
Saat berbelanja di supermarket, kamu mungkin melihat banyak produk yang sama sama berada di rak susu. Ada susu segar, susu UHT, susu bubuk, susu evaporasi, susu kental manis, hingga berbagai minuman berperisa susu. Sekilas semuanya tampak mirip, tetapi sebenarnya tidak semua produk tersebut memiliki komposisi dan karakteristik yang sama.
Perbedaan ini muncul karena susu dapat diolah dengan berbagai cara, mulai dari pemanasan ringan hingga proses pengeringan menjadi bubuk. Selain itu, beberapa produk juga mengalami penambahan gula, vitamin, perisa, atau bahkan lemak nabati untuk tujuan tertentu.
Akibatnya, masa simpan, kandungan gizi, rasa, hingga harga setiap produk susu bisa sangat berbeda. Ada yang hanya bertahan beberapa hari di kulkas, ada pula yang dapat disimpan berbulan bulan pada suhu ruang.
Lalu, apakah semua produk yang mengandung susu bisa disebut sebagai susu? Untuk memahaminya, kita perlu melihat terlebih dahulu bagaimana definisi susu menurut standar pangan.
Definisi Susu Menurut Standar Pangan
Secara sederhana, susu adalah cairan yang dihasilkan oleh kelenjar susu hewan mamalia seperti sapi, kambing, atau kerbau. Susu ini diperoleh melalui proses pemerahan tanpa penambahan maupun pengurangan komponen utamanya.
Dalam standar pangan internasional, istilah “susu” memiliki definisi yang cukup ketat. Produk hanya dapat disebut sebagai susu apabila berasal langsung dari susu hewan dan tetap mempertahankan karakter dasar susu tersebut, meskipun telah melalui proses pengolahan seperti pasteurisasi, UHT, atau sterilisasi.
Di Indonesia, definisi ini juga diatur oleh BPOM. Karena itu, berbagai produk turunan susu memiliki kategori dan penamaan yang berbeda sesuai komposisinya. Misalnya, susu yang dicampur lemak nabati atau bahan pengganti tertentu tidak lagi dikategorikan sebagai susu murni, melainkan masuk ke kelompok produk susu olahan atau susu analog.
Inilah alasan mengapa dua produk yang sama sama berada di rak susu bisa memiliki kandungan, fungsi, dan harga yang sangat berbeda. Memahami perbedaannya dapat membantu kamu memilih produk yang paling sesuai dengan kebutuhan gizi maupun penggunaan sehari hari.
Macam Macam Produk Susu di Indonesia
Di pasaran, produk susu hadir dalam banyak bentuk dan sering membuat konsumen bingung saat memilih. Perbedaan utamanya biasanya terletak pada proses pengolahan, kandungan air, serta ada atau tidaknya tambahan gula dan bahan lain.
Semakin tinggi tingkat pengolahannya, umumnya semakin panjang pula masa simpannya. Karena itulah ada susu yang harus selalu disimpan di kulkas, tetapi ada juga yang bisa bertahan berbulan bulan pada suhu ruang.
1. Fresh Milk (Susu Segar)
Fresh milk atau susu segar adalah susu yang paling dekat dengan kondisi alaminya. Setelah diperah dari sapi atau hewan penghasil susu lainnya, susu hanya melalui proses penyaringan dan pendinginan tanpa pemanasan.
Karena minim pengolahan, kandungan protein, lemak susu, laktosa, vitamin, dan mineralnya masih berada dalam kondisi yang sangat mendekati susu asli.
Banyak orang menyukai susu segar karena memiliki rasa yang lebih creamy, gurih, dan aroma susu yang lebih kuat dibandingkan produk susu lainnya. Namun, di balik kelebihannya tersebut, susu segar juga memiliki masa simpan yang paling pendek.
Karena tidak melalui proses pemanasan untuk membunuh mikroorganisme, susu ini lebih rentan terkontaminasi bakteri dan cepat basi jika tidak disimpan dengan benar.
Oleh karena itu, susu segar harus selalu disimpan dalam wadah tertutup rapat pada suhu kulkas sekitar 1–4°C. Bahkan dalam kondisi penyimpanan yang baik sekalipun, susu segar umumnya hanya bertahan beberapa hari sehingga sebaiknya segera dikonsumsi setelah dibeli.
