Kacang Merah: Kandungan Gizi, Manfaat, dan Cara Mengolahnya

kacang merah


Kacang merah merupakan salah satu jenis legum yang kaya akan protein nabati, serat, vitamin, dan mineral. Bahan pangan ini banyak digunakan dalam berbagai hidangan, mulai dari sup, semur, salad, hingga aneka makanan penutup. Selain rasanya yang lezat, kacang merah juga dikenal memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan berkat kandungan gizinya yang beragam.

Namun, ada satu hal penting yang sering terlewat. Kacang merah tidak boleh dikonsumsi dalam keadaan mentah atau kurang matang karena mengandung senyawa alami yang dapat menyebabkan keracunan makanan.

Oleh karena itu, selain memahami kandungan gizi dan manfaatnya, kamu juga perlu mengetahui cara mengolah kacang merah dengan benar agar aman dikonsumsi.

Apa Itu Kacang Merah?

Kacang merah memiliki nama ilmiah Phaseolus vulgaris L. dan termasuk dalam kelompok tanaman legum atau kacang-kacangan. Tanaman ini berasal dari kawasan Mesoamerika, terutama Meksiko Selatan dan Amerika Selatan, yang hingga kini dikenal sebagai pusat asal-usul serta wilayah dengan keanekaragaman genetik tertinggi untuk spesies tersebut.

Salah satu ciri khas kacang merah adalah bentuk bijinya yang menyerupai ginjal manusia. Karena itulah, kacang merah dikenal secara internasasional dengan sebutan kidney bean. Kulit bijinya memiliki beragam warna, mulai dari merah muda, merah tua, hingga merah berbintik atau berlurik, tergantung varietasnya.

Di Indonesia, kacang merah dari spesies Phaseolus vulgaris juga dikenal dengan nama kacang jogo atau kacang lurik. Meski demikian, tidak sedikit orang yang masih menyamakan kacang merah dengan kacang adzuki (Vigna angularis), padahal keduanya merupakan spesies yang berbeda.

Kacang adzuki memiliki ukuran yang lebih kecil, berbentuk oval, berwarna merah tua dengan garis putih tipis, serta memiliki rasa yang cenderung manis sehingga sering digunakan sebagai isian kue atau dessert khas Asia Timur.

Sementara itu, kacang merah (kidney bean) berukuran lebih besar, memiliki tekstur yang lebih padat namun lembut setelah direbus, serta bercita rasa netral sehingga cocok diolah menjadi berbagai hidangan gurih maupun manis.

Kandungan Gizi Kacang Merah

Kacang merah dikenal sebagai salah satu bahan pangan yang padat gizi. Bahan ini mengandung protein nabati, karbohidrat kompleks, serat, serta berbagai vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.

Kandungan gizinya dapat berubah setelah proses perebusan karena biji kacang menyerap air dan sebagian vitamin serta mineral larut ke dalam air rebusan.

Berikut adalah perbandingan kandungan gizi kacang merah segar (mentah) dan kacang merah rebus per 100 gram.

Komponen GiziKacang Merah Segar (Mentah)Kacang Merah Rebus
Air57,2 g66,9 g
Energi171 kkal127 kkal
Protein11,0 g8,6 g
Lemak2,2 g0,5 g
Karbohidrat28,0 g22,8 g
Serat Pangan2,1 g7,4 g
Abu1,7 g1,1 g
Kalsium293 mg28 mg
Fosfor134 mg142 mg
Zat Besi3,7 mg2,9 mg
Natrium7 mg2 mg
Kalium360,7 mg403 mg
Seng1,4 mg1,1 mg
Tembaga0,34 mg0,24 mg
Vitamin B1 (Tiamin)0,15 mg0,16 mg
Vitamin B2 (Riboflavin)0,15 mg0,06 mg
Vitamin B3 (Niasin)1,1 mg0,56 mg
Folat (Vitamin B9)130 mcg

Sumber: Diolah dari Data Komposisi Pangan Indonesia (DKPI) dan U.S. Department of Agriculture (USDA) FoodData Central.

Catatan: Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) 2017, kacang merah kering (belum direbus) mengandung energi 314 kkal, protein 22,1 gram, lemak 1,1 gram, karbohidrat 56,2 gram, dan serat pangan 4 gram per 100 gram. Kandungan protein dan energi yang lebih tinggi dibandingkan kacang merah rebus disebabkan oleh kadar air yang jauh lebih rendah.

Apa Manfaat Kacang Merah untuk Kesehatan?

Kacang merah tidak hanya menjadi sumber energi, tetapi juga mengandung berbagai zat gizi dan senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan.

