
Kol merupakan salah satu sayuran yang mudah ditemukan dan sering digunakan dalam berbagai masakan. Namun, ketika melihat kol ungu dan kol putih berdampingan di pasar atau supermarket, banyak orang bertanya-tanya: apakah perbedaan keduanya hanya soal warna, atau memang ada perbedaan kandungan gizinya?
Secara umum, baik kol ungu maupun kol putih sama-sama termasuk sayuran keluarga kubis yang kaya serat, vitamin, dan berbagai senyawa bermanfaat bagi kesehatan. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kol ungu memiliki kandungan antioksidan dan beberapa mikronutrien yang lebih tinggi dibandingkan kol putih.
Lalu, benarkah kol ungu lebih bergizi? Simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu Kol Ungu?
Kol ungu atau kubis merah adalah salah satu varietas kubis yang secara ilmiah dikenal sebagai Brassica oleracea var. capitata f. rubra. Sayuran ini masih satu keluarga dengan brokoli, kembang kol, kubis Brussel, dan sawi, yaitu keluarga Brassicaceae atau sayuran silangan (cruciferous vegetables).
Ciri khas kol ungu tentu terletak pada warna daunnya yang ungu kemerahan. Selain tampilannya yang lebih mencolok, warna tersebut juga menjadi petunjuk bahwa kol ungu mengandung senyawa antioksidan tertentu yang tidak ditemukan dalam jumlah sebanyak itu pada kol putih.
Kol ungu tumbuh optimal di daerah beriklim sejuk dan telah lama dikonsumsi di berbagai negara. Bahkan pada masa lalu, kubis yang difermentasi menjadi sauerkraut sering dibawa dalam pelayaran jarak jauh karena mampu bertahan lama dan menjadi sumber vitamin C yang penting untuk membantu mencegah penyakit skurvi.
Saat ini, kol ungu banyak digunakan dalam salad, acar, tumisan, hingga berbagai hidangan modern karena rasanya yang sedikit lebih manis dan teksturnya yang renyah dibandingkan kol putih.
Mengapa Kol Ungu Berwarna Ungu?
Warna ungu yang menjadi ciri khas kol ungu berasal dari senyawa alami bernama antosianin. Antosianin termasuk kelompok flavonoid, yaitu pigmen tumbuhan yang juga berperan sebagai antioksidan. Senyawa inilah yang memberi warna merah, ungu, atau biru pada berbagai buah dan sayuran, seperti blueberry, anggur, dan ubi ungu.
Pada kol ungu, jenis antosianin yang paling banyak ditemukan adalah turunan sianidin (cyanidin). Selain membuat tampilannya lebih menarik, antosianin juga berkontribusi terhadap berbagai manfaat kesehatan karena kemampuannya membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
Menariknya, warna antosianin dapat berubah tergantung tingkat keasaman atau pH lingkungannya. Dalam kondisi asam, kol ungu cenderung berwarna merah keunguan. Sementara itu, pada kondisi netral hingga basa, warnanya bisa berubah menjadi biru, hijau, bahkan kekuningan. Karena sifat ini, kol ungu sering digunakan sebagai indikator pH alami dalam berbagai percobaan sains sederhana.
Kandungan Gizi Kol Ungu
Baik kol ungu maupun kol putih sama-sama rendah kalori dan kaya serat. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kol ungu memiliki kandungan vitamin, mineral, dan antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan kol putih.
Beberapa keunggulan gizi kol ungu antara lain:
1. Lebih Kaya Vitamin C
Kol ungu mengandung vitamin C lebih tinggi dibandingkan kol putih. Vitamin ini berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh, membantu pembentukan kolagen, serta bertindak sebagai antioksidan yang melindungi sel dari kerusakan.
2. Mengandung Lebih Banyak Beta Karoten dan Vitamin A
Dibandingkan kol putih, kol ungu memiliki kandungan beta karoten dan vitamin A yang lebih tinggi. Nutrisi ini berperan dalam menjaga kesehatan mata, kulit, dan sistem kekebalan tubuh.
3. Mengandung Mineral Penting
Kol ungu juga menyediakan berbagai mineral yang dibutuhkan tubuh, seperti:
- Kalium, yang membantu menjaga tekanan darah tetap normal.
- Zat besi, yang berperan dalam pembentukan sel darah merah.
- Mangan, yang mendukung metabolisme dan fungsi antioksidan tubuh.
4. Kaya Antioksidan Antosianin
Keunggulan terbesar kol ungu dibandingkan kol putih adalah kandungan antosianinnya. Antioksidan ini membantu melindungi sel tubuh dari stres oksidatif yang berkaitan dengan berbagai penyakit kronis.
5. Mengandung Senyawa Glukosinolat
Seperti sayuran silangan lainnya, kol ungu mengandung glukosinolat, yaitu senyawa sulfur alami yang akan diubah tubuh menjadi senyawa aktif seperti sulforafan. Senyawa ini banyak diteliti karena potensinya dalam mendukung kesehatan dan membantu melindungi sel dari kerusakan.
