
Cumi telur menjadi salah satu seafood yang banyak digemari karena bagian putih di dalam tubuhnya yang lembut, gurih, dan sering dianggap sebagai telur. Namun, tahukah kamu bahwa anggapan tersebut belum sepenuhnya benar?
Di media sosial maupun di pasar, masih banyak yang meyakini bahwa cumi telur sebenarnya adalah sotong yang sedang bertelur, bukan cumi-cumi. Ada pula yang mengira seluruh bagian putih di dalam tubuhnya merupakan kumpulan telur yang siap dikeluarkan.
Lantas, benarkah cumi telur yang dijual di pasaran sebenarnya adalah sotong? Apakah bagian putih di dalamnya benar-benar telur, atau justru organ lain? Simak penjelasan ilmiahnya berikut.
Apa Itu Cumi Telur?
Cumi telur bukanlah nama satu spesies tertentu, melainkan sebutan untuk cumi-cumi betina yang sedang membawa telur atau memasuki fase matang gonad. Pada kondisi ini, organ reproduksi di dalam tubuh cumi berkembang sehingga bagian perutnya tampak lebih besar dibandingkan cumi biasa.
Di Indonesia, cumi telur yang banyak dijual umumnya berasal dari famili Loliginidae, terutama spesies Uroteuthis chinensis (cumi Bangka), serta beberapa spesies dari genus Loligo dan Photololigo.
Seperti cumi-cumi pada umumnya, hewan ini termasuk kelompok moluska kelas Cephalopoda dengan tubuh memanjang menyerupai torpedo. Saat memasuki masa reproduksi, sebagian besar energi cumi betina dialihkan untuk membentuk organ reproduksi dan telur sehingga tubuhnya tampak lebih gemuk.
Benarkah Bagian Putih di Dalam Cumi Telur adalah Telur?
Tidak sepenuhnya. Bagian putih yang terdapat di dalam cumi telur bukan hanya berisi telur, tetapi juga terdiri dari organ reproduksi yang membantu proses pembentukan dan perlindungan telur.
Secara umum, bagian ini tersusun atas tiga komponen utama, yaitu ovarium yang berisi oosit (calon telur), kelenjar nidamental, dan kelenjar nidamental aksesoris.
Bagian putih yang paling banyak terlihat sebenarnya adalah kelenjar nidamental, yaitu organ yang menghasilkan lapisan gelatin untuk membungkus telur sebelum dilepaskan ke lingkungan. Selain itu, terdapat kelenjar nidamental aksesoris yang sering tampak berwarna oranye karena mengandung bakteri simbiotik yang membantu melindungi telur dari mikroorganisme lain.
Dalam dunia kuliner, kedua kelenjar tersebut justru menjadi bagian yang paling disukai karena kaya akan protein dan glikoprotein sehingga menghasilkan tekstur yang lembut serta rasa gurih yang khas.
Benarkah Cumi Telur yang Dijual di Pasaran Sebenarnya Adalah Sotong?
Jawabannya tidak. Cumi telur yang dijual di pasaran tetap merupakan cumi-cumi, bukan sotong.
Kesalahpahaman ini biasanya muncul karena beberapa jenis cumi, seperti Sepioteuthis lessoniana, memiliki sirip yang lebar di sepanjang sisi tubuh sehingga sekilas terlihat mirip dengan sotong. Selain itu, cumi betina yang sedang membawa telur memiliki perut yang lebih membulat sehingga bentuk tubuhnya tampak lebih gemuk dibandingkan cumi biasa.
Meski terlihat mirip, cumi dan sotong merupakan dua kelompok hewan yang berbeda. Berbagai penelitian, termasuk menggunakan metode DNA barcoding, menunjukkan bahwa produk yang dipasarkan sebagai cumi telur tetap berasal dari spesies cumi-cumi, bukan sotong.
Bagaimana Cara Membedakan Cumi dan Sotong?

Sekilas cumi dan sotong memang terlihat mirip. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, keduanya memiliki beberapa perbedaan yang cukup mudah dikenali.
| Perbedaan | Cumi | Sotong |
|---|---|---|
| Bentuk tubuh | Panjang dan ramping seperti torpedo | Lebih pendek, lebar, dan cenderung oval |
| Cangkang dalam | Memiliki gladius (pen) yang tipis, transparan, dan lentur | Memiliki cuttlebone yang putih, keras, dan berkapur |
| Pupil mata | Bulat | Berbentuk menyerupai huruf W atau M |
| Sirip | Umumnya berada di bagian belakang tubuh | Memanjang hampir di seluruh sisi tubuh |
| Tinta | Lebih encer dengan warna hitam kebiruan | Lebih kental, berwarna hitam pekat, dan aromanya lebih lembut |
Meski memiliki beberapa kemiripan, cumi dan sotong merupakan dua kelompok hewan yang berbeda. Karena itu, cumi telur yang dijual di pasaran tetap berasal dari cumi-cumi, bukan sotong.
Kandungan Gizi Cumi Telur
Selain memiliki cita rasa yang khas, cumi telur juga mengandung berbagai zat gizi penting. Organ reproduksi yang berkembang pada cumi betina membuat bagian dalamnya kaya akan protein, lemak sehat, dan berbagai mineral.
