Ikan teri bukan sekadar lauk sederhana. Di balik ukurannya yang mungil, ikan ini menyimpan protein, kalsium, zat besi, hingga asam amino yang cukup tinggi karena hampir seluruh bagian tubuhnya ikut dikonsumsi. Tak heran jika ikan teri sering dijadikan lauk harian, campuran sambal, hingga penyedap alami berbagai masakan.

Pernahkah kamu menganggap ikan teri hanya sebagai pelengkap sambal atau makanan “tanggal tua”?
Padahal, dibanding banyak ikan lainnya, ikan teri justru punya kandungan mineral yang sangat tinggi. Bahkan karena dimakan bersama tulangnya, kandungan kalsiumnya jauh lebih besar dibanding beberapa jenis ikan berukuran besar.
Selain itu, banyak juga yang masih bingung soal cara membersihkan ikan teri, kenapa warnanya bisa berbeda-beda, sampai bagaimana cara menyimpannya supaya tidak cepat tengik.
Yuk, kenalan lebih dekat dengan si ikan kecil yang ternyata menyimpan segudang fakta menarik ini!
Apa Itu Ikan Teri?
Ikan teri merupakan kelompok ikan laut kecil dari famili Engraulidae yang hidup bergerombol (schooling fish) di wilayah pesisir hingga perairan laut dangkal.
Di Indonesia, ikan teri menjadi salah satu hasil tangkapan laut dengan nilai ekonomi tinggi karena mudah ditemukan, harganya terjangkau, dan dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan.
Berbeda dengan banyak ikan lainnya, ikan teri umumnya dikonsumsi hampir seluruh bagian tubuhnya, mulai dari kepala, daging, hingga tulangnya. Hal inilah yang membuat kandungan gizinya menjadi sangat padat terutama mineral seperti kalsium dan fosfor.
Selain dijual dalam keadaan segar, ikan teri juga banyak dipasarkan dalam bentuk ikan teri kering melalui proses penggaraman dan pengeringan agar daya simpannya lebih lama.
Jenis-Jenis Ikan Teri yang Sering Dijumpai
Kalau kamu pergi ke pasar, mungkin kamu akan menemukan beberapa jenis ikan teri dengan ukuran dan warna yang berbeda.
Beberapa yang paling sering dijumpai antara lain:
- Teri nasi: berukuran sangat kecil dengan warna putih bening.
- Teri medan: berukuran mungil dan sering digunakan sebagai pelengkap sambal atau camilan.
- Teri jengki: ukurannya sedikit lebih besar sehingga sering dijadikan lauk goreng.
- Teri tawar: berasal dari perairan tawar dan banyak diolah menjadi ikan asin.
Meskipun berbeda ukuran maupun habitatnya, secara umum semua ikan teri tetap dikenal sebagai sumber protein hewani yang praktis dan bernilai gizi tinggi.
Ukuran dan Warna Ikan Teri, Kenapa Bisa Berbeda?
Pada kondisi segar, sebagian besar ikan teri memiliki panjang sekitar 6–9 cm, meskipun beberapa spesies dapat berukuran lebih kecil maupun lebih besar.
Warna tubuhnya juga cukup khas, yaitu putih bening hingga sedikit kemerahan dengan garis memanjang berwarna keperakan di sepanjang sisi tubuhnya.
Setelah melalui proses penggaraman dan pengeringan, warna ikan teri biasanya berubah menjadi putih kekuningan atau kecokelatan. Perubahan ini merupakan proses alami akibat berkurangnya kadar air selama pengeringan.
Jika warna ikan teri berubah menjadi kehitaman, kusam, atau muncul bercak jamur, sebaiknya jangan dikonsumsi lagi karena menandakan kualitasnya sudah menurun.
Kandungan Gizi Ikan Teri
Meskipun ukurannya kecil, kandungan gizi ikan teri tergolong sangat lengkap.
Dalam setiap 100 gram ikan teri terkandung berbagai zat gizi penting seperti:
- Kalsium yang Tinggi: Tulang ikan teri yang empuk adalah sumber kalsium yang luar biasa. Ikan teri basah atau segar mengandung 500 mg kalsium, sedangkan pada ikan teri kering tawar, kadar kalsiumnya melesat hingga 2.381 mg per 100 gram.
- Protein dan Asam Amino Lengkap: Ikan teri segar mengandung sekitar 16 gram protein, sementara ikan teri kering menyumbang hingga 68,7 gram protein. Ikan teri juga kaya akan asam amino esensial seperti lisin dan arginin serta asam amino non-esensial dominan berupa asam glutamat.
- Kaya Mineral Esensial: Ikan pelagis mungil ini adalah gudang mineral mikro dan makro, termasuk zat besi (mencapai 23,40 mg pada teri kering), fosfor, dan iodium.

