Ya, kefir memang mengandung sedikit alkohol alami, tetapi jumlahnya sangat kecil. Alkohol ini terbentuk secara alami selama proses fermentasi oleh ragi (yeast) yang hidup bersama bakteri baik di dalam biji kefir (kefir grains). Umumnya kadar alkohol kefir berkisar 0,2–2% tergantung jenis kefir, lama fermentasi, suhu, dan kadar gula bahan bakunya. Selain menghasilkan alkohol dalam jumlah kecil, fermentasi juga membentuk asam laktat, karbon dioksida (CO₂), vitamin, mineral, dan miliaran mikroorganisme probiotik yang membuat kefir memiliki rasa asam segar dengan sedikit sensasi bersoda.

Apa Itu Kefir?
Kefir adalah minuman fermentasi yang dibuat menggunakan kefir grains, yaitu koloni hidup yang terdiri atas bakteri asam laktat, bakteri asam asetat, dan ragi (yeast) yang hidup bersama dalam matriks polisakarida bernama kefiran.
Berbeda dengan yogurt yang hanya menggunakan beberapa jenis bakteri, kefir melibatkan puluhan spesies mikroorganisme yang bekerja secara bersamaan. Kombinasi inilah yang menghasilkan rasa lebih kompleks, sedikit asam, agak creamy, serta memiliki sensasi karbonasi alami.
Nama kefir berasal dari kata “keyif” dalam bahasa Turki yang berarti perasaan nyaman atau menyenangkan setelah makan.
Minuman ini dipercaya berasal dari wilayah Pegunungan Kaukasus dan telah dikonsumsi selama ratusan bahkan ribuan tahun sebagai cara alami mengawetkan susu.
Benarkah Kefir Mengandung Alkohol?
Jawabannya: Ya, benar.
Namun, alkohol pada kefir merupakan hasil fermentasi alami, bukan alkohol yang sengaja ditambahkan.
Saat fermentasi berlangsung, bakteri dan ragi bekerja sama mengubah laktosa (gula susu) menjadi berbagai senyawa seperti:
- asam laktat
- karbon dioksida (CO₂)
- sedikit etanol (alkohol)
- berbagai senyawa aroma
Justru keberadaan ragi inilah yang membedakan kefir dengan yogurt.
Karena menghasilkan CO₂, kefir memiliki sensasi sedikit bersoda ketika diminum.
Sedangkan etanol yang terbentuk umumnya hanya sekitar 0,2–0,8% pada kefir komersial dan dapat meningkat hingga sekitar 2% bila fermentasi berlangsung lebih lama atau suhu terlalu hangat
Sebagai perbandingan, kadar alkohol bir umumnya sekitar 4–6%, sedangkan wine sekitar 10–15%.
Itulah sebabnya aroma kefir kadang sedikit mengingatkan pada tape atau roti fermentasi.
Kenapa Kefir Bisa Mengandung Alkohol?
Banyak orang mengira semua fermentasi hanya menghasilkan asam.
Padahal pada kefir terjadi dua jenis fermentasi sekaligus.
- Fermentasi asam laktat oleh bakteri asam laktat yang menghasilkan rasa asam.
- Fermentasi alkohol oleh ragi (Saccharomyces, Kluyveromyces, dan lain-lain) yang menghasilkan etanol dan karbon dioksida.
Kombinasi kedua proses inilah yang membuat kefir memiliki rasa yang unik dibandingkan produk susu fermentasi lainnya.
Jenis-Jenis Kefir
Secara umum terdapat dua jenis kefir yang paling banyak dikenal.
1. Milk Kefir
Menggunakan susu sebagai bahan utama.
Bisa dibuat dari susu sapi, susu kambing, susu kerbau, atau susu domba
Milk kefir memiliki tekstur lebih creamy dengan rasa asam yang lembut.
2. Water Kefir
Menggunakan air gula, air kelapa, atau sari buah sebagai media fermentasi.
Karena kandungan gulanya berbeda, karakter rasa dan kadar karbonasinya juga bisa berbeda dibanding milk kefir.
Kandungan Nutrisi Kefir
Berikut adalah rata-rata kandungan nutrisi kefir susu per 100 ml.
| Kandungan | Jumlah |
|---|---|
| Energi | ±60–70 kkal |
| Air | ±90% |
| Protein | 3–4 g |
| Lemak | 3–4 g |
| Karbohidrat | 4–6 g |
| Kalsium | Tinggi |
| Fosfor | Tinggi |
| Magnesium | Ada |
| Kalium | Ada |
| Vitamin B1 | Ada |
| Vitamin B2 | Ada |
| Vitamin B12 | Ada |
| Vitamin C | Ada |
| Asam folat | Ada |
| Probiotik | Puluhan spesies bakteri & ragi hidup |
Selain zat gizi tersebut, kefir juga mengandung polisakarida kefiran yang menjadi ciri khas minuman fermentasi ini.