Berkat kandungan protein, serat, vitamin, mineral, dan antioksidannya, konsumsi kacang merah secara rutin dikaitkan dengan penurunan risiko berbagai penyakit metabolik sekaligus membantu menjaga fungsi tubuh tetap optimal.

1. Sumber Protein Nabati

Kacang merah merupakan salah satu sumber protein nabati yang baik. Biji kacang merah kering mengandung sekitar 22% protein, sedangkan setelah direbus kandungan proteinnya menjadi sekitar 8,6 gram per 100 gram akibat penyerapan air selama proses memasak.

Protein kacang merah kaya akan asam amino lisin, sehingga cocok dipadukan dengan serealia seperti nasi atau gandum yang umumnya rendah lisin. Namun, kacang merah masih tergolong protein tidak lengkap karena kandungan metionin dan sisteinnya relatif rendah.

2. Kaya Serat Pangan

Kacang merah mengandung serat pangan dalam jumlah tinggi, baik serat larut maupun serat tidak larut. Serat larut membantu menurunkan kadar kolesterol dengan mengikat asam empedu di saluran pencernaan, sedangkan serat tidak larut membantu melancarkan buang air besar dan menjaga kesehatan usus.

Selain itu, serat dan pati resisten pada kacang merah akan difermentasi oleh bakteri baik di usus menjadi asam lemak rantai pendek (SCFA), seperti asetat, propionat, dan butirat. Senyawa ini berperan menjaga kesehatan dinding usus sekaligus mendukung keseimbangan mikrobiota usus.

3. Mengandung Folat (Vitamin B9)

Kacang merah rebus merupakan salah satu sumber folat alami yang baik. Dalam setiap 100 gram, kacang merah rebus mengandung sekitar 130 mcg folat yang dibutuhkan untuk pembentukan DNA, pembelahan sel, dan perkembangan jaringan tubuh.

Asupan folat yang cukup juga sangat penting bagi wanita yang sedang merencanakan kehamilan maupun ibu hamil karena membantu menurunkan risiko cacat tabung saraf pada janin.

4. Sumber Zat Besi

Kacang merah mengandung sekitar 2,9–3,7 mg zat besi per 100 gram. Mineral ini berperan penting dalam pembentukan hemoglobin yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Karena zat besi pada kacang merah termasuk zat besi non-heme, penyerapannya akan lebih optimal jika dikonsumsi bersama makanan yang kaya vitamin C, seperti jeruk, tomat, atau paprika.

5. Mendukung Kesehatan Jantung

Kacang merah memiliki kandungan kalium yang tinggi dan natrium yang rendah, sehingga baik untuk membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.

Selain itu, kulit bijinya juga mengandung polifenol, flavonoid, dan antosianin yang berperan sebagai antioksidan untuk melindungi pembuluh darah dari kerusakan akibat radikal bebas.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi legum, termasuk kacang merah, dapat membantu memperbaiki kesehatan pembuluh darah dan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

6. Membantu Menjaga Rasa Kenyang

Kacang merah memiliki indeks glikemik (IG) yang rendah, yaitu sekitar 26–32. Hal ini membuat karbohidrat di dalamnya dicerna lebih lambat sehingga kenaikan gula darah berlangsung lebih stabil setelah makan.

Kombinasi serat, pati resisten, dan protein pada kacang merah juga membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Karena itu, kacang merah dapat menjadi salah satu pilihan bahan pangan yang mendukung pengelolaan berat badan maupun pola makan bagi penderita diabetes.

Mengapa Kacang Merah Tidak Boleh Dimakan Mentah?

Meski kaya akan zat gizi, kacang merah tidak boleh dikonsumsi dalam keadaan mentah atau setengah matang. Alasannya, biji kacang merah mengandung senyawa alami bernama phytohaemagglutinin (PHA) yang dapat menyebabkan keracunan makanan akut.

1. Mengandung Phytohaemagglutinin (PHA)

Phytohaemagglutinin (PHA) merupakan salah satu jenis lektin, yaitu protein yang secara alami diproduksi tanaman sebagai mekanisme pertahanan terhadap hama dan patogen. Di antara berbagai jenis kacang-kacangan, kacang merah memiliki kadar PHA yang tergolong sangat tinggi, yaitu sekitar 20.000–70.000 HAU (Hemagglutinating Unit).

2. Dapat Menyebabkan Keracunan

Mengonsumsi 4–5 butir kacang merah mentah atau kurang matang saja sudah dapat memicu keracunan. Gejalanya biasanya muncul dalam waktu 1–3 jam setelah dikonsumsi, berupa mual, muntah, diare, dan nyeri perut.

