
Tahu dan tofu sering dianggap sebagai dua jenis makanan yang berbeda. Tidak sedikit yang mengira tofu merupakan tahu khas Jepang dengan tekstur yang lebih halus, sedangkan tahu adalah versi yang lebih padat dan umum dijumpai di Indonesia.
Padahal, tofu sebenarnya hanyalah sebutan untuk tahu dalam bahasa Inggris. Keduanya sama-sama dibuat dari sari kedelai, tetapi dapat memiliki karakteristik yang berbeda karena proses pembuatan, kadar air, jenis koagulan, hingga pengaruh budaya kuliner di berbagai negara.
Lantas, mengapa tahu dan tofu memiliki tekstur, tampilan, bahkan cara penyajian yang berbeda? Simak penjelasannya pada artikel berikut.
Apa Itu Tahu?
Tahu adalah salah satu produk olahan kedelai yang dibuat dengan cara menggumpalkan sari kedelai hingga membentuk padatan. Proses penggumpalan ini menggunakan bahan yang disebut koagulan, seperti batu tahu (kalsium sulfat), cuka, atau air asam. Di Indonesia, mutu tahu bahkan telah diatur dalam SNI 3142:2018 untuk memastikan kualitas dan keamanannya.
Salah satu ciri khas tahu yang banyak diproduksi di Indonesia adalah proses pengepresan setelah penggumpalan. Tahap ini bertujuan untuk mengurangi cairan sehingga tahu memiliki tekstur yang lebih padat dan kokoh. Proses tersebut juga membentuk pori-pori kecil yang membuat tahu lebih mudah menyerap bumbu saat dimasak.
Di Indonesia, kamu bisa menemukan berbagai jenis tahu dengan karakteristik yang berbeda. Misalnya, tahu putih atau tahu Cina yang bertekstur padat, tahu takwa dari Kediri yang berwarna kuning karena menggunakan kunyit, serta tahu Sumedang yang dikenal memiliki bagian dalam berongga dan kulit yang renyah setelah digoreng.
Apa Itu Tofu?
Tofu adalah sebutan untuk tahu dalam bahasa Inggris. Namun, di Indonesia istilah tofu umumnya digunakan untuk menyebut tahu dengan tekstur yang lebih lembut, terutama silken tofu atau tahu sutra.
Berbeda dengan tahu yang melalui proses pengepresan, tofu dibuat dengan menggumpalkan susu kedelai langsung di dalam wadah menggunakan bahan penggumpal (koagulan) seperti Glucono Delta-Lactone (GDL). Karena tidak dipres, sebagian besar cairannya tetap berada di dalam tahu sehingga menghasilkan tekstur yang sangat lembut, halus, dan menyerupai puding.
Selain silken tofu, kamu juga mungkin sering menjumpai egg tofu atau tofu telur di pasaran. Meskipun namanya mengandung kata tofu, produk ini dibuat dengan menambahkan telur ke dalam susu kedelai sebelum proses penggumpalan.
Penambahan telur memberikan cita rasa yang lebih gurih serta tekstur yang lebih kenyal setelah dimasak. Egg tofu umumnya dikemas dalam plastik berbentuk tabung sehingga mudah dikenali saat berbelanja.
Apakah Tahu dan Tofu Sebenarnya Sama?
Ya, tahu dan tofu pada dasarnya adalah makanan yang sama. Keduanya dibuat dari sari kedelai yang dipanaskan, kemudian ditambahkan bahan penggumpal (koagulan) hingga membentuk padatan.
Tahu dan tofu juga memiliki sejarah yang sama. Makanan ini pertama kali dikenal di Tiongkok, kemudian menyebar ke berbagai negara di Asia dan berkembang mengikuti budaya serta teknik pengolahan masing-masing.
Di Indonesia, istilah tahu lebih sering digunakan untuk produk lokal yang bertekstur padat, sedangkan tofu umumnya merujuk pada tahu dengan tekstur lebih lembut yang banyak dijual dalam kemasan.
Dengan kata lain, perbedaan tahu dan tofu bukan berasal dari bahan dasarnya, melainkan dari proses pembuatannya. Perbedaan tersebut memengaruhi tekstur, kadar air, hingga cara keduanya diolah menjadi berbagai hidangan.
Apa Perbedaan Tahu dan Tofu?