Secara keseluruhan, jika dibandingkan dari sisi kandungan antioksidan, vitamin, dan beberapa mineral penting, kol ungu memang memiliki nilai gizi yang sedikit lebih unggul daripada kol putih. Namun, keduanya tetap termasuk sayuran yang sangat baik untuk dimasukkan ke dalam pola makan sehari-hari.
Manfaat Kol Ungu untuk Kesehatan
Selain kaya vitamin dan mineral, kol ungu juga mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti antosianin, polifenol, dan glukosinolat yang berkontribusi terhadap manfaat kesehatannya. Berikut beberapa manfaat kol ungu yang paling banyak diteliti:
A. Membantu Menjaga Kesehatan Jantung
Kandungan antosianin pada kol ungu diketahui memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi yang dapat membantu melindungi pembuluh darah dari kerusakan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa antosianin berpotensi membantu mengurangi peradangan, mencegah oksidasi kolesterol LDL (kolesterol “jahat”), serta mendukung kesehatan sistem kardiovaskular secara keseluruhan.
B. Mendukung Kesehatan Pencernaan
Kol ungu mengandung serat dan polifenol yang dapat berperan sebagai prebiotik, yaitu makanan bagi bakteri baik di dalam usus. Kombinasi keduanya membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus, mendukung kesehatan saluran cerna, serta membantu produksi asam lemak rantai pendek (SCFA) yang penting untuk menjaga lapisan usus tetap sehat.
C. Berpotensi Menjaga Kesehatan Otak
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa antioksidan dalam kol ungu dapat membantu melindungi sel saraf dari stres oksidatif dan peradangan. Karena itu, konsumsi makanan kaya polifenol seperti kol ungu dikaitkan dengan kesehatan otak yang lebih baik dan berpotensi membantu menurunkan risiko gangguan neurodegeneratif seiring bertambahnya usia.
D. Dapat Mendukung Pengelolaan Berat Badan
Kol ungu termasuk sayuran rendah kalori tetapi tinggi serat. Kombinasi ini dapat membantu kamu merasa kenyang lebih lama sehingga membantu mengontrol asupan makan sehari-hari.
Beberapa penelitian pada hewan juga menunjukkan bahwa senyawa bioaktif dalam kol ungu berpotensi membantu mengurangi penumpukan lemak dan kolesterol, meskipun penelitian lebih lanjut pada manusia masih diperlukan.
E. Kaya Antioksidan untuk Melindungi Sel Tubuh
Salah satu keunggulan utama kol ungu dibandingkan kol putih adalah kandungan antioksidannya yang lebih tinggi. Antioksidan membantu melawan radikal bebas yang dapat merusak sel tubuh dan berkontribusi terhadap berbagai penyakit kronis.
Karena itu, rutin mengonsumsi sayuran berwarna seperti kol ungu dapat menjadi bagian dari pola makan sehat untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Apa Perbedaan Kol Ungu dan Kol Putih?

Meski berasal dari spesies yang sama, kol ungu dan kol putih memiliki beberapa perbedaan dari segi kandungan gizi, rasa, tekstur, hingga penggunaannya dalam masakan.
| Aspek | Kol Ungu | Kol Putih |
|---|---|---|
| Warna | Ungu kemerahan karena mengandung antosianin | Hijau muda hingga putih kehijauan |
| Kandungan Antioksidan | Lebih tinggi karena kaya antosianin | Lebih rendah karena hampir tidak mengandung antosianin |
| Vitamin dan Mineral | Lebih tinggi vitamin C, vitamin A, beta karoten, zat besi, dan mangan | Relatif lebih tinggi vitamin K dan folat (vitamin B9) |
| Rasa | Sedikit lebih kuat dan agak getir | Lebih manis dan ringan |
| Tekstur | Daun lebih tebal, padat, dan renyah | Daun lebih lunak dan berair |
| Penggunaan dalam Masakan | Cocok untuk salad, acar, dan garnish karena warnanya menarik | Lebih sering digunakan untuk tumisan, sup, kimchi, dan sauerkraut |
| Keunggulan Utama | Kaya antioksidan dan senyawa bioaktif | Lebih mudah diolah dan cocok untuk fermentasi |
Secara umum, kol ungu unggul dari sisi kandungan antioksidan dan beberapa mikronutrien penting. Namun, kol putih tetap menjadi pilihan yang baik karena kaya vitamin K, folat, dan memiliki rasa yang lebih netral sehingga mudah dipadukan dengan berbagai hidangan.
Cara Mengolah Kol Ungu agar Kandungan Gizinya Tetap Terjaga
Agar kandungan vitamin, antioksidan, dan senyawa aktif di dalam kol ungu tidak banyak berkurang, kamu bisa menerapkan beberapa tips berikut:
- Konsumsi dalam keadaan segar sebagai campuran salad, coleslaw, atau lalapan untuk mempertahankan vitamin C dan antioksidan secara maksimal.
- Pilih metode mengukus (steaming) dibandingkan merebus. Pengukusan membantu menjaga lebih banyak vitamin dan senyawa bioaktif tetap utuh.
