Apa Itu Bebek Peking? Kenali Perbedaannya dengan Bebek Lokal

bebek peking

Bebek Peking menjadi salah satu jenis bebek yang paling populer di industri kuliner, terutama karena ukuran tubuhnya yang besar dan dagingnya yang tebal. Tak heran jika banyak restoran memilih bebek ini sebagai bahan utama berbagai hidangan bebek panggang maupun bebek goreng premium.

Meski sama sama disebut bebek, ternyata bebek Peking memiliki karakteristik yang cukup berbeda dibandingkan bebek lokal yang umum dibudidayakan di Indonesia. Perbedaannya tidak hanya terlihat dari ukuran tubuh dan warna bulu, tetapi juga dari tujuan pemeliharaan, kecepatan pertumbuhan, hingga kualitas daging yang dihasilkan.

Lalu, sebenarnya apa itu bebek Peking? Apakah sama dengan hidangan bebek Peking yang terkenal dari China? Dan apa saja perbedaannya dengan bebek lokal seperti Mojosari atau Alabio? Simak penjelasannya berikut ini.

Apa Itu Bebek Peking?

Bebek Peking (Anas platyrhynchos domesticus) adalah salah satu jenis bebek pedaging yang paling banyak dibudidayakan di dunia. Bebek ini dikembangkan secara khusus untuk menghasilkan daging dalam jumlah besar dengan pertumbuhan yang cepat dan efisien.

Dibandingkan banyak jenis bebek lainnya, bebek Peking memiliki kemampuan membentuk massa otot dada dan paha yang lebih baik sehingga menghasilkan karkas yang lebih besar. Karena alasan inilah bebek Peking menjadi pilihan utama dalam industri peternakan bebek pedaging modern.

Secara biologis, daging bebek Peking termasuk daging merah karena mengandung mioglobin yang lebih tinggi dibandingkan daging ayam. Kandungan inilah yang memberikan warna daging lebih gelap serta cita rasa yang lebih kuat dan khas.

Asal Usul Bebek Peking

Bebek Peking berasal dari Tiongkok, tepatnya dari wilayah Beijing yang dahulu dikenal dengan nama Peking. Ras bebek ini telah dibudidayakan selama ratusan hingga ribuan tahun dan diyakini berasal dari hasil domestikasi bebek liar Mallard (Anas platyrhynchos).

Melalui proses seleksi yang berlangsung dalam waktu lama, peternak mengembangkan bebek dengan pertumbuhan lebih cepat, ukuran tubuh lebih besar, dan produksi daging yang lebih tinggi. Sementara itu, sifat liar seperti kemampuan terbang jauh secara bertahap berkurang.

Popularitas bebek Peking kemudian menyebar ke berbagai negara pada abad ke-19, termasuk Inggris dan Amerika Serikat. Saat ini, bebek Peking menjadi salah satu ras bebek pedaging yang paling banyak dibudidayakan di dunia, termasuk di Indonesia.

Ciri Ciri Bebek Peking

Bebek Peking memiliki penampilan yang cukup mudah dikenali dibandingkan jenis bebek lainnya. Tubuhnya besar, padat, dan cenderung mendatar dengan dada yang lebar serta berisi.

Warna bulunya didominasi putih bersih atau krem terang, sehingga berbeda dengan sebagian besar bebek lokal yang memiliki corak cokelat atau kehitaman. Paruh dan kakinya umumnya berwarna kuning hingga jingga cerah.

Selain itu, kepala bebek Peking terlihat lebih besar dengan pipi yang berisi, sementara bulu di bagian tubuh belakang tampak tebal dan lembut. Kombinasi karakteristik inilah yang membuat bebek Peking menjadi salah satu ras bebek pedaging paling mudah dikenali.

Perbedaan Bebek Peking dan Bebek Lokal

Meski sama sama termasuk bebek domestik, bebek Peking dan bebek lokal memiliki tujuan budidaya yang berbeda.

Bebek lokal seperti Mojosari atau Alabio lebih banyak dikenal sebagai bebek petelur. Tubuhnya cenderung ramping, tegak, dan lebih aktif bergerak. Warna bulunya pun umumnya lebih beragam, mulai dari cokelat, abu abu, hingga kombinasi beberapa warna.

Sebaliknya, bebek Peking dikembangkan khusus sebagai bebek pedaging. Tubuhnya lebih besar, dada lebih lebar, dan pertumbuhannya jauh lebih cepat sehingga mampu menghasilkan karkas yang lebih banyak.

Perbedaan ukuran juga cukup mencolok. Bebek Peking dewasa dapat mencapai bobot sekitar 4–4,5 kg pada usia panen sekitar 10 minggu. Sementara itu, sebagian besar bebek lokal umumnya memiliki bobot dewasa sekitar 1,3–1,8 kg per ekor.

Karena itulah, bebek Peking lebih sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri daging, sedangkan bebek lokal banyak dimanfaatkan untuk produksi telur maupun kuliner tradisional.

Kelebihan Bebek Peking untuk Konsumsi

Salah satu keunggulan terbesar bebek Peking adalah pertumbuhannya yang sangat cepat. Dalam waktu pemeliharaan yang relatif singkat, bebek ini sudah mampu mencapai bobot panen yang ideal sehingga menjadi pilihan utama peternak bebek pedaging.