Manfaat Ikan Teri, Bukan Cuma Tinggi Kalsium
Banyak orang mengenal ikan teri sebagai sumber kalsium. Padahal, manfaat ikan teri jauh lebih luas dari itu.
Karena dikonsumsi bersama tulang, kepala, dan sebagian organ tubuhnya, hampir seluruh nutrisi ikan ikut termanfaatkan. Inilah yang membuat ikan teri menjadi salah satu bahan pangan dengan nutrient density (kepadatan gizi) yang sangat tinggi.
1. Menjadi Salah Satu Sumber Protein Hewani yang Praktis
Protein merupakan komponen utama pembentuk otot, enzim, hormon, hingga berbagai jaringan tubuh.
Menariknya, ikan teri mengandung protein berkualitas tinggi dengan komposisi asam amino esensial yang lengkap.
Pada ikan teri kering, kandungan proteinnya bahkan dapat mencapai sekitar 68,7 gram per 100 gram, jauh lebih tinggi dibandingkan ikan teri segar karena kadar airnya sudah berkurang selama proses pengeringan.
Karena itu, meskipun porsinya sedikit, ikan teri tetap mampu menyumbang protein dalam jumlah yang cukup besar.
2. Kaya Kalsium karena Dimakan Bersama Tulangnya
Berbeda dengan ikan berukuran besar yang tulangnya dibuang, ikan teri justru dikonsumsi secara utuh.
Artinya, seluruh kalsium yang terdapat pada tulang ikan ikut masuk ke dalam makanan.
Sebagai gambaran, ikan teri segar mengandung sekitar 500 mg kalsium per 100 gram, sedangkan ikan teri kering dapat mencapai lebih dari 2.000 mg kalsium per 100 gram.
Inilah alasan ikan teri sering dijadikan salah satu sumber kalsium alami dalam pola makan masyarakat Indonesia.
3. Memberikan Rasa Gurih Alami Tanpa Banyak Penyedap
Pernah bertanya-tanya kenapa tumis teri atau sambal teri terasa sangat gurih meskipun bumbunya sederhana?
Jawabannya berasal dari kandungan asam glutamat alami pada protein ikan teri.
Asam glutamat merupakan salah satu asam amino yang berperan menghasilkan sensasi umami, yaitu rasa gurih alami yang menjadi salah satu dari lima rasa dasar pada lidah manusia.
Karena itu, ikan teri sering digunakan sebagai bahan kaldu, sambal, hingga campuran nasi goreng tanpa perlu terlalu banyak penyedap tambahan.
4. Mudah Diolah Menjadi Berbagai Menu
Selain bergizi, ikan teri juga sangat fleksibel di dapur.
Kamu bisa mengolahnya menjadi:
- sambal teri
- balado teri
- rempeyek teri
- nasi teri
- tumis teri kacang
- campuran sayur bening
- topping bubur
- taburan nasi uduk
Ukurannya yang kecil membuat ikan teri cepat matang sehingga cocok dijadikan lauk praktis sehari-hari.
Cara Membersihkan Ikan Teri yang Benar
Banyak orang masih bingung apakah ikan teri perlu dibuang kepala atau durinya.
Jawabannya tergantung jenis ikan terinya.
Jika menggunakan ikan teri segar
Karena tubuh ikan teri sangat kecil, kamu tidak perlu membuang kepala maupun tulangnya.
Cukup lakukan langkah berikut:
- bilas menggunakan air mengalir
- buang kotoran atau pasir yang menempel
- tiriskan hingga air benar-benar habis
- langsung olah sesuai kebutuhan
Jika ukuran ikan terinya cukup besar, kamu bisa membuang isi perutnya agar rasa masakan tidak pahit.
Jika menggunakan ikan teri kering
Untuk ikan teri asin atau ikan teri kering:
- bilas sebentar menggunakan air bersih
- jika ingin mengurangi rasa asin, rendam sekitar 5–10 menit menggunakan air hangat
- tiriskan hingga benar-benar kering sebelum digoreng agar hasilnya lebih renyah
Hindari merendam terlalu lama karena dapat membuat teksturnya menjadi lembek dan sebagian cita rasanya ikut larut ke dalam air.
Cara Menyimpan Ikan Teri agar Awet dan Tidak Tengik
Baik ikan teri segar maupun ikan teri kering memiliki cara penyimpanan yang berbeda.
Untuk ikan teri segar
Karena kandungan airnya tinggi, ikan teri segar termasuk bahan pangan yang sangat mudah rusak.