2. Susu Pasteurisasi
Susu pasteurisasi merupakan susu segar yang telah dipanaskan pada suhu tertentu dalam waktu singkat untuk membunuh bakteri penyebab penyakit. Setelah proses pemanasan selesai, susu langsung didinginkan kembali sehingga kualitas rasa dan gizinya tetap terjaga.
Dibandingkan susu segar, susu pasteurisasi jauh lebih aman untuk dikonsumsi karena sebagian besar mikroorganisme berbahaya telah dieliminasi. Meski demikian, proses pemanasan yang digunakan relatif ringan sehingga kandungan protein, kalsium, dan sebagian besar vitaminnya masih tetap terjaga. Dari segi rasa, susu pasteurisasi juga masih terasa segar dan creamy karena belum mengalami pemanasan ekstrem seperti susu UHT.
Namun, susu pasteurisasi belum steril sepenuhnya. Karena itu, produk ini tetap harus disimpan di dalam kulkas pada suhu sekitar 2–4°C. Dalam kemasan yang belum dibuka, susu pasteurisasi biasanya dapat bertahan sekitar satu hingga dua minggu. Setelah dibuka, sebaiknya dihabiskan dalam waktu beberapa hari agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga.
3. Susu UHT (Ultra High Temperature)
Susu UHT adalah jenis susu yang dipanaskan pada suhu sangat tinggi, yaitu sekitar 135–150°C selama beberapa detik saja. Setelah itu, susu langsung dikemas dalam kemasan steril khusus yang kedap udara sehingga terhindar dari kontaminasi mikroba dari luar.
Proses pemanasan singkat dengan suhu ekstrem ini mampu membunuh hampir seluruh bakteri dan spora yang ada di dalam susu. Karena itulah susu UHT memiliki masa simpan yang jauh lebih panjang dibandingkan susu segar maupun susu pasteurisasi. Sebelum kemasannya dibuka, susu UHT dapat disimpan pada suhu ruang tanpa perlu dimasukkan ke kulkas.
Dari sisi gizi, kandungan protein, lemak, karbohidrat, dan mineral seperti kalsium masih relatif terjaga dengan baik. Namun, sebagian vitamin yang sensitif terhadap panas, terutama beberapa vitamin B, dapat mengalami sedikit penurunan selama proses pengolahan.
Kelebihan utama susu UHT adalah kepraktisannya. Produk ini mudah disimpan, dibawa, dan cocok untuk stok jangka panjang di rumah. Meski demikian, sebagian orang dapat merasakan aroma khas “susu matang” yang muncul akibat proses pemanasan suhu tinggi.
Dalam kemasan yang masih tersegel, susu UHT umumnya dapat bertahan sekitar 6–9 bulan pada suhu ruang. Namun setelah dibuka, susu harus segera disimpan di dalam kulkas dan sebaiknya dihabiskan dalam waktu kurang dari satu minggu.
4. Susu Steril
Susu steril merupakan susu yang mengalami proses pemanasan lebih lama dibandingkan susu UHT. Setelah dimasukkan ke dalam botol atau kaleng yang telah ditutup rapat, susu dipanaskan pada suhu tinggi selama beberapa menit hingga mencapai kondisi steril secara komersial.
Karena proses pemanasannya lebih intensif, susu steril memiliki daya simpan yang sangat panjang dan menjadi salah satu produk susu cair yang paling awet di pasaran. Dalam kemasan yang masih utuh, susu steril dapat bertahan hingga sekitar satu tahun atau bahkan lebih tanpa memerlukan pendinginan.
Namun, proses pemanasan yang lebih lama juga memberikan dampak pada karakteristik susunya. Warna susu steril biasanya sedikit lebih krem atau kecokelatan dibandingkan susu segar, dengan aroma yang lebih kuat dan sedikit menyerupai karamel. Beberapa vitamin yang sensitif terhadap panas juga mengalami penurunan lebih besar dibandingkan pada susu pasteurisasi atau susu UHT.
Meski demikian, kandungan protein, lemak, dan mineral penting seperti kalsium tetap menjadikan susu steril sebagai sumber gizi yang baik. Produk ini sangat cocok untuk penyimpanan jangka panjang, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan akses rantai pendingin.
