Benarkah Belut Tidak Punya Tulang? Ini Penjelasan Sainsnya

Belut adalah ikan air tawar dari spesies Monopterus albus yang memiliki tubuh panjang menyerupai ular. Meski sering dikira tidak bertulang, belut sebenarnya memiliki rangka tulang belakang lengkap, hanya saja tulangnya kecil dan menempel rapat pada daging sehingga terasa lunak saat dimakan.

Dalam 100 gram daging belut, terkandung sekitar 14–18,5 gram protein, vitamin A, fosfor, zat besi, dan berbagai asam amino yang membuatnya menjadi salah satu sumber protein hewani yang cukup padat gizi. Dibandingkan daging sapi dan ayam, kandungan protein belut relatif setara.

Lalu, kenapa belut licin? Lendir pada permukaan kulit belut merupakan mekanisme alami untuk menjaga kelembapan tubuh, mengurangi gesekan saat bergerak di lumpur, sekaligus melindungi kulit dari mikroorganisme di lingkungan.

Belut dikategorikan sebagai ikan karena bernapas menggunakan insang

Pernah nggak kamu melihat belut lalu berpikir, “Ini sebenarnya ikan atau ular, ya?”

Bentuk tubuhnya panjang, licin, dan hampir tidak terlihat memiliki tulang seperti ikan pada umumnya. Bahkan, banyak orang percaya kalau belut hanyalah “segumpal daging” tanpa tulang sama sekali.

Padahal, anggapan itu tidak sepenuhnya benar.

Di balik tubuhnya yang lentur, belut memiliki struktur anatomi yang unik, kandungan protein yang tinggi, serta karakteristik biologis yang membuatnya berbeda dari ikan konsumsi lainnya.

Kalau kamu penasaran kenapa belut licin, apakah belut termasuk ikan, sampai bagaimana kandungan gizinya dibandingkan daging sapi dan ayam, yuk kita bedah satu per satu berdasarkan sains pangan!

Apa Itu Belut?

Belut adalah ikan air tawar yang termasuk ke dalam famili Synbranchidae, dengan spesies yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia yaitu belut sawah (Monopterus albus).

Belut banyak ditemukan di area persawahan, rawa, sungai kecil, hingga kolam berlumpur. Habitat tersebut membuat tubuhnya berevolusi berbeda dibandingkan ikan lain.

Sekilas bentuknya memang menyerupai ular karena tubuhnya memanjang dan tidak memiliki sisik yang jelas. Namun secara ilmiah, belut bukan reptil, melainkan tetap termasuk kelompok ikan.

Selain di Indonesia, belut juga banyak dikonsumsi di Jepang, Korea, China, Taiwan, hingga beberapa negara Asia Tenggara sebagai sumber protein hewani.

Apakah Belut Termasuk Ikan?

Ya. Belut termasuk ikan.

Meski bentuk tubuhnya berbeda dari ikan pada umumnya, belut tetap memenuhi karakteristik utama kelompok ikan, yaitu:

  • hidup di lingkungan perairan
  • bernapas menggunakan insang
  • memiliki tulang belakang (vertebrae)
  • termasuk kelompok ikan bertulang sejati (bony fish)

Banyak orang mengira belut tidak memiliki tulang karena saat dimakan hampir tidak ditemukan duri kecil seperti pada ikan nila atau ikan bandeng.

Padahal, belut mempunyai rangka tulang belakang yang memanjang dari kepala hingga ekor. Tulang-tulang tersebut berukuran kecil, tipis, dan menyatu rapat dengan jaringan otot sehingga tidak terlalu terasa saat dikonsumsi.

Ketika dimasak menggunakan suhu tinggi, misalnya digoreng kering atau dipresto, struktur tulang tersebut menjadi semakin lunak sehingga memberikan kesan seolah-olah belut tidak memiliki tulang sama sekali.

Jadi, jika ada yang bertanya “Benarkah belut tidak punya tulang?”, jawabannya adalah:

Mitos. Belut tetap memiliki tulang, hanya bentuk dan ukurannya berbeda dibandingkan ikan konsumsi lainnya.

Kandungan Gizi Belut

Jangan tertipu dengan bentuknya yang sederhana. Di balik tubuh belut yang ramping, tersimpan berbagai zat gizi yang cukup lengkap.

Berikut gambaran kandungan gizi belut per 100 gram daging segar.

KomponenJumlah
Energi139–185 kkal
Protein14–18,5 gram
Lemak±11,5 gram
Karbohidrat0 gram
Kalsium±20 mg
Fosfor±200 mg
Zat Besi±20 mg
Vitamin A±3.500 IU

Sumber: Andasari & Zukhri (2018); Pandiangan et al. (2024).

Selain itu, protein belut juga mengandung berbagai asam amino esensial serta asam glutamat, yaitu senyawa yang berkontribusi terhadap rasa gurih alami (umami).

Inilah alasan mengapa olahan belut sering terasa gurih meskipun hanya menggunakan bumbu sederhana.

Protein Belut vs Sapi vs Ayam, Mana yang Lebih Tinggi?