Selain menghasilkan daging dalam jumlah lebih banyak, bebek Peking juga dikenal memiliki proporsi dada dan paha yang lebih tebal dibandingkan banyak jenis bebek lainnya. Hal ini membuat hasil karkasnya lebih tinggi dan menguntungkan untuk kebutuhan kuliner maupun industri pangan.

Dari segi tekstur, daging bebek Peking cenderung lebih padat tetapi tetap empuk dan juicy karena memiliki lapisan lemak yang cukup di bawah kulit maupun di dalam jaringan daging. Lemak inilah yang membantu menghasilkan rasa gurih khas dan membuat daging tetap lembap saat dipanggang, dibakar, atau digoreng.

Kandungan Gizi Bebek Peking

Selain lezat, daging bebek Peking juga merupakan sumber protein hewani yang kaya nutrisi. Dalam setiap 100 gram daging matang, terkandung sekitar 19–23 gram protein yang berperan penting dalam pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh.

Lemaknya juga didominasi oleh asam lemak tak jenuh, termasuk asam lemak tak jenuh tunggal dan tak jenuh ganda yang mengandung omega 3 serta omega 6.

Tak hanya itu, daging bebek Peking juga mengandung berbagai vitamin dan mineral penting, seperti zat besi, fosfor, zinc, kalium, serta vitamin B kompleks. Kandungan zat besinya yang cukup tinggi berperan dalam pembentukan hemoglobin sehingga membantu mencegah anemia dan mendukung fungsi tubuh sehari hari.

Kombinasi protein, lemak, vitamin, dan mineral tersebut menjadikan bebek Peking sebagai salah satu sumber protein hewani yang padat gizi dan mengenyangkan.

Olahan yang Cocok Menggunakan Bebek Peking

hidangan bebek peking

Ukuran tubuh yang besar, daging yang tebal, dan lapisan lemak yang cukup membuat bebek Peking cocok diolah dengan berbagai teknik memasak, terutama yang membutuhkan waktu pemasakan lebih lama.

Olahan yang paling terkenal tentu saja adalah Bebek Peking Panggang atau Roasted Peking Duck. Hidangan khas Tiongkok ini terkenal dengan kulitnya yang tipis, renyah, dan berwarna cokelat kemerahan.

Untuk menghasilkan tekstur tersebut, kulit bebek biasanya dipisahkan terlebih dahulu dari lapisan daging agar lemak di bawahnya dapat meleleh saat dipanggang. Proses pemanggangan kemudian menghasilkan kulit yang garing, sementara dagingnya tetap juicy.

Selain masakan oriental, bebek Peking juga sangat cocok diolah menjadi berbagai hidangan khas Indonesia. Tekstur dagingnya yang tebal membuatnya tidak mudah hancur saat dimasak dengan bumbu yang kaya rempah atau dimasak dalam waktu cukup lama.

Beberapa olahan yang populer antara lain bebek goreng, bebek bakar, bebek rica rica, hingga bebek bumbu hitam khas Madura. Kandungan lemak alaminya membantu menghasilkan rasa yang lebih gurih sekaligus menyeimbangkan cita rasa pedas dan rempah yang kuat.

Baca juga: Perbedaan Ayam Pejantan dan Ayam Kampung, Mana yang Lebih Unggul?

Kesimpulan

Bebek Peking (Anas platyrhynchos domesticus) adalah salah satu ras bebek pedaging paling populer di dunia yang berasal dari Tiongkok. Dibandingkan bebek lokal seperti Mojosari atau Alabio, bebek Peking memiliki pertumbuhan yang lebih cepat, ukuran tubuh yang lebih besar, dada yang lebih lebar, serta ciri khas bulu putih dengan paruh dan kaki berwarna jingga.

Selain menghasilkan daging dalam jumlah lebih banyak, bebek Peking juga dikenal memiliki tekstur yang empuk, juicy, dan kaya rasa berkat kandungan lemak alaminya. Ditambah lagi, dagingnya mengandung protein, zat besi, vitamin B kompleks, dan berbagai mineral penting yang bermanfaat bagi tubuh.

Tak heran jika bebek Peking menjadi pilihan utama untuk berbagai hidangan, mulai dari bebek panggang khas Tiongkok hingga aneka olahan rempah khas Indonesia yang kaya cita rasa.

Referensi:

Muthmainnah, A., & Jalali, K. (2022). Produktivitas Budidaya Antara Bebek Peking (Anas platyrhynchos) dengan Bebek Hibrida (Anas platyrhynchos domesticus). Panthera : Jurnal Ilmiah Pendidikan Sains dan Terapan, 2(4), 258-271.

Tamzil, M. H., Indarsih, B., Haryani, N. K. D., Jaya, I. N. S., & Syamsuhaidi. (2023). Karakteristik Beberapa Sifat Kualitatif Dan Kuantitatif Itik Pekin Di Kelompok Peternak Itik Monggelemong Dasan Cermen Kota Mataram. Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Indonesia, 9(1), 34-41.

Wicaksana, B. S. (2022). Performa Itik Pedaging Dengan Ransum Racikan Peternak Rakyat Di Desa Karanganyar Kecamatan Jati Agung (Skripsi). Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Bandar Lampung.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top