PHA bekerja dengan menempel pada permukaan sel usus sehingga mengganggu fungsi saluran pencernaan. Karena itu, kacang merah yang tidak dimasak dengan benar dapat menyebabkan gangguan pencernaan yang cukup serius.

3. Mengapa Perendaman dan Perebusan Sangat Penting?

PHA merupakan protein yang mudah rusak oleh panas. Agar aman dikonsumsi, kacang merah perlu direndam terlebih dahulu, kemudian direbus hingga benar-benar mendidih. Proses ini membantu menurunkan kadar PHA hingga berada di bawah batas yang aman.

Sebaliknya, memasak kacang merah pada suhu yang terlalu rendah, misalnya sekitar 80°C seperti pada beberapa slow cooker, justru tidak mampu menghancurkan PHA secara sempurna. Dalam kondisi tersebut, toksisitas lektin bahkan dapat meningkat sehingga risiko keracunan menjadi lebih besar.

Bagaimana Cara Mengolah Kacang Merah dengan Benar?

Agar aman dikonsumsi sekaligus menghasilkan tekstur yang empuk, kacang merah perlu diolah dengan tahapan yang tepat.

  • Rendam terlebih dahulu. Rendam kacang merah selama minimal 5–8 jam, atau lebih ideal sekitar 12 jam, menggunakan air bersih. Proses ini membantu melunakkan biji, mempercepat waktu memasak, dan mengurangi sebagian senyawa antinutrisi.
  • Buang air rendaman. Setelah selesai direndam, buang seluruh air rendaman, lalu bilas kacang merah dengan air mengalir sebelum dimasak. Jangan menggunakan air rendaman sebagai kaldu karena mengandung senyawa yang telah larut selama proses perendaman.
  • Rebus hingga benar-benar mendidih. Gunakan air baru, kemudian rebus kacang merah pada suhu 100°C selama minimal 10–30 menit. Untuk keamanan yang lebih baik, perebusan selama sekitar 30 menit sangat disarankan sebelum melanjutkan proses memasak hingga kacang empuk. Setelah itu, kecilkan api dan lanjutkan memasak sekitar 1–2 jam hingga teksturnya lunak.
  • Jangan langsung menggunakan slow cooker. Slow cooker umumnya membutuhkan waktu cukup lama untuk mencapai suhu mendidih. Karena itu, kacang merah sebaiknya direbus terlebih dahulu di atas kompor hingga mendidih sebelum dipindahkan ke slow cooker. Cara ini membantu memastikan senyawa PHA telah rusak sehingga kacang merah aman dikonsumsi.

Apa Saja Olahan Kacang Merah?

pasta kacang merah


Berkat teksturnya yang lembut setelah dimasak dan rasanya yang netral, kacang merah dapat diolah menjadi berbagai hidangan, baik gurih maupun manis.

Sup dan Hidangan Utama

Di Indonesia, salah satu olahan yang paling populer adalah sup brenebon khas Manado. Hidangan ini memadukan kacang merah dengan kaldu daging sapi serta berbagai rempah sehingga menghasilkan cita rasa yang gurih dan kaya. Selain itu, kacang merah juga sering digunakan dalam semur, rendang, maupun salad.

Hidangan Penutup

Kacang merah juga banyak diolah menjadi pasta kacang merah sebagai isian bakpao, dorayaki, mochi, hingga mooncake. Di beberapa daerah, kacang merah rebus juga menjadi bahan utama berbagai minuman dan dessert dingin.

Produk Pangan Fungsional

Seiring perkembangan teknologi pangan, kacang merah kini juga dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk fungsional, seperti mi tinggi serat, keju nabati bebas laktosa, hingga minuman multigrain yang kaya protein, serat, dan vitamin.

Apa yang Perlu Diperhatikan saat Mengonsumsi Kacang Merah?

Kacang merah merupakan bahan pangan yang bergizi, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar manfaatnya tetap optimal. Mulai dari kandungan antinutrisi hingga cara penyimpanannya, semua berperan dalam menjaga keamanan dan kualitas kacang merah setelah dikonsumsi.

1. Mengandung Senyawa Antinutrisi

Secara alami, kacang merah mengandung beberapa senyawa antinutrisi, seperti asam fitat, tanin, saponin, dan inhibitor tripsin. Senyawa-senyawa ini dapat mengurangi penyerapan mineral, seperti zat besi, seng, kalsium, dan magnesium, serta sedikit menghambat pencernaan protein.