Meskipun berasal dari bahan dasar yang sama, tahu dan tofu memiliki beberapa perbedaan yang membuat karakteristiknya tidak sepenuhnya sama. Berikut ringkasannya.
| Kriteria | Tahu | Tofu |
|---|---|---|
| Asal penggunaan istilah | Umum digunakan di Indonesia untuk berbagai jenis tahu | Sebutan bahasa Inggris yang di Indonesia sering merujuk pada tahu sutra (silken tofu) |
| Tekstur | Lebih padat, berpori, dan kokoh | Sangat lembut, halus, dan mudah hancur |
| Kadar air | Lebih rendah | Lebih tinggi |
| Bahan penggumpal | Batu tahu (kalsium sulfat), cuka, atau air asam | Umumnya menggunakan GDL atau nigari |
| Proses pembuatan | Mengalami proses pengepresan untuk mengurangi cairan | Tidak melalui proses pengepresan sehingga lebih banyak menyimpan cairan |
| Penggunaan | Cocok untuk digoreng, ditumis, dibacem, atau dimasak berbumbu | Cocok untuk sup, hidangan berkuah, dessert, atau smoothie |

Kandungan Gizi Tahu dan Tofu
Baik tahu maupun tofu merupakan sumber protein nabati yang baik. Namun, kandungan gizinya dapat sedikit berbeda karena proses pembuatannya tidak sama.
Secara umum, tahu memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan tofu karena kadar airnya lebih rendah. Dalam 100 gram, tahu mengandung sekitar 8–17 gram protein, sedangkan tofu mengandung sekitar 4–5,5 gram protein.
Kandungan mineralnya juga dipengaruhi oleh bahan penggumpal (koagulan) yang digunakan. Tahu yang dibuat menggunakan kalsium sulfat umumnya mengandung lebih banyak kalsium sehingga baik untuk membantu menjaga kesehatan tulang.
Sementara itu, tofu yang dibuat menggunakan nigari mengandung lebih banyak magnesium, mineral yang berperan dalam menjaga fungsi otot dan saraf.
Mana yang Lebih Baik, Tahu atau Tofu?
Sebenarnya, tidak ada yang lebih baik secara mutlak. Pilihan antara tahu dan tofu dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta jenis masakan yang ingin kamu buat.
- Jika ingin meningkatkan asupan protein, tahu bisa menjadi pilihan karena kandungan proteinnya cenderung lebih tinggi.
- Jika menyukai tekstur yang lembut, tofu lebih cocok digunakan untuk sup, hidangan berkuah, atau dessert.
- Untuk lansia atau orang yang kesulitan mengunyah, tofu lebih mudah dikonsumsi karena teksturnya sangat halus.
Pada akhirnya, baik tahu maupun tofu sama-sama dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Bagaimana Cara Memilih Tahu dan Tofu yang Berkualitas?
Karena mengandung banyak air dan protein, tahu maupun tofu termasuk bahan pangan yang mudah rusak. Oleh karena itu, penting untuk memilih produk yang masih segar.
- Perhatikan aromanya. Pilih tahu atau tofu yang beraroma khas kedelai dan tidak berbau asam maupun menyengat.
- Amati warnanya. Pilih produk yang berwarna putih bersih atau kuning alami sesuai jenisnya. Hindari yang tampak kusam atau memiliki bercak jamur.
- Cek teksturnya. Permukaan tahu atau tofu sebaiknya terasa lembap dan tidak berlendir. Tekstur yang terlalu licin atau lengket bisa menjadi tanda produk sudah mulai rusak.
- Periksa kemasannya. Untuk tofu kemasan, pastikan wadah masih tersegel rapat dan tidak menggelembung karena hal tersebut dapat menandakan adanya pertumbuhan mikroorganisme di dalam kemasan.
Baca juga: Apa Itu Tauco? Sejarah, Jenis, dan Cara Menggunakannya
Kesimpulan
Tahu dan tofu pada dasarnya merupakan makanan yang sama karena sama-sama dibuat dari sari kedelai yang digumpalkan. Perbedaan keduanya terletak pada proses pembuatan, jenis bahan penggumpal (koagulan), dan kadar air yang digunakan. Faktor-faktor tersebut menghasilkan tekstur, karakteristik, serta cara pengolahan yang berbeda.
Tahu umumnya memiliki tekstur yang lebih padat dan berpori sehingga cocok untuk digoreng, ditumis, atau dimasak dengan bumbu yang kaya rasa. Sebaliknya, tofu memiliki tekstur yang lebih lembut dengan kadar air lebih tinggi sehingga sering digunakan dalam sup, hidangan berkuah, hingga dessert.
Tidak ada yang lebih baik di antara tahu dan tofu. Keduanya sama-sama kaya protein nabati dan dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang. Pilihan terbaik bergantung pada kebutuhan, preferensi tekstur, dan jenis masakan yang ingin kamu buat.
Referensi:
Badan Standardisasi Nasional. (2018). SNI 3142:2018: Tahu. Jakarta: BSN.
Midayanto, D. N., & Yuwono, S. S. (2014). Penentuan Atribut Mutu Tekstur Tahu Untuk Direkomendasikan Sebagai Syarat Tambahan Dalam Standar Nasional Indonesia. Jurnal Pangan dan Agroindustri, 2(4), 259-267
McHugh, T. (2016). How Tofu Is Processed. Institute of Food Technologists (IFT): Food Technology Magazine, 70(2).






