Mengenal Ikan Belida: Asal, Fakta Gizi, dan Alasan Dilindungi

Ikan belida adalah ikan air tawar purba (featherback) dari famili Notopteridae (seperti Chitala lopis dan Chitala hypselonotus) yang memiliki bentuk tubuh unik menyerupai bilah pisau. Ikan yang menjadi maskot Provinsi Sumatra Selatan ini terkenal karena menghasilkan daging putih gurih bertekstur kenyal alami berkat kandungan protein sebesar 16,5% serta profil asam amino lisin yang tinggi (16.633 mg/kg). Saat ini, spesies ikan belida berstatus satwa dilindungi penuh oleh pemerintah untuk mencegah kepunahan di alam liar.

Morfologi ikan belida Chitala lopis dengan tubuh pipih memanjang menyerupai bilah pisau.

Pernahkah kamu mendengar cerita tentang bahan asli pempek Palembang atau kerupuk kemplang tempo dulu yang gurihnya tiada tanding? Orang tua atau koki legendaris sering menyebut satu nama istimewa yakni ikan belida.

Namun, beberapa tahun belakangan, olahan berbahan belida asli hampir menghilang dari menu kuliner. Banyak orang bertanya-tanya: sebenarnya ikan belida itu apa, apa yang membuat dagingnya begitu istimewa, dan kenapa sekarang tidak boleh sembarangan dikonsumsi?

Yuk, kita kenalan lebih dekat dengan ikan air tawar eksotis kebanggaan Nusantara ini!

Ikan Belida Itu Apa? Definisi, Asal, dan Ciri Fisiknya

Ikan belida adalah kelompok ikan tawar primitif yang tergolong dalam famili Notopteridae. Nama internasionalnya sering disebut featherback atau clown knifefish karena sirip punggungnya yang kecil menyerupai bulu unggas dan sirip bawahnya menyatu dari perut hingga ekor membentuk siluet mirip bilah pisau.

Di Indonesia, terdapat beberapa spesies belida yang tersebar di perairan sungai besar dan rawa banjiran (lebak) terutama di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan:

  • Chitala lopis (Belida Jawa/Sumatra)
  • Chitala hypselonotus (Belida Sumatra)
  • Chitala borneensis (Belida Borneo/Kalimantan)
  • Notopterus notopterus (Ikan Putak/Belida Kecil)

Ikan belida merupakan predator karnivora air tawar yang aktif berburu mangsa berupa ikan-ikan kecil dan udang di dasar perairan.

Bentuk punggungnya bungkuk menukik dengan sisik kecil halus dan warna keperakan mengilap. Karena nilai historis dan keunikannya, ikan belida bahkan diresmikan sebagai fauna identitas atau maskot kebanggaan Provinsi Sumatra Selatan.

Tabel Kandungan Gizi Ikan Belida Segar (per 100 Gram)

Berikut adalah profil komposisi gizi dalam 100 gram daging ikan belida segar berdasarkan rujukan data kimia perikanan dan kesehatan pangan:

Komponen GiziJumlah per 100 Gram Bahan
Energi/Kalori120 – 128 kkal
Kadar Air71,40 – 75,00 gram
Protein Murni16,50 – 20,45 gram
Lemak Total0,25 – 5,30 gram
Karbohidrat0,40 – 6,56 gram
Kalsium (Ca)35,00 – 52,00 mg
Fosfor (P)135,00 – 216,00 mg
Zat Besi (Fe)0,90 – 1,10 mg
Vitamin A233,00 SI
Vitamin B1 (Tiamin)0,10 – 1,80 mg
Vitamin C0,00 mg

Manfaat Daging Ikan Belida

Selain menghasilkan tekstur olahan yang lezat, kandungan nutrisi ikan belida memiliki fungsi yang baik bagi tubuh:

  • Sumber Protein Pertumbuhan: Protein hewani ikan belida kaya asam amino esensial lengkap yang mudah diserap pencernaan dan bermanfaat untuk pembentukan jaringan sel baru pada anak.
  • Mendukung Kepadatan Tulang: Keberadaan mineral makro fosfor dan kalsium alami membantu proses mineralisasi tulang dan gigi.
  • Rendah Lemak Jenuh: Sebagai ikan air tawar, lemak alami ikan belida didominasi asam lemak tak jenuh yang ramah bagi sirkulasi pembuluh darah.

Habitat sungai perairan tawar alami tempat pelestarian ikan belida lokal.