Kalau tidak langsung dimasak:
- simpan dalam wadah kedap udara
- letakkan di chiller jika akan digunakan dalam 1–2 hari
- jika lebih lama, simpan di freezer agar kualitasnya tetap terjaga
Sebaiknya bagi menjadi beberapa porsi sekali masak agar tidak perlu berkali-kali mencairkan ikan dari freezer.
Untuk ikan teri kering
Musuh utama ikan teri kering adalah kelembapan udara.
Ketika menyerap uap air, teksturnya akan berubah, jamur lebih mudah tumbuh, dan lemak ikan lebih cepat mengalami oksidasi sehingga muncul bau tengik.
Agar lebih awet:
- simpan dalam stoples kaca atau wadah kedap udara
- pastikan ikan benar-benar dingin setelah digoreng sebelum disimpan
- letakkan di tempat yang kering dan sejuk
- untuk penyimpanan lebih lama, simpan di kulkas dalam wadah tertutup rapat
Dengan penyimpanan yang benar, kualitas ikan teri dapat bertahan jauh lebih lama tanpa kehilangan kerenyahannya.
Ciri Ikan Teri yang Sudah Tidak Layak Dikonsumsi
Sebelum mengolah ikan teri, selalu lakukan pemeriksaan sederhana dan segera buang ikan teri jika menunjukkan tanda-tanda berikut:
1. Bau tengik
Bau tengik muncul akibat oksidasi lemak selama penyimpanan. Aromanya berbeda dengan aroma ikan asin yang normal karena terasa menusuk dan tidak sedap.
2. Muncul jamur
Jika terlihat bercak putih, hijau, hitam, atau berbulu pada permukaan ikan teri, kemungkinan telah terjadi pertumbuhan kapang akibat kelembapan yang terlalu tinggi. Ikan seperti ini sebaiknya tidak lagi dikonsumsi.
3. Tekstur berubah lembek
Ikan teri kering yang berkualitas memiliki tekstur padat dan kering. Apabila mulai terasa lembap, mudah hancur, atau lengket saat disentuh, kualitasnya sudah menurun.
4. Warna berubah kusam
Ikan teri segar memiliki warna bening hingga putih keperakan. Jika warnanya berubah menjadi kecokelatan, kusam, atau kehitaman disertai bau tidak sedap, sebaiknya jangan dikonsumsi lagi.
Kesimpulannya, Jangan Remehkan Ikan Teri
Meski ukurannya kecil, ikan teri merupakan salah satu bahan pangan lokal dengan kandungan gizi yang sangat padat.
Protein berkualitas tinggi, kalsium, fosfor, zat besi, hingga asam glutamat alami membuat ikan teri bukan hanya lezat, tetapi juga menjadi bahan dapur yang sangat serbaguna.
Supaya kualitas gizinya tetap terjaga, pastikan kamu membersihkan ikan teri dengan benar, menyimpannya di wadah kedap udara, serta mengenali tanda-tanda ketika ikan teri sudah tidak layak dikonsumsi.
Kalau selama ini kamu menganggap ikan teri hanya cocok dijadikan lauk sederhana, mungkin sekarang saatnya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Di balik tubuhnya yang mungil, tersimpan kandungan gizi yang bahkan mampu bersaing dengan banyak sumber protein hewani lainnya.
Masih penasaran dengan fakta menarik tentang bahan makanan sehari-hari? Yuk, jelajahi artikel Delinutri lainnya untuk menemukan sains di balik dapur, mulai dari cara menyimpan bahan makanan, mengenali ciri pangan yang masih layak konsumsi, hingga membongkar berbagai mitos makanan yang ternyata tidak selalu benar.
Referensi:
Aryati, E., & Dharmayanti, A. W. S. (2014). Manfaat Ikan Teri Segar (Stolephorus sp) Terhadap Pertumbuhan Tulang dan Gigi. ODONTO: Dental Journal, 1(2), 52-56.
Kamariana., Hasyatillah, B., Novelin., Pasapan, D., & Nurilmi. (2021). Sosialisasi BAKTERI (Bakso Ikan Teri) & Edukasi Gizi Sebagai Upaya Anak Gemar Makan Ikan Pada Siswa SD Karuwisi II Kota Makassar. Jurnal Gesit, 2(1), 48-52.
Pontoh, S., Pandey, E. V., & Palenewen, J. C. V. (2023). Microbiological and Organoleptic Quality of Dried Anchovies (Stolephorus sp) in Tuntung Village. Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis, 12(2), 75-85.
Tohata, V. D., Sormin, R. B. D., & Savitri, I. K. E. (2021). Profil Asam Amino dan Kandungan Mineral Ikan Teri (Stolephorus commersonii) Segar dan Kering dari Desa Siahoni Kabupaten Buru. Jurnal Teknologi Hasil Perikanan, 1(2), 59-70.






