FAKTA. Biji apel memang mengandung senyawa glikosida sianogenik bernama amygdalin. Ketika biji apel hancur atau terkunyah dan berinteraksi dengan enzim pencernaan, amygdalin akan terurai melepaskan racun hidrogen sianida (HCN). Namun, menelan beberapa biji apel secara tidak sengaja TIDAK berbahaya. Cangkang luar biji yang keras melindunginya dari enzim usus, dan tubuh manusia memiliki enzim alami (rhodanese) untuk menetralkan sianida dosis kecil secara instan.

Pernahkah kamu sedang menikmati renyahnya buah apel, lalu secara tidak sengaja ikut mengunyah atau menelan bijinya? Seketika rasa panik muncul karena kamu teringat rumor yang beredar di masyarakat: “Biji apel itu beracun karena mengandung sianida!”
Apakah peringatan ini sekadar mitos menakutkan, atau memang ada fakta kimia pangan di baliknya? Mari kita bedah penjelasan sains, dosis fatal, hingga fakta gizi buah apel secara lengkap di bawah ini!
Mengenal Buah Apel: Definisi, Asal, dan Jenisnya
Apel (Malus domestica) adalah buah pomasea dari famili Rosaceae. Tanaman ini diperkirakan berasal dari wilayah Asia Tengah (terutama pegunungan Kazakhstan) dan kini telah dibudidayakan di seluruh dunia.
Di pasaran, kamu bisa menemukan ribuan jenis buah apel yang populer, antara lain:
- Apel Fuji & Royal Gala: Bertekstur manis renyah dengan warna kulit merah merona.
- Apel Granny Smith: Berwarna hijau terang dengan cita rasa asam segar yang dominan.
- Apel Malang (Manalagi/Anna): Varietas lokal Indonesia berukuran sedang dengan aroma wangi yang khas.

Rahasia Kimia: Mengapa Biji Apel Mengandung Sianida?
Biji apel mengandung senyawa kimia alami dari kelompok glikosida sianogenik yang dinamakan amygdalin. Amygdalin sebenarnya diciptakan oleh tanaman apel sebagai mekanisme pertahanan diri alami (chemical defense) agar bijinya tidak dihabiskan oleh hewan pemakan buah.
Sianida murni tidak langsung berada di dalam biji. Amygdalin baru akan terpecah menjadi gas hidrogen sianida (HCN) yang beracun apabila biji apel dikunyah hingga pecah atau hancur dan kontak dengan enzim pencernaan manusia.
Berapa Biji Apel yang Bikin Keracunan?
Secara medis, dosis oral sianida yang bersifat fatal (lethal dose) bagi manusia adalah 0,5 hingga 3,5 mg per kilogram berat badan.
Mari kita hitung secara matematis berdasarkan data toksikologi pangan:
- Satu gram biji apel mengandung sekitar$1 – 4 mg amygdalin.
- Jika dikunyah hingga lumat, 1 gram biji apel melepaskan sekitar 0,06 – 0,24 mg sianida murni.
- Satu buah apel rata-rata hanya memiliki 5 sampai 8 biji.
Artinya, seorang dewasa dengan berat badan 60 kg memerlukan sekitar 30 – 210 mg sianida untuk berada di tingkat keracunan fatal.
Untuk mencapai dosis berbahaya tersebut, kamu harus mengunyah secara halus dan menelan setidaknya 150 hingga 200 biji apel sekaligus (setara dengan memakan core/inti dari 20–40 buah apel) dalam satu waktu!
Sistem Detoks Alami Tubuh: Jika kamu hanya menelan 1 – 2 biji apel secara tidak sengaja, organ hati (hepar) manusia memiliki enzim rhodanese. Enzim ini secara otomatis akan mengubah sianida dosis mikro menjadi tiosianat yang aman dan dibuang melalui urine. Selain itu, jika biji tertelan utuh tanpa dikunyah, selaput luar biji yang keras tidak akan bisa dicerna oleh asam lambung dan keluar utuh bersama feses.
Kandungan Gizi Buah Apel per 100 Gram
Terlepas dari isu bijinya, daging dan kulit buah apel merupakan sumber nutrisi yang sangat kaya. Berikut adalah tabel komposisi zat gizi di dalam 100 gram buah apel segar beserta kulitnya:
| Komponen Nutrisi | Jumlah per 100 Gram Daging & Kulit |
| Kalori (Energi) | 52 – 58 Kal |
| Air | ~ 85,5 gram |
| Karbohidrat | 13,8 – 14,9 gram |
| Serat Pangan (Pectin) | 2,4 – 2,6 gram |
| Kalsium (Ca) | 6 mg |
| Fosfor (P) | 10 mg |
| Kalium (K) | 107 – 130 mg |
| Vitamin C | 4,6 – 5,0 mg |
| Beta-Karoten (Vitamin A) | 30 µg |
| Polifenol & Flavonoid | Sangat Tinggi (Quercetin & Catechin) |
Manfaat Mengonsumsi Buah Apel
Rutin mengonsumsi apel utuh beserta kulitnya memberikan dampak positif yang nyata bagi tubuh:
- Melancarkan Pencernaan & Mengontrol Berat Badan: Serat larut pectin di dalam apel memberikan rasa kenyang lebih lama dan menjadi prebiotik bagi bakteri baik di usus besar.
