
Tempe merupakan salah satu bahan pangan khas Indonesia yang tidak hanya populer, tetapi juga kaya akan nilai gizi. Proses pembuatannya melibatkan fermentasi kedelai oleh kapang Rhizopus oligosporus, sehingga menghasilkan tekstur padat dengan rasa khas. Namun, karena masih mengandung aktivitas biologis yang terus berlangsung, tempe termasuk bahan makanan yang mudah mengalami penurunan kualitas.
Lalu, bagaimana cara menyimpan tempe agar awet berhari hari? Secara umum, cara menyimpan tempe agar awet adalah dengan mengontrol suhu dan kelembapan, serta meminimalkan paparan udara agar proses pembusukan dapat diperlambat.
Berapa Lama Tempe Bisa Bertahan Setelah Dibeli?
Daya tahan tempe sebenarnya sangat bergantung pada kondisi penyimpanan, terutama suhu dan jenis kemasan yang digunakan.
Pada kondisi suhu ruang, tempe mentah umumnya hanya mampu bertahan sekitar 1-2 hari. Jika menggunakan pembungkus alami seperti daun pisang, daya tahannya bisa sedikit lebih lama, yaitu sekitar 3-4 hari karena daun membantu menjaga keseimbangan kelembapan.
Sementara itu, penyimpanan pada suhu rendah memberikan hasil yang jauh lebih optimal. Pada suhu sekitar 15°C, tempe dapat bertahan hingga 5 hari. Jika disimpan di dalam chiller dengan suhu sekitar 5°C, masa simpannya bahkan bisa mencapai hampir dua minggu.
Untuk hasil yang lebih maksimal, teknik tambahan seperti pengemasan vakum dan perlakuan panas ringan dapat memperpanjang umur simpan secara signifikan. Bahkan dalam kondisi tertentu, tempe bisa bertahan lebih dari satu bulan di suhu dingin. Jika kamu membutuhkan penyimpanan jangka panjang, freezer dapat menjaga tempe tetap awet lagi.
Penyebab Tempe Cepat Busuk
Salah satu penyebab utama tempe cepat busuk adalah aktivitas enzim dan mikroorganisme yang masih berlangsung setelah proses fermentasi selesai. Enzim proteolitik akan terus memecah protein dalam kedelai menjadi senyawa yang lebih sederhana, yang kemudian menghasilkan bau tidak sedap seperti amonia dan senyawa sulfur.
Selain itu, laju respirasi tempe yang tinggi, terutama saat disimpan di suhu ruang, juga mempercepat proses pembusukan. Aktivitas ini menghasilkan panas dan uap air yang semakin meningkatkan kelembapan di sekitar tempe.
Kadar air yang tinggi juga menjadi faktor penting. Jika kadar air melebihi batas aman, mikroorganisme pembusuk akan berkembang dengan sangat cepat. Ditambah lagi, perubahan pH ke arah yang lebih basa akibat aktivitas mikroba turut mempercepat penurunan kualitas tempe.
Cara Menyimpan Tempe Agar Tidak Cepat Busuk
Agar tempe dapat awet berari-hari, kamu perlu mengontrol tiga faktor utama yaitu suhu, kelembapan, dan paparan udara. Berikut penjelasan lengkapnya:
Cara Menyimpan Tempe di Suhu Ruang
Menyimpan tempe di suhu ruang sebenarnya bukan pilihan terbaik, tetapi masih bisa dilakukan jika kamu berencana menggunakannya dalam waktu dekat.
Agar lebih tahan lama, kamu bisa membungkus tempe menggunakan daun pisang atau daun jati. Daun jati diketahui lebih efektif dalam menjaga kadar air tetap rendah sehingga dapat memperlambat proses pembusukan.
Selain itu, ada teknik tambahan yang bisa kamu lakukan, yaitu mengukus tempe dalam waktu singkat sebelum penyimpanan. Metode ini membantu menekan aktivitas enzim dan mikroorganisme sehingga tempe tidak cepat rusak.
Cara Menyimpan Tempe di Chiller
Jika kamu mencari cara yang paling praktis dan efektif untuk penggunaan sehari hari, menyimpan tempe di chiller adalah pilihan terbaik.
Suhu dingin sekitar 5°C mampu memperlambat laju respirasi dan aktivitas mikroorganisme secara signifikan. Agar hasilnya lebih optimal, simpan tempe di dalam wadah tertutup atau gunakan teknik vakum untuk mengurangi paparan oksigen.