Sebelum dibuka, susu steril dapat disimpan pada suhu ruang di tempat yang sejuk dan kering. Setelah kemasannya dibuka, susu harus dipindahkan ke wadah tertutup dan disimpan di dalam kulkas seperti susu cair lainnya.
5. Susu Bubuk Full Cream
Susu bubuk full cream dibuat dari susu cair yang sebagian besar kandungan airnya dihilangkan hingga tersisa dalam bentuk bubuk. Proses ini menghasilkan produk yang lebih ringan, praktis disimpan, dan memiliki masa simpan jauh lebih panjang dibandingkan susu cair.
Karena berasal dari susu utuh, susu bubuk full cream masih mengandung protein, kalsium, serta lemak susu dalam jumlah yang cukup tinggi. Kandungan lemak inilah yang memberikan rasa lebih gurih, creamy, dan mendekati susu segar setelah diseduh kembali. Pada beberapa produk, produsen juga menambahkan vitamin A dan D untuk melengkapi kandungan gizinya.
Kelebihan utama susu bubuk full cream adalah kepraktisannya. Produk ini tidak memerlukan penyimpanan dingin sebelum dibuka dan mudah didistribusikan ke berbagai daerah. Karena itu, susu bubuk menjadi salah satu produk susu yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia.
Meski demikian, susu bubuk harus dilarutkan terlebih dahulu sebelum diminum. Selain itu, kandungan lemaknya membuat produk ini lebih rentan mengalami ketengikan apabila sering terkena udara lembap atau disimpan dalam wadah yang tidak tertutup rapat.
Dalam kemasan yang masih tersegel, susu bubuk full cream umumnya dapat bertahan sekitar 12–18 bulan. Setelah dibuka, sebaiknya simpan dalam wadah kedap udara di tempat yang sejuk, kering, dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung.
6. Susu Skim
Susu skim adalah susu yang sebagian besar kandungan lemaknya telah dihilangkan. Proses ini menghasilkan susu dengan kandungan lemak yang sangat rendah, tetapi tetap mempertahankan sebagian besar protein dan mineral penting seperti kalsium.
Karena kandungan lemaknya jauh lebih sedikit dibandingkan susu biasa, susu skim sering menjadi pilihan bagi orang yang sedang menjalani program diet, menjaga berat badan, atau membatasi asupan lemak dan kolesterol. Meski demikian, berkurangnya lemak juga membuat sebagian vitamin yang larut dalam lemak, seperti vitamin A dan D alami, ikut berkurang sehingga beberapa produk biasanya mendapat tambahan fortifikasi vitamin.
Dari segi rasa, susu skim cenderung lebih ringan dan kurang creamy dibandingkan susu full cream. Teksturnya juga terasa lebih encer karena hampir tidak mengandung lemak susu.
Susu skim tersedia dalam bentuk cair maupun bubuk. Untuk versi cair UHT, masa simpannya umumnya sekitar 6–9 bulan sebelum dibuka. Sementara itu, susu skim bubuk dapat bertahan lebih lama karena kandungan lemaknya yang sangat rendah membuat risiko ketengikan menjadi lebih kecil.
Penyimpanannya mengikuti bentuk produknya. Susu skim bubuk sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat yang kering, sedangkan susu skim cair mengikuti petunjuk pada kemasan, apakah perlu disimpan di kulkas atau cukup pada suhu ruang sebelum dibuka.
7. Susu Evaporasi
Susu evaporasi adalah susu yang sebagian besar kandungan airnya telah dikurangi melalui proses penguapan. Berbeda dengan susu kental manis, susu evaporasi tidak diberi tambahan gula sehingga rasa susunya tetap gurih dan tidak terlalu manis.
Karena kandungan airnya berkurang sekitar setengah dari volume awal, susu evaporasi memiliki tekstur yang lebih kental dan rasa susu yang lebih pekat dibandingkan susu cair biasa. Produk ini banyak digunakan dalam berbagai resep makanan dan minuman untuk memberikan rasa creamy tanpa membuat hidangan terlalu manis.
