Asinan Cherry Viral: Apakah Aman Jika Biji Cherry Ikut Dijus?

biji cherry

Asinan cherry viral belakangan ini ramai dibahas di media sosial. Selain karena harganya yang tergolong mahal, banyak orang juga penasaran dengan rasanya yang disebut-sebut sangat enak. Di balik popularitasnya, muncul pertanyaan penting mengenai keamanannya: apakah aman jika biji cherry ikut diproses saat membuat minuman atau jus?

Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Biji cherry diketahui mengandung amigdalin, yaitu senyawa alami yang dalam kondisi tertentu dapat menghasilkan hidrogen sianida, zat yang bersifat sangat beracun. Karena itu, penting untuk memahami kapan senyawa tersebut bisa menjadi berbahaya dan kapan risikonya relatif rendah.

Mengapa Biji Cherry Dianggap Berbahaya?

Apa itu amigdalin?

Amigdalin adalah senyawa alami yang termasuk dalam kelompok glikosida sianogenik. Senyawa ini banyak ditemukan pada tanaman dari famili Rosaceae, seperti cherry, apel, aprikot, dan beberapa buah berbiji keras lainnya.

Bagi tanaman, amigdalin berfungsi sebagai mekanisme pertahanan alami untuk melindungi diri dari hama atau pemangsa. Dalam kondisi normal, amigdalin sebenarnya tidak berbahaya karena masih tersimpan utuh di dalam sel tanaman.

Bagaimana amigdalin dapat menghasilkan sianida?

Masalah mulai muncul ketika biji cherry mengalami kerusakan, misalnya karena dikunyah, dihancurkan, atau digiling. Saat itu, amigdalin akan bercampur dengan enzim β-glukosidase yang sebelumnya berada di bagian sel yang berbeda.

Reaksi tersebut memicu proses hidrolisis yang memecah amigdalin menjadi beberapa senyawa, yaitu glukosa, benzaldehida (senyawa yang memberikan aroma pahit), dan hidrogen sianida. Hidrogen sianida inilah yang bersifat sangat beracun apabila terbentuk dalam jumlah yang cukup.

Apakah Semua Jenis Cherry Memiliki Biji yang Mengandung Amigdalin?

Ya. Baik cherry manis (Prunus avium) maupun cherry asam (Prunus cerasus) sama-sama termasuk kelompok buah batu (stone fruit), yaitu buah yang memiliki biji keras di bagian tengah.

Semua jenis biji cherry secara alami mengandung amigdalin. Namun, jumlahnya tidak selalu sama pada setiap varietas. Sebagai contoh, biji cherry merah memiliki potensi pelepasan sianida rata-rata sekitar 3,9 mg per gram, sedangkan biji cherry hitam sekitar 2,7 mg per gram.

Perbedaan kadar tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti varietas atau kultivar cherry serta kondisi lingkungan tempat tanaman tumbuh.

Apakah Biji Cherry Berbahaya Jika Ikut Dijus?

Ya, biji cherry dapat menjadi lebih berbahaya jika ikut diproses menggunakan alat yang mampu menghancurkan bijinya. Hal ini karena cangkang keras yang selama ini melindungi amigdalin menjadi rusak sehingga senyawa tersebut dapat bereaksi dan menghasilkan hidrogen sianida.

kuah asinan cherry

Perbedaan blender dan slow juicer

Blender berkecepatan tinggi bekerja menggunakan pisau logam yang memotong dan menghancurkan bahan makanan. Jika biji cherry ikut masuk, ada kemungkinan biji akan pecah atau bahkan hancur menjadi partikel-partikel kecil.

Sementara itu, slow juicer atau masticating juicer menggunakan ulir yang menekan buah secara perlahan. Pada beberapa kasus, biji mungkin tetap utuh. Namun, biji cherry yang keras juga berisiko merusak komponen mesin, seperti saringan atau ulirnya.

Meski mekanisme kerjanya berbeda, keduanya tetap memiliki risiko jika biji cherry sampai pecah selama proses pengolahan. Ketika cangkang biji rusak, amigdalin dapat bereaksi dan melepaskan hidrogen sianida ke dalam cairan jus.

Mengapa biji yang hancur lebih berisiko?

Biji cherry yang hancur memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan biji yang masih utuh. Saat biji berubah menjadi pecahan kecil atau bubuk, luas permukaannya meningkat sehingga amigdalin lebih mudah bercampur dengan enzim alami di dalam biji.

Reaksi ini dapat berlangsung lebih cepat dan menghasilkan hidrogen sianida yang kemudian bercampur ke dalam jus. Sebaliknya, jika cangkang biji tetap utuh, amigdalin tetap terisolasi di dalamnya sehingga tidak mudah bereaksi.

Faktor yang memengaruhi tingkat paparan

Besarnya paparan hidrogen sianida tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya biji cherry, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Jumlah biji yang ikut terproses.
  • Seberapa parah biji mengalami kerusakan atau kehancuran.
  • Kemampuan lambung dalam menyerap senyawa hasil reaksi.
  • Kondisi mikroflora usus, karena bakteri usus tertentu dapat membantu mempercepat pelepasan sianida.

Apa yang Terjadi Jika Tidak Sengaja Menelan Biji Cherry?

Menelan biji cherry utuh

Jika kamu tidak sengaja menelan biji cherry dalam keadaan utuh, umumnya kondisi ini tidak berbahaya dari sisi toksikologi. Cangkang biji sangat keras sehingga mampu melindungi amigdalin dari cairan asam lambung. Akibatnya, biji biasanya akan melewati saluran pencernaan dan keluar bersama feses tanpa melepaskan hidrogen sianida.

