Kentang Bertunas dan Berwarna Hijau: Bahaya atau Tetap Bisa Dimakan?

Ciri ciri kentang beracun dengan tunas yang sudah tumbuh panjang dan berwarna kehijauan.

Siapa yang tidak suka kentang? Kentang adalah salah satu bahan makanan paling populer di dunia karena mudah didapat, mengenyangkan, dan mudah diolah, mulai dari dibuat menjadi kentang goreng, sup, hingga mashed potato yang creamy.

Selain rasanya yang enak, manfaat dari kentang juga cukup banyak. Umbi ini dikenal sebagai sumber energi yang baik karena kaya karbohidrat serta mengandung vitamin dan mineral penting.

Namun, pernahkah kamu menemukan kentang di dapur tiba-tiba bertunas atau berubah warna menjadi kehijauan?

Sebagian orang mungkin tetap memasaknya dengan alasan “sayang dibuang”. Tapi secara sains pangan, konsumsi kentang bertunas ternyata tidak sesederhana itu dan ada risiko berbahaya di baliknya.

Ternyata, kentang yang sudah bertunas bisa menjadi kentang beracun yang mengancam kesehatan jika tidak ditangani dengan benar.

Kandungan Nutrisi dalam Kentang

Sebelum membahas bahaya, penting untuk tahu bahwa kandungan dalam kentang sebenarnya sangat bermanfaat.

Beberapa kandungan kentang antara lain:

  • Karbohidrat kompleks (sumber energi utama)
  • Serat (baik untuk pencernaan)
  • Vitamin C (antioksidan)
  • Kalium (menjaga tekanan darah)
  • Vitamin B6 (metabolisme tubuh)

Namun, di balik itu semua, kentang juga mengandung senyawa alami bernama glikoalkaloid yang bisa menjadi berbahaya jika kadarnya meningkat.

Apa Itu Glikoalkaloid? Penyebab Kentang Bisa Beracun

Secara alami, kentang mengandung glikoalkaloid seperti solanin dan chaconin. Dalam jumlah kecil, senyawa ini tidak berbahaya. 

Bahkan, senyawa ini merupakan sistem pertahanan alami tanaman.

Masalah mulai muncul ketika:

  • Kentang terkena cahaya
  • Disimpan terlalu lama
  • Mulai bertunas

Kondisi tersebut memicu peningkatan produksi solanin secara signifikan, terutama pada:

  • Tunas (mata kentang)
  • Kulit
  • Bagian yang berwarna hijau

Peningkatan kadar solanin inilah yang membuat kentang bertunas berbahaya jika tidak ditangani dengan benar.

Ciri-Ciri Kentang Beracun yang Harus Kamu Kenali

Agar tidak salah konsumsi, Kamu perlu tahu ciri ciri kentang beracun seperti berikut:

Muncul Tunas: Tunas adalah tanda paling jelas. Semakin besar tunas, semakin tinggi kadar racun.

Warna Hijau pada Kulit: Warna hijau memang berasal dari klorofil (tidak beracun), tapi menjadi indikator bahwa solanin juga meningkat.

Tekstur Lembek atau Keriput: Menandakan kentang sudah mengalami degradasi dan tidak segar lagi.

Rasa Pahit atau Sensasi “Cekit-Cekit”: Ini tanda paling berbahaya. Jika terasa pahit, sebaiknya langsung dibuang.

Bahaya Konsumsi Kentang Bertunas bagi Tubuh

Mengonsumsi kentang beracun dapat menyebabkan berbagai gejala, tergantung pada jumlah yang dikonsumsi.

Gejala ringan yang dapat muncul seperti mual, muntah, diare, dan kram perut. Gejala berat akibat terlalu banyak mengonsumsi solanin yakni sakit kepala, demam, gangguan saraf, dan kebingungan.

Dalam kasus ekstrem, konsumsi solanin tinggi bahkan bisa berakibat fatal.

Itulah kenapa konsumsi kentang bertunas tidak boleh dianggap sepele, terutama untuk anak-anak.

Mitos atau Fakta: Apakah Dimasak Bisa Menghilangkan Racun?

Banyak orang percaya bahwa memasak kentang yang bertunas atau berwarna hijau bisa menghilangkan racun di dalamnya. Sayangnya, hal ini adalah MITOS.

Faktanya:

  • Solanin tahan terhadap panas
  • Perebusan hanya mengurangi ±1% kadar racun
  • Menggoreng atau memanggang juga tidak efektif

Artinya, jika kentang sudah hijau pekat dan bertunas besar akan tetap berbahaya meskipun dimasak.

Apakah Kentang Bertunas Masih Bisa Diselamatkan?