Kandungan protein, kalsium, dan lemak susunya juga lebih terkonsentrasi karena jumlah air yang berkurang. Inilah yang membuat susu evaporasi sering digunakan pada sup krim, saus, kopi, teh tarik, hingga berbagai hidangan penutup.
Meski bisa diminum, susu evaporasi sebenarnya lebih sering digunakan sebagai bahan masakan daripada susu konsumsi sehari hari. Jika ingin diminum langsung, susu ini biasanya perlu diencerkan terlebih dahulu dengan air.
Dalam kemasan kaleng yang masih tertutup rapat, susu evaporasi dapat bertahan hingga sekitar satu tahun pada suhu ruang. Namun setelah kaleng dibuka, susu harus segera dipindahkan ke wadah tertutup dan disimpan di dalam kulkas. Sebaiknya habiskan dalam waktu 3–5 hari untuk menjaga kualitas dan keamanannya.
8. Susu Rekonstitusi dan Susu Rekombinasi
Meski namanya terdengar mirip, susu rekonstitusi dan susu rekombinasi sebenarnya melalui proses pembuatan yang sedikit berbeda. Susu rekonstitusi dibuat dengan cara melarutkan kembali susu bubuk ke dalam air hingga komposisinya menyerupai susu cair.
Sementara itu, susu rekombinasi dibuat dengan mencampurkan berbagai komponen susu yang sebelumnya terpisah, seperti lemak susu, protein susu, dan air, kemudian dihomogenisasi agar menyatu kembali menjadi satu kesatuan yang stabil.
Kedua jenis susu ini banyak digunakan di negara yang produksi susu segarnya terbatas atau harus mengandalkan impor bahan baku susu bubuk. Setelah diformulasikan ulang, produk biasanya menjalani proses UHT atau sterilisasi sehingga aman dan memiliki masa simpan yang panjang.
Dari sisi gizi, susu rekonstitusi maupun susu rekombinasi tetap dirancang agar memenuhi standar kandungan protein, lemak, dan zat gizi susu pada umumnya. Namun karena bahan bakunya telah melalui berbagai tahapan pengolahan, beberapa vitamin alami dapat berkurang sehingga produsen sering menambahkan vitamin dan mineral kembali melalui proses fortifikasi.
Kelebihan utama kedua produk ini adalah kemudahan distribusi dan kestabilan pasokan. Berkat teknologi ini, produk susu tetap dapat tersedia secara luas meskipun tidak berasal langsung dari susu segar yang baru diperah.
Namun, sebagian konsumen menilai rasanya tidak se-creamy susu segar atau susu pasteurisasi. Pada beberapa produk juga dapat muncul sensasi sedikit bertepung atau chalky di lidah.
Jika dikemas dalam bentuk susu UHT, masa simpannya umumnya mencapai 6–9 bulan pada suhu ruang. Setelah kemasan dibuka, susu harus disimpan di kulkas dan sebaiknya dihabiskan dalam waktu kurang dari satu minggu.
9. Susu Kental Manis

Susu kental manis dibuat dengan mengurangi sebagian besar kandungan air susu, kemudian menambahkan gula dalam jumlah yang sangat tinggi. Kandungan gula ini bukan hanya berfungsi sebagai pemanis, tetapi juga membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme sehingga produk menjadi lebih awet.
Karena proses tersebut, susu kental manis memiliki tekstur yang sangat kental, rasa yang sangat manis, dan warna yang sedikit lebih krem dibandingkan susu cair biasa. Produk ini banyak digunakan sebagai topping, campuran minuman, bahan kue, maupun pelengkap berbagai hidangan penutup.
Meskipun masih mengandung protein, lemak susu, dan beberapa zat gizi lainnya, komposisi susu kental manis didominasi oleh gula. Inilah alasan mengapa susu kental manis tidak dapat disamakan dengan susu cair biasa dan tidak dianjurkan sebagai sumber utama nutrisi harian, terutama untuk anak-anak.
Kelebihan susu kental manis adalah masa simpannya yang sangat panjang serta tidak memerlukan penyimpanan dingin sebelum dibuka. Selain itu, harganya relatif terjangkau dan mudah digunakan dalam berbagai resep makanan maupun minuman.