- Masak dalam waktu singkat jika ingin ditumis atau dipanaskan. Paparan panas yang terlalu lama dapat menurunkan kandungan antioksidan dan vitamin yang sensitif terhadap suhu.
- Gunakan microwave dengan bijak. Pemanasan singkat dengan daya sedang dapat membantu mempertahankan lebih banyak nutrisi dibandingkan memasak terlalu lama.
- Hindari merebus terlalu lama karena sebagian vitamin C dan antioksidan dapat larut ke dalam air rebusan.
- Tambahkan bahan asam, seperti perasan lemon atau cuka, saat mengolah kol ungu. Cara ini membantu mempertahankan warna ungunya tetap cerah sekaligus mengurangi aroma sulfur yang khas.
- Potong sesaat sebelum digunakan untuk membantu menjaga kandungan vitamin dan mencegah oksidasi berlebihan pada permukaan sayuran.
Dengan pengolahan yang tepat, kamu bisa mendapatkan manfaat maksimal dari kol ungu, terutama kandungan antosianin yang menjadi salah satu keunggulan utamanya dibandingkan kol putih.
Tips Menyimpan Kol Ungu agar Tetap Segar
Kol ungu termasuk sayuran yang cukup awet jika disimpan dengan cara yang tepat. Kuncinya adalah menjaga suhu tetap dingin, mempertahankan kelembapan, dan menghindarkannya dari paparan gas etilen yang dapat mempercepat pembusukan.
Berikut beberapa tips menyimpan kol ungu agar tetap segar lebih lama:
- Simpan di dalam kulkas dengan suhu sedekat mungkin ke 0°C. Suhu dingin membantu memperlambat proses respirasi dan menjaga kesegaran kol lebih lama.
- Letakkan di laci sayuran (crisper drawer) karena area ini memiliki tingkat kelembapan yang lebih stabil dibandingkan bagian kulkas lainnya.
- Jauhkan dari buah penghasil etilen, seperti apel, pisang, alpukat, dan pir. Gas etilen dapat mempercepat proses penuaan sehingga daun kol lebih cepat layu dan menguning.
- Jangan mencuci kol sebelum disimpan. Kelembapan berlebih pada permukaan daun dapat memicu pertumbuhan jamur dan mempercepat pembusukan. Cuci kol hanya saat akan digunakan.
- Biarkan daun luar tetap menempel karena berfungsi sebagai lapisan pelindung alami yang membantu menjaga kelembapan dan melindungi bagian dalam kol dari kerusakan.
- Bungkus kol dengan tisu dapur atau kertas, lalu masukkan ke dalam kantong plastik berlubang atau wadah yang memiliki sedikit sirkulasi udara. Cara ini membantu menyerap kelembapan berlebih sekaligus mencegah kol menjadi kering.
- Simpan dalam keadaan utuh jika memungkinkan. Kol yang sudah dipotong cenderung lebih cepat kehilangan kesegaran dan kandungan vitamin tertentu.
Dengan penyimpanan yang tepat, kol ungu utuh dapat bertahan segar hingga beberapa minggu di dalam kulkas.
Baca juga: Apakah Tomat Rampai Sama Dengan Tomat Ceri? Simak Faktanya
Kesimpulan
Jika dibandingkan dengan kol putih, kol ungu memang memiliki keunggulan dari sisi kandungan antioksidan, vitamin C, vitamin A, serta beberapa mineral penting. Keunggulan ini berasal dari kandungan antosianin yang memberikan warna ungu khas sekaligus berperan sebagai antioksidan alami bagi tubuh.
Meski begitu, bukan berarti kol putih kalah sepenuhnya. Kol putih tetap merupakan sumber serat, vitamin K, dan folat yang baik, serta lebih sering digunakan dalam berbagai olahan fermentasi seperti kimchi dan sauerkraut.
Jadi, apakah kol ungu lebih bergizi daripada kol putih? Secara umum, ya, terutama jika dilihat dari kandungan antioksidan dan beberapa mikronutrien penting. Namun, keduanya tetap merupakan sayuran sehat yang bisa menjadi bagian dari pola makan seimbang.
Untuk mendapatkan manfaat terbaik, kamu bisa mengonsumsi kol ungu dan kol putih secara bergantian sesuai kebutuhan dan selera.
Referensi:
Ahmadiani, N., Robbins, R. J., Collins, T. M., & Giusti, M. M. (2014). Anthocyanins Contents, Profiles, and Color Characteristics of Red Cabbage Extracts from Different Cultivars and Maturity Stages. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 62(30), 7524–7531
Joo, H. K., Choi, S., Lee, Y. R., et al. (2018). Anthocyanin-Rich Extract from Red Chinese Cabbage Alleviates Vascular Inflammation in Endothelial Cells and Apo E−/− Mice. International Journal of Molecular Sciences, 19(3), 816.
Vega-Galvez, A., Gomez-Perez, L. S., Zepeda, F., et al. (2023). Assessment of Bio-Compounds Content, Antioxidant Activity, and Neuroprotective Effect of Red Cabbage (Brassica oleracea var. Capitata rubra) Processed by Convective Drying at Different Temperatures. Antioxidants (Basel), 12(9), 1789.