Jawabannya: tergantung kondisi

Kentang masih bisa dikonsumsi jika:

  • Tunas masih kecil
  • Tidak berwarna hijau
  • Tekstur masih keras

Cara menyelamatkannya yakni dengan:

  • Kupas kulit lebih dalam
  • Buang bagian tunas sampai bersih
  • Pastikan tidak ada warna hijau tersisa

Insight Delinutri: Kalau kamu ragu, lebih baik dibuang. Dalam food safety ada prinsip penting yakniWhen in doubt, throw it out (Jika kamu ragu, maka buang saja)”

Cara mengolah kentang yang benar dengan membuang tunas dan kulit hijau untuk mengurangi racun solanin.

Cara Simpan Kentang Agar Tidak Cepat Bertunas

Agar kentang tetap aman dikonsumsi dan nutrisinya terjaga, ikuti langkah berikut unutk menyimpan kentang supaya tidak cepat bertunas:

  • Simpan di Tempat Gelap dan Sejuk: Cahaya adalah pemicu utama terbentuknya klorofil dan solanin. Simpan kentang di dalam lemari yang gelap atau kotak yang tidak tembus cahaya.
  • Gunakan Wadah Berpori: Jangan simpan kentang dalam plastik tertutup rapat. Gunakan keranjang atau kantong jaring agar ada sirkulasi udara (mencegah kelembapan yang memicu tunas).
  • Jangan Simpan Dekat Bawang Merah/Putih: Bawang mengeluarkan gas etilen yang dapat mempercepat proses pertunasan pada kentang. Simpan mereka di tempat terpisah.
  • Jangan Simpan di Kulkas (Chiller): Suhu kulkas yang terlalu dingin justru dapat mengubah pati kentang menjadi gula (proses cold-induced sweetening) yang membuat kentang terasa aneh dan lebih cepat berubah warna saat digoreng serta kualitasnya menurun.
  • Beli Secukupnya: Cara terbaik menghindari kentang bertunas berbahaya adalah dengan membeli stok yang cukup untuk dikonsumsi dalam 1-2 minggu saja.

Insight Penting: Fakta Kentang Bertunas yang Sering Disalahpahami

Agar kamu tidak salah kaprah dalam menilai kondisi kentang di dapur, ada beberapa fakta penting yang perlu dipahami:

Tidak semua kentang bertunas otomatis berbahaya

Jika tunas masih sangat kecil, kentang belum berwarna hijau, dan teksturnya masih keras, kentang masih bisa dikonsumsi dengan pengolahan yang tepat (dikupas dalam dan dibuang bagian tunasnya).

Warna hijau adalah indikator awal, bukan satu-satunya penentu

Warna hijau pada kentang memang berasal dari klorofil yang tidak beracun. Namun, kemunculannya sering menjadi tanda bahwa kadar solanin juga meningkat di area tersebut.

Racun utama (solanin) paling tinggi di kulit dan tunas

Inilah alasan kenapa pengupasan dalam sangat penting. Bagian kulit dan “mata kentang” adalah area dengan konsentrasi racun tertinggi.

Penyimpanan yang salah adalah penyebab utama kentang menjadi beracun

Paparan cahaya, suhu hangat, dan kelembapan tinggi mempercepat pembentukan solanin. Artinya, cara menyimpan kentang yang tidak tepat adalah faktor utama yang membuat kentang berubah menjadi berbahaya.

Kesimpulan

Kentang adalah makanan bergizi tinggi dengan banyak manfaat. Namun, jika disimpan dengan cara yang salah, kentang bisa berubah menjadi sumber racun alami.

Memahami kandungan dalam kentang dan cara penyimpanannya akan membantu kamu menghindari risiko keracunan, menjaga kualitas makanan, dan mengurangi food waste.

Jadi, mulai sekarang jangan asal potong dan masak ya. Perhatikan kondisi kentang sebelum diolah.

Mulai sekarang, ubah kebiasaan kamu dalam menyimpan kentang dan hindari kentang yang mulai bertunas dan berwarna hijau agar kamu tetap dapat manfaat yang maksimal dari kentang. Bagikan artikel ini ke keluarga atau teman yang sering stok kentang di rumah supaya lebih aware tentang food safety.

Referensi:

Aikkal, R. 2021. Sprouted Potatoes: Toxicity and Safety Concerns. Independent Researcher.

Al Masaoud FS, Alharbi A, Behir MM, Siddiqui AF, Al‑Murayeh LM, Al Dail A, et al. 2022. A challenging case of suspected solanine toxicity in an eleven‑year‑old Saudi boy. J Family Med Prim Care.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top