- Antioksidan Pelindung Sel: Senyawa quercetin dan catechin membantu menetralkan radikal bebas, menjaga elastisitas kulit, serta mendukung kesehatan pembuluh darah jantung.
- Mendukung Imunitas Tubuh: Asupan Vitamin C dan polifenol alami memperkuat sel darah putih dalam melawan infeksi mikroba.
Cara Menyimpan dan Mengolah Apel
Agar kamu bisa menikmati manfaat apel secara aman dan bebas khawatir, jangan lupa:
- Pentingnya Buang Biji Saat Membuat Jus/Smoothie: Pisau blender berkecepatan tinggi dapat menghancurkan biji apel hingga halus. Selalu buang bagian inti (core) dan biji apel sebelum memasukkannya ke dalam blender.
- Cuci Kulit Apel di Air Mengalir: Banyak nutrisi dan serat berada di bagian kulit. Cuci apel dengan air mengalir dan gosok perlahan untuk membersihkan sisa lapisan lilin alami (wax) atau pestisida.
- Cara Simpan Agar Awet: Apel memproduksi gas etilen yang memicu pematangan. Simpan apel di dalam kantong berlubang di chiller kulkas 4 derajat Celcius agar tetap renyah hingga 2–3 minggu dan jauhkan dari sayuran hijau agar tidak cepat layu.
Ciri-Ciri Apel yang Tidak Layak Konsumsi
Segera buang buah apel jika kamu menemukan tanda-tanda kerusakan berikut:
- Tekstur Sangat Lembek dan Berkerut: Menandakan apel telah kehilangan kadar air secara drastis dan sel jaringan buahnya rusak.
- Sisi Daging Berwarna Cokelat Gelap & Berlendir: Indikasi pembusukan akibat reaksi oksidasi enzimatis berlebih atau kontaminasi kapang.
- Aroma Fermentasi Asam/Alkohol: Gula di dalam apel telah diubah menjadi alkohol oleh mikroba pembusuk.
Kesimpulan
Klaim bahwa biji apel mengandung sianida adalah fakta sains pangan yang valid. Tapi, kamu tidak perlu panik jika tidak sengaja menelan beberapa biji apel. Dosis amygdalin di dalamnya sangat minim dan akan dinetralkan secara alami oleh tubuh kita. Cukup buang bijinya saat membuat jus dan nikmati kelezatan daging buah apel utuh tanpa rasa khawatir!
Penasaran ingin mengeksplorasi lebih banyak fakta sains pangan dan rahasia bahan makanan harianmu? Jangan lupa ikuti terus artikel edukatif dari Delinutri dan bagikan artikel ini ke temanmu, ya!
Referensi:
Amaya-Salcedo, J. C., Cárdenas-González, O. E., & Gómez-Castaño, J. A. (2018). Solid-to-liquid extraction and HPLC/UV determination of amygdalin of seeds of apple (Malus pumila Mill): Comparison between traditional-solvent and microwave methodologies. Acta Agronomica, 67(3), 381-388.
Aranguri-Llerena, G., & Siche, R. (2020). Superior Plants with Significant Amounts of Cyanide and Their Toxicological Implications. Reviews in Agricultural Science, 8, 354-366.
Baker, A., Garner, M. C., Kimberley, K. W., Sims, D. B., Stordock, J. H., Taggart, R. P., & Walton, D. J. (2018). Cyanide Toxicity of Freshly Prepared Smoothies and Juices Frequently Consumed. European Journal of Nutrition & Food Safety, 8(4), 215-224.
Bolarinwa, I. F., Orfila, C., & Morgan, M. R. A. (2015). Determination of amygdalin in apple seeds, fresh apples and processed apple juices. Food Chemistry, 170, 437-442.
Dutta, A. K. (2017). Review on Apple: Most Popular & Delicious Fruits and Apple Seeds Release Cyanide When Crushed. European Journal of Biomedical and Pharmaceutical Sciences, 4(12), 332-339.
Kristl, J., Golenač, L. P., & Sem, V. (2024). Dynamics of cyanogenic glycosides in apple and plum fruits, products, and byproducts: A concise review. Journal of Food Science, 89(11), 6839-6862.