Kondisi minim oksigen ini sangat membantu dalam menekan pertumbuhan bakteri pembusuk, sehingga tempe bisa bertahan lebih lama dengan kualitas yang tetap baik
Cara Menyimpan Tempe di Freezer
Untuk kebutuhan penyimpanan jangka panjang, freezer menjadi solusi yang paling efektif.
Pada suhu beku, aktivitas mikrobiologis hampir sepenuhnya berhenti. Hal ini membuat tempe bisa disimpan hingga beberapa bulan tanpa mengalami pembusukan. Namun, sebaiknya tetap batasi waktu penyimpanan maksimal sekitar tiga bulan agar kualitas rasa dan tekstur tidak menurun.
Gunakan wadah tertutup atau kemasan vakum saat membekukan tempe. Saat akan digunakan kamu bisa mencairkan tempe dengan mendiamkannya di suhu ruang selama kurang lebih 30 menit. Cara ini membantu menjaga struktur tempe agar tidak rusak akibat perubahan suhu yang terlalu drastis.
Apakah Tempe Perlu Dicuci Sebelum Disimpan?

Banyak orang masih melakukan kesalahan dengan mencuci tempe sebelum disimpan. Padahal, kebiasaan ini justru bisa mempercepat kerusakan.
Air yang menempel pada permukaan tempe akan meningkatkan kadar air, yang merupakan salah satu faktor utama dalam penyebab tempe cepat busuk. Semakin tinggi kadar air, semakin cepat pula mikroorganisme berkembang.
Karena itu, sebaiknya tempe disimpan dalam kondisi kering. Jika ingin mencucinya, lakukan hanya saat tempe akan langsung dimasak.
Tanda Tanda Tempe Sudah Tidak Layak Konsumsi
Selain memahami cara menyimpan tempe agar awet, kamu juga perlu mengenali tanda tanda tempe yang sudah tidak layak dikonsumsi.
Perubahan ini bisa terlihat dari warna yang tidak lagi putih bersih, melainkan berubah menjadi kecokelatan, kekuningan, atau bahkan kehitaman. Dari segi aroma, tempe akan mengeluarkan bau menyengat seperti amonia atau bau busuk yang tajam.
Teksturnya pun ikut berubah, menjadi lebih lembek, mudah hancur, dan terkadang terasa berlendir di permukaan. Jika sudah menunjukkan ciri ciri tersebut, sebaiknya tempe tidak lagi dikonsumsi.
Kesimpulan
Tempe memang termasuk bahan makanan yang mudah rusak, apalagi jika disimpan tanpa penanganan yang tepat. Dengan memahami cara penyimpanan yang benar dan faktor yang membuat tempe cepat rusak, kamu bisa menjaga kualitasnya tetap baik lebih lama.
Kuncinya ada pada pengaturan suhu, penggunaan wadah tertutup, serta menjaga kondisi tempe tetap kering agar tidak memicu pertumbuhan mikroorganisme.
Dengan menerapkan langkah langkah ini, kamu tidak hanya menjaga kualitas bahan makanan, tetapi juga bisa lebih hemat dan mengurangi risiko pemborosan di dapur.
Referensi
Astawan, M., Hermanianto, J., Suliantari, & Sugiyanto, G. S. P. (2016). Application of vacuum packaging to extend the shelf life of fresh-seasoned tempe.
Nuraini, V., Puyanda, I. R., Kunciati, W. A. S., & Margareta, L. A. (2021). Perubahan Kimia dan Mikrobiologi Tempe Busuk Selama Fermentasi. Jurnal Agroteknologi, 15(02), 127-137.
Prayudani, A. P. G., Opia, N. F., Astawan, M., Elda, F., & Afifah, D. N. (2025). Quality changes in air blast frozen tempe during storage and thawing. BIO Web of Conferences 186.
Purwanto, Y. A., & Weliana. (2018). Kualitas Tempe Kedelai pada Berbagai Suhu Penyimpanan. Warta IHP / Journal of Agro-based Industry, 35(2), 106-112.
Thoriq, A., Khoiris, D., Ciptaningtyas, D., & Pratopo, L. H. (2025). Estimating the Shelf Life of Instant Tempe in Various Packaging and Storage Temperature using the Arrhenius Model. Jurnal Keteknikan Pertanian, 13(1), 132-146.