Kabar baiknya, kandungan antinutrisi tersebut dapat dikurangi melalui pengolahan yang tepat. Merendam kacang merah semalaman sebelum direbus terbukti mampu menurunkan kadar asam fitat dan saponin secara signifikan.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan larutan cuka, natrium bikarbonat, atau pemanasan dengan gelombang mikro dapat semakin menurunkan kadar antinutrisi pada kacang merah.

2. Dapat Menyebabkan Kembung

Kacang merah mengandung Raffinose Family Oligosaccharides (RFO), yaitu kelompok karbohidrat yang terdiri atas rafinosa, stakiosa, dan verbaskosa.

Karbohidrat ini tidak dapat dicerna oleh tubuh sehingga akan difermentasi oleh bakteri di usus besar dan menghasilkan gas. Akibatnya, sebagian orang dapat mengalami perut kembung atau sering buang angin setelah mengonsumsi kacang merah.

Untuk membantu mengurangi efek tersebut, rendam kacang merah selama 12–16 jam, lalu buang seluruh air rendamannya sebelum dimasak. Cara ini terbukti dapat mengurangi sebagian besar kandungan RFO penyebab kembung.

3. Konsumsi Secukupnya

Jika belum terbiasa mengonsumsi makanan tinggi serat, sebaiknya mulai dengan porsi kecil, misalnya sekitar ½ cangkir kacang merah rebus per sajian. Peningkatan konsumsi secara bertahap memberi waktu bagi sistem pencernaan dan mikrobiota usus untuk beradaptasi sehingga risiko kembung atau rasa tidak nyaman dapat diminimalkan.

4. Simpan dengan Benar Setelah Dimasak

Kacang merah rebus sebaiknya tidak dibiarkan di suhu ruang lebih dari 2 jam karena berisiko menjadi tempat berkembangnya bakteri. Setelah dingin, simpan dalam wadah kedap udara dan letakkan di dalam kulkas dengan suhu di bawah 4°C. Dengan cara ini, kacang merah rebus dapat bertahan selama 3–5 hari.

Jika ingin disimpan lebih lama, kacang merah rebus dapat dibekukan pada suhu -18°C dan digunakan hingga sekitar 6 bulan. Khusus kacang merah kalengan, pindahkan isinya ke wadah lain setelah kaleng dibuka dan jangan menyimpannya kembali di dalam kaleng untuk menghindari risiko kontaminasi logam.

Baca juga: Benarkah Kacang Polong Tinggi Protein? Ini Faktanya

Kesimpulan

Kacang merah merupakan salah satu legum yang kaya akan protein nabati, serat, folat, zat besi, dan berbagai mineral penting.

Berkat kandungan gizinya tersebut, kacang merah dapat membantu memenuhi kebutuhan protein, menjaga kesehatan jantung, mendukung kesehatan saluran cerna, serta membantu mengontrol kadar gula darah dan rasa kenyang.

Meski demikian, kacang merah tidak boleh dikonsumsi dalam keadaan mentah atau setengah matang karena mengandung senyawa phytohaemagglutinin (PHA) yang dapat menyebabkan keracunan makanan.

Oleh karena itu, kacang merah perlu direndam, air rendamannya dibuang, kemudian direbus hingga benar-benar matang sebelum diolah menjadi berbagai hidangan. Dengan pengolahan dan penyimpanan yang tepat, kacang merah dapat menjadi pilihan bahan pangan yang aman, bergizi, dan mudah diolah untuk berbagai menu sehari-hari.

Referensi:

Ardelia, C. et al. (2020). Pembuatan Keju Lunak Kacang Merah (Phaseolus vulgaris L.) dengan Proses Fermentasi Menggunakan Lactobacillus acidophilus. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya, 9(1), 1–15.

Clark, J. L. et al. (2021). Black beans and red kidney beans induce positive postprandial vascular responses in healthy adults: A pilot randomized cross-over study. Nutrition, Metabolism and Cardiovascular Diseases, 31(1), 216–226. https://doi.org/10.1016/j.numecd.2020.07.042

Marwiyah, S. et al. (2025). Adaptabilitas Agronomi Genotipe Kacang Merah di Dataran Rendah Bogor. Vegetalika, 14(3), 206–216. https://doi.org/10.22146/veg.105217

Mullins, A. P. et al. (2021). Health Benefits of Plant-Based Nutrition: Focus on Beans in Cardiometabolic Diseases. Nutrients, 13(2), 519. https://doi.org/10.3390/nu13020519

Widiawati, D. et al. (2022). Formulasi dan Karakterisasi Mi Kering Substitusi Tepung Kacang Merah Tinggi Serat. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Sains dan Teknologi, 7(2), 80–86. http://dx.doi.org/10.36722/sst.v7i2.1114

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top