Meski demikian, menelan biji dalam jumlah banyak tetap dapat menimbulkan risiko lain, seperti tersedak atau bahkan menyebabkan sumbatan pada saluran pencernaan.

Menelan biji cherry yang sudah dikunyah

Risikonya berbeda jika biji cherry sudah dikunyah hingga pecah. Kerusakan pada cangkang membuat amigdalin bercampur dengan kelembapan dan enzim di dalam air liur. Reaksi tersebut dapat memicu pelepasan hidrogen sianida yang berpotensi menyebabkan gejala keracunan.

Kapan harus segera mencari pertolongan medis?

Segera cari pertolongan medis apabila seseorang diketahui mengonsumsi biji cherry yang telah dikunyah atau dihancurkan dalam jumlah banyak, terutama jika dalam beberapa jam kemudian muncul gejala seperti:

  • Sakit kepala hebat.
  • Pusing.
  • Mual.
  • Sesak napas.

Gejala-gejala tersebut dapat mengindikasikan keracunan sianida dan memerlukan penanganan medis secepatnya.

Apa Gejala Keracunan Sianida akibat Konsumsi Biji Buah?

Gejala keracunan sianida bergantung pada jumlah sianida yang masuk ke dalam tubuh. Sianida bekerja dengan menghambat kemampuan sel untuk menggunakan oksigen, sehingga jaringan tubuh tidak dapat berfungsi dengan normal meskipun kadar oksigen di dalam darah masih mencukupi.

Pada paparan ringan, gejala yang dapat muncul antara lain:

  • Sakit kepala.
  • Pusing atau vertigo.
  • Mual dan muntah.
  • Rasa cemas.
  • Napas menjadi lebih cepat (hiperventilasi).

Jika paparan sianida lebih tinggi, gejalanya dapat berkembang menjadi lebih serius, seperti:

  • Sesak napas.
  • Detak jantung yang sangat cepat atau justru melambat.
  • Kejang.
  • Kulit tampak kemerahan seperti warna buah cherry.
  • Penurunan kesadaran hingga koma.
  • Henti jantung.
  • Kematian.

Perlu diketahui bahwa kondisi yang mengancam nyawa seperti ini umumnya terjadi akibat paparan sianida dalam jumlah besar, misalnya karena mengonsumsi ekstrak biji buah yang telah dihancurkan, bukan karena tidak sengaja menelan satu atau dua biji cherry dalam keadaan utuh.

Bagaimana Cara Mengonsumsi Cherry dengan Aman?

1. Buang biji sebelum diblender atau dijus

Jika ingin membuat jus atau minuman dari cherry, selalu keluarkan bijinya terlebih dahulu. Cara ini penting untuk mencegah amigdalin ikut terekstraksi ke dalam jus sekaligus mengurangi risiko kerusakan pada blender maupun juicer.

2. Jangan mengunyah biji cherry

Saat menikmati buah cherry secara langsung, biasakan untuk memuntahkan bijinya. Hal ini juga perlu diajarkan kepada anak-anak karena tekanan gigitan manusia cukup kuat untuk meretakkan cangkang biji dan memicu pelepasan amigdalin.

3. Gunakan alat pembuang biji jika tersedia

Kamu bisa menggunakan cherry pitter, yaitu alat khusus yang dirancang untuk mengeluarkan biji cherry dengan cepat tanpa merusak daging buah. Jika tidak memilikinya, membelah buah menggunakan pisau juga bisa menjadi alternatif.

4. Simpan cherry dengan benar sebelum diolah

Simpan buah cherry di dalam lemari pendingin agar kualitasnya tetap terjaga dan aktivitas enzim di dalam buah melambat. Sebelum dikonsumsi atau diolah, jangan lupa mencuci cherry hingga bersih di bawah air mengalir.

Baca juga: Apakah Yogurt dari Tangkai Cabai Benar-Benar Yogurt?

Kesimpulan

Asinan cherry viral memang menarik untuk dicoba, tetapi keamanan pangan tetap perlu menjadi perhatian. Secara ilmiah, biji cherry mengandung amigdalin, senyawa alami yang dapat menghasilkan hidrogen sianida ketika bijinya dihancurkan.

Menelan satu atau dua biji cherry dalam keadaan utuh umumnya tidak menimbulkan risiko keracunan karena cangkang bijinya sangat keras dan biasanya tidak rusak selama melewati saluran pencernaan.

Namun, situasinya berbeda jika biji cherry ikut dihancurkan menggunakan blender atau juicer. Proses tersebut dapat memicu pelepasan hidrogen sianida ke dalam minuman sehingga meningkatkan risiko paparan.

Karena itu, selalu keluarkan biji cherry sebelum membuat jus, smoothie, atau olahan lainnya. Langkah sederhana ini membantu menjaga keamanan pangan sekaligus melindungi blender atau juicer dari kerusakan akibat biji yang keras.

Referensi:

Bolarinwa, I. F., Orfila, C., & Morgan, M. R. A. (2014). Amygdalin content of seeds, kernels and food products commercially-available in the UK. Food Chemistry, 152, 133–139.

EFSA Panel on Contaminants in the Food Chain (CONTAM). (2019). Scientific opinion on the evaluation of the health risks related to the presence of cyanogenic glycosides in foods other than raw apricot kernels. EFSA Journal, 17(4).

Hamel, J. (2011). A Review of Acute Cyanide Poisoning With a Treatment Update. Critical Care Nurse, 31(1), 72–82.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top