Status Perlindungan Hukum: Kenapa Tidak Boleh Ditangkap Sembarangan?

Ini fakta paling penting yang wajib kamu ketahui: sebagian besar spesies ikan belida saat ini berstatus dilindungi penuh oleh negara.

Akibat perburuan massal di masa lalu untuk industri kuliner, penangkapan liar yang merusak, dan degradasi habitat sungai, populasi ikan belida di alam menurun sangat drastis hingga terancam punah.

Oleh karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerbitkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1 Tahun 2021 (diperkuat regulasi nasional) yang menetapkan empat spesies belida (Chitala lopis, Chitala borneensis, Chitala hypselonotus, dan Notopterus notopterus) sebagai satwa dilindungi.

Menangkap, memperjualbelikan, atau mengonsumsi ikan belida yang diambil dari alam liar merupakan tindakan melanggar hukum. Saat ini, para pelaku industri makanan telah beralih menggunakan ikan alternatif seperti ikan tenggiri, ikan gabus, atau ikan patin yang pasokannya melimpah dari hasil budidaya.

Para peneliti dan balai budidaya terus mengembangkan teknik pembenihan (domestikasi) buatan agar suatu saat populasi belida pulih dan aman dibudidayakan secara legal.

Kesimpulan

Ikan belida adalah ikon keanekaragaman hayati dan kuliner tawar Nusantara yang luar biasa. Dagingnya yang kenyal gurih merupakan keunggulan sains pangan alami yang tiada duanya.

Namun, kelestariannya di alam liar adalah tanggung jawab kita bersama. Menghormati aturan perlindungan satwa dan beralih ke komoditas ikan budidaya lainnya adalah langkah bijak agar generasi mendatang tetap bisa mengenal ikan eksotis ini di perairan Indonesia.

Ingin tahu lebih banyak fakta sains pangan unik dan wawasan nutrisi bahan makanan Nusantara lainnya? Yuk, pantau terus artikel edukatif terbaru dari Delinutri dan bagikan artikel ini ke keluargamu!

FAQ Seputar Ikan Belida

1. Apakah ikan belida beracun?

Tidak. Ikan belida sama sekali tidak mengandung racun biologis alami. Dagingnya sangat bergizi dan aman dikonsumsi manusia. Pembatasan konsumsi murni dilandasi oleh status perlindungan konservasi satwa langka, bukan karena faktor toksik.

2. Apa perbedaan utama ikan belida dengan ikan patin atau gabus?

Secara bentuk fisiknya, belida berbentuk sangat pipih melebar dengan punggung melengkung. Dari segi nutrisi, ikan belida memiliki kandungan asam amino lisin yang lebih pekat dibanding gabus, memberikan daya elastisitas jaringan yang lebih kenyal.

3. Bolehkah memelihara ikan belida di akuarium rumah?

Ikan belida yang berasal dari tangkapan sungai liar dilarang untuk dipelihara maupun diperdagangkan. Pemeliharaan hanya diperbolehkan apabila spesimen diperoleh secara sah dari penangkar resmi yang mengantongi izin konservasi dari instansi berwenang.

Referensi:

Monica, N. J., Melani, E. R., Rico., Sofian., & Yusanti, I. A. (2026). Peningkatan Kinerja Pertumbuhan Ikan Belida (Chitala sp) dengan Penambahan Suplemen Antioksidan Astaxanthin pada Pakan dengan Dosis yang Berbeda. JURAGAN: Jurnal Ragam Pengabdian dan Penelitian, 791-801.

Putra, A. E. P. (2019). Analisis Nilai Tambah Usaha Pengolahan Ikan Belida Menjadi Kerupuk di Kelurahan Kemalaraja Kecamatan Baturaja Timur Kabupaten OKU. Jurnal Agribisnis, 1-7.

Saputra, A., Oktriani, H., & Supriadi, A. (2024). Identifikasi Asam Amino Pembentuk Tekstur dan Viskositas Daging Ikan Belida (Chitala lopis), Ikan Patin (Pangasius pangasius), dan Ikan Gabus (Channa striata). Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 15(1), 121-130.[cite: 74]

Setyawan, S. A., Satriani., & Joto, N. A. (2025). Formulasi Pengembangan Ikan Belida (Chitala lopis) dan Wortel (Daucus carota L.) Sebagai Alternatif Makanan Kudapan pada Balita Stunting. Integrative Perspectives of Social and Science Journal (IPSSJ), 2(2), 2008-2016.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top