Kenapa Banyak Orang Menyukai Kefir?
Selain karena kandungan probiotiknya, kefir juga memiliki beberapa karakteristik yang membuatnya menarik digunakan sehari-hari.
1. Rasanya Lebih Kompleks daripada Yogurt
Ada perpaduan rasa:
- asam
- creamy
- sedikit bersoda
- aroma fermentasi yang khas.
2. Lebih Mudah Digunakan untuk Berbagai Olahan
Kefir dapat digunakan sebagai:
- smoothie
- dressing salad
- marinasi daging
- campuran overnight oats
- pengganti buttermilk dalam baking
3. Kandungan Laktosanya Lebih Rendah
Selama fermentasi, sebagian laktosa sudah dipecah oleh mikroorganisme sehingga rasa kefir tidak semanis susu segar.
Cara Menyimpan Kefir
Karena masih mengandung mikroorganisme hidup, penyimpanan kefir perlu dilakukan dengan benar agar fermentasinya tidak berlangsung terlalu cepat.
Beberapa tips penyimpanan kefir:
- simpan dalam botol atau toples kaca kedap udara
- letakkan di chiller sekitar 4°C
- hindari sering membuka tutup wadah
- jangan menyimpan terlalu lama di suhu ruang setelah fermentasi selesai
- sisakan sedikit ruang kosong di dalam botol karena masih dapat terbentuk gas CO₂
Dengan penyimpanan yang tepat, kefir umumnya masih memiliki kualitas baik selama 7–14 hari di dalam kulkas.
Ciri Kefir Sudah Tidak Layak Dikonsumsi
Fermentasi memang membuat kefir lebih awet dibanding susu biasa, tetapi bukan berarti bisa disimpan tanpa batas.
Segera buang kefir apabila menunjukkan tanda-tanda berikut.
- muncul jamur berwarna hijau, hitam, merah muda, atau oranye
- aroma berubah menjadi busuk menyengat (bukan sekadar asam)
- tekstur menjadi sangat berlendir
- warna berubah tidak normal
- wadah menggembung berlebihan disertai kebocoran atau kontaminasi

Kesimpulannya, Alkohol pada Kefir Terbentuk Secara Alami
Jadi, benar bahwa kefir mengandung sedikit alkohol, tetapi jumlahnya merupakan hasil alami proses fermentasi oleh ragi dan umumnya jauh lebih rendah dibandingkan minuman beralkohol.
Selain menghasilkan sedikit etanol, fermentasi juga membentuk asam laktat, karbon dioksida, serta berbagai mikroorganisme yang memberikan cita rasa khas pada kefir.
Kalau kamu baru pertama kali mencoba kefir, jangan kaget jika rasanya sedikit asam, creamy, dan ada sensasi “berdesis”. Justru itulah tanda fermentasi sedang bekerja.
Masih penasaran dengan fakta sains di balik bahan makanan sehari-hari? Jelajahi artikel Delinutri lainnya untuk menemukan jawaban dari berbagai mitos, fenomena dapur, hingga tips penyimpanan bahan makanan agar tetap segar dan tidak terbuang sia-sia.
Referensi:
Azizi, N. F., Kumar, M. R., Yeap, S. K., Abdullah, J. O., Khalid, M., Omar, A. R., Osman, M. A., Mortadza, S. A. S., & Alitheen, N. B. (2021). Kefir and Its Biological Activities. Foods, 10(1210), 1–26.
Farag, M. A., Jomaa, S. A., El-Wahed, A. A., & El-Seedi, H. R. (2020). The Many Faces of Kefir Fermented Dairy Products: Quality Characteristics, Flavour Chemistry, Nutritional Value, Health Benefits, and Safety. Nutrients, 12(346).
Raras, T. Y. M. (2022). Kefir: Mikrobiologi, Senyawa Bioaktif, dan Manfaatnya pada Penyakit Noninfeksi. Majalah Kesehatan, 9(4), 263–280.
Tania, M., & Parhusip, A. J. N. (2022). Studi Literatur Perbandingan Mutu Mikrobiologis dan Fisikokimia Minuman Fermentasi Kefir dari Beberapa Jenis Susu. Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan, 4(1), 25–36.






