan juga berpengaruh terhadap hasil telur asin. Metode pemeraman menggunakan campuran abu gosok, bubuk bata merah, atau tanah liat yang dicampur garam sering dianggap lebih efektif dibandingkan hanya merendam telur dalam air garam.

Hal ini karena media pasta tersebut mampu menahan dan melepaskan garam secara perlahan sehingga proses penyerapan garam berlangsung lebih stabil. Akibatnya, tekstur kuning telur biasanya menjadi lebih masir dan merata.

Berapa Lama Pemeraman Ideal?

pemeraman telur asin

Lama pemeraman sangat memengaruhi rasa asin dan tingkat kemasiran telur asin. Semakin lama telur diperam, semakin banyak garam yang meresap ke dalam telur sehingga tekstur kuning telur akan semakin padat dan masir.

Secara umum, waktu pemeraman ideal untuk menghasilkan telur asin masir berkisar antara 12–14 hari, dengan batas maksimal sekitar 15 hari. Pada durasi ini, rasa asin biasanya sudah cukup seimbang, putih telur terasa kenyal, dan kuning telurnya menjadi lebih kering, berminyak, serta masir.

Jika pemeraman dilakukan kurang dari 10 hari, bagian tengah kuning telur biasanya belum masir secara merata. Sebaliknya, jika terlalu lama diperam, misalnya lebih dari 21 hari, telur bisa menjadi terlalu asin dan teksturnya terlalu keras.

Karena itu, menentukan lama pemeraman yang tepat menjadi salah satu kunci penting untuk mendapatkan telur asin dengan kualitas terbaik.

Cara Membuat Telur Asin Masir

Agar menghasilkan telur asin yang gurih dan masir, kamu bisa menggunakan metode pemeraman tradisional dengan campuran abu gosok dan garam. Berikut langkah-langkahnya:

1. Pilih dan Bersihkan Telur

Gunakan telur bebek segar dengan kualitas yang baik. Cuci telur hingga bersih, lalu gosok perlahan permukaan cangkang menggunakan amplas halus atau sabut kasar. Langkah ini bertujuan membantu membuka pori-pori cangkang agar garam lebih mudah meresap.

2. Siapkan Adonan Pengasin

Campurkan abu gosok atau bubuk bata merah dengan garam dapur. Perbandingan yang umum digunakan sekitar 2:1 atau sesuai kebutuhan. Setelah itu, tambahkan sedikit air hingga adonan berubah menjadi pasta kental yang mudah dibalurkan.

3. Baluri Telur dengan Adonan

Lapisi seluruh permukaan telur menggunakan adonan pengasin secara merata dengan ketebalan sekitar 1–2 cm agar garam dapat bekerja optimal selama proses pemeraman.

4. Lakukan Pemeraman

Simpan telur yang sudah dibaluri ke dalam wadah tertutup seperti ember plastik atau kuali. Diamkan pada suhu ruang selama sekitar 12–15 hari agar proses pengasinan berjalan sempurna.

5. Bersihkan dan Rebus Telur

Setelah masa pemeraman selesai, bersihkan telur dari sisa adonan lalu rebus hingga matang. Setelah itu, telur asin masir siap disajikan.

Kesalahan yang Membuat Telur Asin Tidak Masir

Dalam proses pembuatan telur asin, hasil kuning telur yang tidak masir biasanya disebabkan oleh beberapa kesalahan umum. Akibatnya, kuning telur tetap lembek, kurang berminyak, atau teksturnya tidak berpasir setelah dimasak.

Berikut beberapa penyebab yang paling sering terjadi:

Konsentrasi Garam Terlalu Rendah

Jika jumlah garam terlalu sedikit, proses penarikan air dari dalam telur tidak berjalan optimal. Akibatnya, struktur protein pada kuning telur tidak berubah sempurna sehingga teksturnya gagal menjadi masir.

Menggunakan Telur yang Kurang Segar

Telur yang sudah terlalu lama disimpan biasanya memiliki putih telur yang lebih encer dan struktur protein yang mulai rusak. Kondisi ini membuat proses pengasinan menjadi kurang maksimal dan hasil kuning telur tidak padat.

Lama Pemeraman Terlalu Singkat

Pemeraman yang terlalu cepat dihentikan juga bisa membuat telur asin gagal masir. Jika diperam kurang dari sekitar 10 hari, garam biasanya belum meresap sempurna hingga ke bagian tengah kuning telur.