Salah satu pertanyaan yang paling sering dicari adalah:

Protein pada belut lebih tinggi daripada ayam atau sapi, nggak sih?

Kalau dibandingkan per 100 gram bahan segar, hasilnya kurang lebih seperti berikut.

BahanProtein
Belut14–18,5 gram
Daging sapi±18,8 gram
Daging ayam±18,2 gram

Dari tabel tersebut terlihat bahwa protein belut ternyata setara dengan daging sapi maupun ayam.

Artinya, kalau kamu sedang mencari variasi sumber protein hewani selain ayam atau sapi, belut bisa menjadi salah satu alternatif yang menarik.

Yang membuat belut cukup unik bukan hanya jumlah proteinnya, tetapi juga cita rasanya.

Daging belut memiliki kandungan asam glutamat alami yang cukup tinggi sehingga menghasilkan rasa gurih (umami). Karena itu, belut sering diolah menjadi belut goreng krispi, sambal belut, keripik belut, pepes belut, mangut belut, dan belut bakar.

Selain sebagai lauk utama, belut juga mulai dimanfaatkan sebagai konsentrat protein ikan (KPI) untuk berbagai produk pangan tinggi protein karena kandungan proteinnya yang cukup baik.

Kenapa Belut Licin?

Kalau kamu pernah mencoba memegang belut hidup, pasti tahu betapa sulitnya menangkap hewan ini. Baru dipegang sebentar, belut sudah lolos dari genggaman.

Lalu, kenapa belut licin? Jawabannya bukan karena tubuhnya berminyak, melainkan karena kulit belut menghasilkan lapisan lendir (mukus) secara alami.

Berbeda dengan ikan seperti nila atau gurami yang memiliki sisik sebagai pelindung, belut hampir tidak memiliki sisik yang terlihat. Sebagai gantinya, kulitnya dilapisi mukus yang diproduksi oleh sel-sel khusus pada permukaan kulit.

Lendir tersebut memiliki beberapa fungsi penting, yaitu:

1. Membantu bergerak di lumpur

Belut hidup di sawah, rawa, dan dasar perairan yang berlumpur. Lapisan lendir mengurangi gesekan sehingga belut dapat menyusup dengan lebih mudah ke dalam lumpur atau celah sempit.

2. Menjaga kelembapan kulit

Belut termasuk ikan yang mampu bertahan pada kondisi air minim oksigen. Bahkan, belut dapat bertahan hidup sementara di lingkungan yang lembap karena sebagian proses pertukaran gas juga dibantu oleh permukaan kulitnya.

Agar fungsi tersebut tetap berjalan, kulit harus selalu lembap. Inilah alasan tubuh belut selalu dipenuhi lendir.

3. Melindungi tubuh dari mikroorganisme

Lapisan mukus juga berfungsi sebagai pertahanan pertama terhadap bakteri, jamur, maupun parasit yang terdapat di habitat berlumpur.

Jadi, lendir pada belut bukanlah kotoran, melainkan bagian penting dari sistem pertahanan alaminya.

Manfaat Belut dalam Kehidupan Sehari-hari

Saat mendengar kata manfaat belut, banyak orang langsung mengaitkannya dengan berbagai klaim kesehatan. Padahal, dari sudut pandang sains pangan, belut juga memiliki banyak keunggulan sebagai bahan makanan.

Berikut beberapa alasan mengapa belut menjadi salah satu bahan pangan yang menarik.

1. Sumber protein hewani yang berkualitas

Dengan kandungan protein sekitar 14–18,5 gram per 100 gram, belut dapat menjadi alternatif sumber protein selain ayam, sapi, maupun ikan laut.

Protein tersebut dibutuhkan tubuh sebagai bahan penyusun berbagai jaringan dan membantu menjaga kualitas berbagai olahan makanan.

2. Memiliki cita rasa umami alami

Belut mengandung berbagai asam amino terutama asam glutamat, yang memberikan sensasi gurih alami.

Karena itu, olahan belut sering kali tetap terasa lezat meskipun menggunakan bumbu yang sederhana.

3. Mudah diolah menjadi berbagai produk

Belut termasuk bahan pangan yang fleksibel di dapur.

Di Indonesia, belut dapat diolah menjadi belut goreng krispi, sambal belut, mangut belut, pepes belut, keripik belut, atau abon belut.

Bahkan saat ini, belut juga mulai dimanfaatkan sebagai konsentrat protein ikan untuk meningkatkan kandungan protein pada berbagai produk pangan.

4. Memberikan tekstur yang khas

Berbeda dengan ikan yang mudah hancur, daging belut memiliki tekstur yang padat namun tetap lembut setelah dimasak.

Karakteristik inilah yang membuat belut cocok diolah menggunakan teknik menggoreng, memanggang, maupun memasak berkuah.

Cara menghilangkan bau amis pada belut dengan memberikan perasan jeruk nipis

Cara Membersihkan Belut agar Tidak Licin dan Tidak Amis

Salah satu tantangan saat mengolah belut adalah lapisan lendirnya. Kalau tidak dibersihkan dengan benar, tekstur belut akan sangat licin dan aroma lumpurnya masih terasa.