Protein Berkualitas Tinggi
Cumi telur mengandung sekitar 15–19% protein dengan komposisi asam amino esensial yang lengkap. Protein ini dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan, termasuk otot, kulit, serta berbagai enzim dan hormon.
Selain itu, cumi telur juga kaya akan asam glutamat, yaitu asam amino yang memberikan cita rasa gurih alami (umami) sehingga tidak heran jika bagian putihnya terasa lebih lezat dibandingkan daging cumi biasa.
Kaya Omega-3
Cumi telur merupakan sumber asam lemak omega-3, terutama DHA (docosahexaenoic acid) dan EPA (eicosapentaenoic acid). Kedua lemak sehat ini berperan penting dalam menjaga fungsi otak, kesehatan jantung, serta membantu mengurangi peradangan di dalam tubuh.
Pada cumi betina, kandungan DHA cenderung lebih tinggi karena dibutuhkan untuk mendukung perkembangan embrio saat telur dibuahi.
Mengandung Berbagai Mineral Penting
Cumi telur juga mengandung berbagai mineral, seperti selenium, seng (zinc), tembaga, serta senyawa alami taurin. Selenium berperan sebagai antioksidan, seng membantu menjaga sistem kekebalan tubuh, sedangkan tembaga berperan dalam pembentukan sel darah merah.
Sementara itu, taurin merupakan asam amino yang banyak ditemukan pada makanan laut dan berperan dalam mendukung fungsi saraf, otot, serta kesehatan jantung.
Manfaat Cumi Telur untuk Kesehatan
Berkat kandungan protein, omega-3, vitamin, dan mineralnya, cumi telur berpotensi memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar sebagai bagian dari pola makan seimbang.
- Menjaga kesehatan jantung. Kandungan EPA, DHA, dan taurin membantu menjaga fungsi jantung serta mendukung kesehatan pembuluh darah.
- Mendukung fungsi otak. DHA merupakan komponen penting penyusun sel saraf yang berperan dalam menjaga kemampuan belajar, memori, dan fungsi kognitif.
- Membantu menjaga sistem imun. Selenium dan seng berperan dalam mendukung kerja sistem kekebalan tubuh sehingga membantu melawan infeksi.
- Mendukung pembentukan sel darah merah. Kandungan tembaga dan vitamin B12 membantu proses pembentukan hemoglobin dan menjaga produksi sel darah merah tetap normal.
Tips Memilih Cumi Telur yang Segar
Cumi telur yang segar memiliki tekstur lebih kenyal, rasa lebih manis alami, dan aroma yang tidak terlalu amis. Saat membeli di pasar atau supermarket, perhatikan beberapa ciri berikut agar mendapatkan kualitas terbaik.
Cium aromanya. Cumi segar memiliki aroma khas laut yang ringan. Hindari memilih cumi yang mengeluarkan bau amis menyengat, amonia, atau bau busuk karena menandakan proses pembusukan telah dimulai.
Perhatikan warna tubuhnya. Pilih cumi dengan kulit berwarna putih cerah atau sedikit mengilap, disertai bintik-bintik kromatofor yang masih terlihat jelas. Hindari cumi yang tampak kusam, kemerahan, atau kecokelatan.
Cek teksturnya. Tekan perlahan bagian mantel cumi. Cumi yang masih segar akan terasa padat, kenyal, dan langsung kembali ke bentuk semula setelah ditekan.
Lihat mata dan kepalanya. Mata sebaiknya tampak jernih, bening, dan sedikit menonjol. Pastikan pula kepala masih melekat kuat pada tubuh karena kepala yang mudah terlepas dapat menjadi tanda kualitasnya mulai menurun.
Baca juga: 7 Tips Agar Cumi Tidak Alot dan Tidak Amis Saat Dimasak
Kesimpulan
Cumi telur yang dijual di pasaran bukanlah sotong, melainkan cumi-cumi betina yang sedang berada pada fase matang gonad. Bagian putih di dalam tubuhnya juga bukan hanya telur, tetapi merupakan gabungan ovarium dan organ reproduksi yang berperan dalam pembentukan serta perlindungan telur.
Selain memiliki cita rasa yang gurih, cumi telur juga mengandung protein, omega-3, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh. Agar tetap nikmat dan bernilai gizi optimal, pilihlah cumi yang masih segar dan olah dengan teknik memasak yang tepat sehingga teksturnya tetap empuk.
Referensi:
Cui, Z., Dubova, H., & Mo, H. (2020). Effects of Sous Vide Cooking on Physicochemical Properties of Squid. Journal of Hygienic Engineering and Design, 31, 145-154.
Firnanda, T., Indra, Putri, I. M., & Robin. (2024). Pengamatan Perkembangan Telur Cumi Bangka (Uroteuthis chinensis) dan Modifikasi Pakan Pasca Menetas. Journal of Aquatropica Asia, 9(2), 84-91.
Kristiningsih, A., et al. (2024). Analisa Proksimat Tepung dari Berbagai Bagian Tubuh Cumi (Loligo sp). Science, Technology and Management Journal, 4(1), 1-6.