Tidak Mengamplas atau Membersihkan Cangkang

Permukaan cangkang telur memiliki lapisan pelindung alami yang dapat menghambat penyerapan garam. Karena itu, telur biasanya perlu digosok atau diamplas halus terlebih dahulu agar pori-porinya lebih terbuka dan garam bisa meresap lebih merata.

Apakah Telur Asin Masir Lebih Sehat?

Dari segi kandungan gizi, telur asin termasuk makanan yang kaya nutrisi. Selama proses pengasinan, kadar air di dalam telur berkurang sehingga beberapa zat gizi menjadi lebih pekat dibandingkan telur bebek segar biasa.

Telur asin masir diketahui mengandung protein, kalsium, vitamin A, beta-karoten, kolin, dan selenium yang cukup tinggi. Nutrisi tersebut berperan penting dalam menjaga kesehatan mata, mendukung fungsi otak, membantu daya tahan tubuh, serta menjaga kesehatan tulang.

Kandungan kalsium pada telur asin juga bisa meningkat selama proses pengasinan karena adanya penyerapan mineral dari media pemeraman seperti abu gosok atau bubuk bata merah.

Meski begitu, telur asin tetap memiliki kandungan natrium atau garam yang cukup tinggi. Karena itu, konsumsi telur asin sebaiknya tidak berlebihan, terutama bagi orang yang memiliki tekanan darah tinggi atau sedang membatasi asupan garam harian.

Agar tetap sehat, telur asin umumnya disarankan dikonsumsi secukupnya, maksimal 2–3 butir per minggu untuk orang dewasa sehat, sambil tetap diimbangi pola makan bergizi seimbang.

Baca juga: Apakah Telur Omega Boleh Dimakan Mentah? Ini Faktanya

Kesimpulan

Tekstur masir pada telur asin terbentuk melalui proses pengasinan yang memengaruhi struktur protein dan lemak di dalam kuning telur. Proses ini membuat kuning telur berubah menjadi lebih padat, berpasir, dan sedikit berminyak setelah dimasak.

Untuk menghasilkan telur asin yang benar-benar masir, penggunaan telur bebek segar menjadi salah satu faktor penting. Kandungan lemaknya yang tinggi serta pori-pori cangkangnya yang lebih besar membuat garam lebih mudah meresap dan membantu menciptakan tekstur kuning telur yang creamy serta gurih.

Selain itu, hasil telur asin juga dipengaruhi oleh media pemeraman, kadar garam, dan lama proses pengasinan. Dengan menggunakan campuran seperti abu gosok atau bubuk bata merah, takaran garam yang seimbang, serta pemeraman sekitar 12–14 hari, kamu bisa menghasilkan telur asin masir yang lezat, gurih, dan kaya nutrisi.

Referensi:

Aurora, A. R., Aini, I. N., Dani, A. R., Herowati, D. I., Aripin, I., & Wulandari, D. (2025). “Analisis Pengaruh Tingkat Konsentrasi Garam Terhadap Cita Rasa, Warna, Serta Tekstur Telur Asin”. Jurnal Sains dan Teknologi Industri Peternakan, Vol. 5(1): 49-57.

Falaqi, M. I. N., Ferdiawan, A. M. P., Hakim, A. B., & Fadhlurrohman, I. (2025). “Pengaruh Perbedaan Media dan lama Pemeraman terhadap Karakteristik dan Nilai Kesukaan Telur Asin”. Prosiding Seminar Nasional Pembangunan dan Pendidikan Vokasi Pertanian, Vol. 6(1): 746-752.

Latipah, I. R., Utami, M. M. D., & Sanyoto, J. I. (2017). “Pengaruh Konsentrasi Garam dan Umur Telur Terhadap Tingkat Kesukaan Konsumen Telur Asin”. Jurnal Ilmu Peternakan Terapan, Vol. 1(1): 1-7.

      Novia, D., Melia, S., & Mutiara. (2016). “Kombinasi Abu Kayu dan Kapur pada Proses Pengasinan terhadap Karakteristik Fisikokimia dan Nilai Organoleptik Telur Asin”. Jurnal Peternakan Indonesia, Vol. 18(1): 29-35

      Tim Redaksi Hello Sehat. (2022). “5 Manfaat Telur Asin yang Bisa Anda Peroleh”. Hello Sehat – Kementerian Kesehatan. Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes.

        Tinggalkan Komentar

        Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

        Scroll to Top