Dalam kemasan yang masih tertutup rapat, susu kental manis dapat bertahan hingga 1–2 tahun pada suhu ruang. Setelah dibuka, produk tetap dapat disimpan di suhu ruang selama wadahnya tertutup rapat dan terhindar dari kontaminasi air, debu, maupun serangga. Namun untuk menjaga kualitas rasa, banyak orang memilih menyimpannya di tempat yang sejuk dan kering.
Mana Susu yang Paling Baik?
Tidak ada satu jenis susu yang bisa dianggap paling baik untuk semua orang. Pilihan terbaik sangat bergantung pada kebutuhan gizi, gaya hidup, anggaran, hingga cara penyimpanannya di rumah.
Jika kamu mengutamakan rasa yang paling mendekati susu segar sekaligus ingin mendapatkan kandungan gizi yang tetap terjaga, susu pasteurisasi sering dianggap sebagai pilihan terbaik.
Proses pemanasannya relatif ringan sehingga protein, kalsium, dan sebagian besar vitamin tetap terjaga dengan baik. Selain itu, rasa dan aroma susunya juga masih terasa segar dan creamy. Namun, susu pasteurisasi memiliki masa simpan yang pendek dan harus selalu disimpan di dalam kulkas.
Di sisi lain, jika yang dicari adalah kepraktisan dan daya simpan yang panjang, susu UHT dan susu steril lebih unggul.
Kedua produk ini dapat disimpan berbulan-bulan pada suhu ruang sebelum dibuka, sehingga cocok untuk stok rumah tangga atau daerah dengan akses pendinginan yang terbatas. Meski mengalami proses pemanasan yang lebih tinggi, kandungan protein, karbohidrat, dan mineral penting di dalamnya tetap terjaga dengan baik.
Bagi kamu yang sedang menjalani program diet rendah lemak atau perlu membatasi asupan kolesterol, susu skim bisa menjadi pilihan yang lebih sesuai. Kandungan proteinnya tetap tinggi, tetapi kadar lemaknya jauh lebih rendah dibandingkan susu full cream.
Sementara itu, susu kental manis sebaiknya diposisikan sebagai bahan tambahan makanan atau minuman, bukan sebagai pengganti susu untuk memenuhi kebutuhan gizi harian. Kandungan gulanya yang tinggi membuat produk ini lebih cocok digunakan sebagai pemanis atau pelengkap hidangan.
Baca juga: Apakah Susu Sapi A2 Lebih Sehat dari Susu Sapi Biasa? Simak Faktanya
Kesimpulan
Beragam produk susu yang tersedia di pasaran pada dasarnya hadir untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda-beda. Ada yang dibuat untuk mempertahankan rasa dan karakter alami susu, ada yang dirancang agar lebih awet, lebih praktis, atau lebih sesuai untuk kebutuhan diet tertentu.
Susu segar dan susu pasteurisasi umumnya menawarkan cita rasa yang paling mendekati susu alami. Sementara itu, susu UHT, susu steril, dan susu bubuk unggul dari segi kepraktisan serta masa simpan yang lebih panjang.
Ada pula susu skim yang cocok untuk membatasi asupan lemak, serta susu evaporasi dan susu kental manis yang lebih sering digunakan sebagai bahan masakan dan minuman.
Karena itu, tidak ada satu jenis susu yang selalu lebih baik daripada yang lain. Yang terpenting adalah memahami karakteristik masing-masing produk, membaca informasi nilai gizi pada kemasan, dan memilih jenis susu yang paling sesuai dengan kebutuhan, pola makan, serta gaya hidup kamu sehari-hari.
Referensi:
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). (2023). Pedoman Penetapan Kategori Pangan 01.0 Produk-Produk Susu dan Analognya. Direktorat Standardisasi Pangan Olahan.
Codex Alimentarius Commission. (1999). Codex General Standard for the Use of Dairy Terms (CXS 206-1999). Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Fakultas Peternakan Universitas Papua. (2025). Modul Teknologi Pengolahan Susu: Strategi Memperpanjang Umur Simpan. Manokwari: Universitas Papua.
Fauzi, Ahmad. (2006). Pengaruh Suhu dan Lama Proses Evaporasi di Dalam Evaporator Vakum Water Jet Terhadap Mutu Protein Susu Kental Manis. Skripsi Program Studi Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya. Malang.