Berikut langkah membersihkan belut yang bisa kamu coba.

1. Lumuri dengan garam kasar atau abu gosok

Taburkan garam kasar (atau abu gosok seperti cara tradisional) ke seluruh permukaan tubuh belut. Remas perlahan selama 2–3 menit hingga lendir mulai terangkat.

Garam membantu menarik lendir keluar sehingga permukaan belut menjadi lebih kesat.

2. Bilas menggunakan air mengalir

Setelah lendir terangkat, bilas belut menggunakan air mengalir hingga bersih. Jika masih terasa licin, ulangi proses dengan sedikit garam.

3. Buang isi perut

Sayat bagian perut menggunakan pisau tajam, kemudian keluarkan seluruh organ dalam. Pastikan kantung empedu tidak pecah agar daging tidak terasa pahit.

4. Bilas kembali

Cuci sekali lagi hingga tidak ada sisa darah maupun isi perut. Kalau ingin mengurangi aroma amis, kamu bisa menambahkan sedikit air perasan jeruk nipis sebelum dimasak.

Cara Menyimpan Belut agar Tetap Segar

Belut termasuk bahan pangan yang mudah rusak apabila disimpan pada suhu ruang terlalu lama. Supaya kualitasnya tetap terjaga, berikut cara penyimpanan yang disarankan.

Untuk belut segar

  • Bersihkan terlebih dahulu hingga lendir dan isi perutnya hilang.
  • Potong sesuai porsi sekali masak.
  • Masukkan ke dalam kantong ziplock atau wadah kedap udara.
  • Simpan di freezer pada suhu -18°C atau lebih rendah.

Menyimpan belut dalam porsi kecil akan menghindari proses beku-cair (freeze-thaw) berulang yang dapat merusak tekstur daging.

Untuk belut matang

Belut yang sudah dimasak sebaiknya:

  • didinginkan terlebih dahulu,
  • disimpan dalam wadah tertutup,
  • lalu dimasukkan ke dalam kulkas.

Sebaiknya habiskan dalam beberapa hari agar kualitas rasa tetap optimal.

Ciri Belut yang Sudah Tidak Layak Dikonsumsi

Sebelum memasak, selalu lakukan pemeriksaan sederhana pada belut. Jangan dikonsumsi apabila menunjukkan tanda berikut.

Tekstur sangat lembek

Daging belut segar terasa kenyal dan elastis. Jika saat ditekan dagingnya langsung hancur atau terlalu lunak, kualitasnya sudah menurun.

Mengeluarkan lendir berlebihan

Belut memang memiliki lendir alami saat hidup. Namun, jika setelah dibersihkan muncul lendir baru yang sangat kental, lengket, dan berbau, hal tersebut bisa menjadi tanda aktivitas mikroorganisme pembusuk.

Bau busuk atau amonia

Belut segar memiliki aroma khas ikan yang ringan. Sebaliknya, bau menyengat seperti amonia atau busuk merupakan tanda bahwa protein di dalam daging mulai mengalami pembusukan.

Warna berubah

Daging belut segar berwarna putih kekuningan hingga krem. Jika berubah menjadi kusam, kehijauan, keabu-abuan, atau muncul bercak yang tidak normal, sebaiknya jangan dikonsumsi.

Kesimpulannya, Belut Tetap Punya Tulang dan Kaya Protein

Meski bentuknya menyerupai ular, belut adalah ikan air tawar yang memiliki tulang belakang lengkap. Tulangnya memang kecil dan menempel rapat pada daging sehingga sering tidak terasa saat dimakan.

Selain itu, belut juga merupakan sumber protein hewani yang kandungannya setara dengan daging sapi maupun ayam, serta memiliki cita rasa umami alami yang membuatnya cocok diolah menjadi berbagai hidangan.

Kalau kamu ingin mengolah belut di rumah, jangan lupa membersihkan lendirnya dengan benar, menyimpannya dalam wadah kedap udara, dan selalu memastikan kondisinya masih segar sebelum dimasak.

Punya bahan makanan lain yang bikin kamu penasaran? Yuk, eksplor artikel Delinutri lainnya untuk mengenal lebih dekat kandungan gizi, cara penyimpanan, hingga fakta sains di balik berbagai bahan pangan yang sering kita temui sehari-hari.

Referensi:

Andasari, S. D., & Zukhri, S. (2018). Penetapan Kadar Protein Pada Belut Sawah (Monopterus albus Zuieuw) Liar dan Budidaya. The 7th University Research Colloquium (URECOL), 192–195.

Mutiara, D., & Yona, T. B. (2021). Analisis Nilai Tambah Pengolahan Belut Menjadi Keripik Belut (Studi Kasus di Desa Kedu Kecamatan Buay Madang Timur Kabupaten OKU Timur). STIE Syari’ah Al-Mujaddid.

Pandiangan, M., Sihombing, D. R., Sitohang, A., & Manurung, W. A. (2024). Pemanfaatan Ikan Belut Sawah (Monopterus albus) sebagai Sediaan Bahan Pangan Konsentrat Protein Ikan. Jurnal Riset Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (RETIPA), 4(2), 85–91.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top