Mirip Rambut, Apa Sebenarnya Fat Choy?

croissant pattaya dengan toping fat choy

Akhir-akhir ini, fat choy menjadi perbincangan setelah muncul sebagai topping pada croissant viral di Pattaya, Thailand. Bentuknya yang panjang, hitam, dan menyerupai rambut membuat banyak orang bertanya-tanya. Ada yang mengira fat choy adalah rumput laut, jamur, bahkan tidak sedikit yang menyebutnya rambut sungguhan.

Padahal, fat choy merupakan bahan pangan yang telah lama digunakan dalam kuliner Tiongkok, terutama pada hidangan perayaan Tahun Baru Imlek. Lantas, apa sebenarnya fat choy? Mengapa bentuknya bisa mirip rambut, dan apakah aman untuk dikonsumsi?

Apa Itu Fat Choy?

Secara ilmiah, fat choy adalah Nostoc flagelliforme, yaitu sejenis sianobakteri (cyanobacteria) yang hidup di daratan. Berbeda dengan anggapan banyak orang, fat choy bukan rumput laut, bukan jamur, dan tentu bukan rambut, melainkan kelompok bakteri fotosintetik yang telah ada di bumi selama miliaran tahun.

Di alam, fat choy tumbuh di daerah yang sangat kering, seperti Gurun Gobi dan Dataran Tinggi Qinghai di Tiongkok. Organisme ini termasuk ekstremofil karena mampu bertahan dalam kondisi tanpa air selama bertahun-tahun, kemudian kembali aktif hanya beberapa menit setelah terkena air.

Mengapa Fat Choy Mirip Rambut?

Bentuk fat choy yang menyerupai rambut berasal dari struktur koloninya yang terdiri atas filamen-filamen halus. Di bawah mikroskop, filamen tersebut merupakan rangkaian sel yang disebut trikoma dan dilapisi oleh lendir pelindung berupa polisakarida ekstraseluler (extracellular polysaccharides atau EPS).

Saat mengalami kekeringan, lapisan pelindung tersebut mengerut sehingga filamen berkumpul membentuk untaian panjang berwarna hitam yang tampak seperti rambut. Warna gelapnya berasal dari pigmen scytonemin, yaitu senyawa alami yang membantu melindungi fat choy dari paparan sinar ultraviolet (UV) di habitatnya.

Fat Choy Tersusun dari Apa?

Fat choy tersusun terutama dari karbohidrat kompleks, terutama dalam bentuk polisakarida ekstraseluler (extracellular polysaccharides atau EPS) yang membentuk untaian-untaian halus khasnya.

Lapisan polisakarida ini tidak hanya berfungsi sebagai penyusun struktur, tetapi juga membantu fat choy mempertahankan kelembapan dan melindunginya dari kondisi lingkungan yang sangat kering. Selain karbohidrat, fat choy juga mengandung protein, berbagai mineral seperti kalsium dan zat besi, serta sejumlah senyawa bioaktif.

Senyawa-senyawa tersebut membantu melindungi fat choy dari paparan sinar ultraviolet (UV), kekeringan ekstrem, dan stres oksidatif di habitat aslinya. Kombinasi inilah yang membuat fat choy mampu bertahan hidup di wilayah gurun selama bertahun-tahun dan kembali aktif ketika memperoleh air.

Mengapa Fat Choy Dianggap sebagai Bahan Makanan Premium?

Status fat choy sebagai bahan makanan premium bukan karena rasanya yang istimewa, melainkan karena nilai budaya dan kelangkaannya.

Dalam bahasa Kanton, “fat choy” memiliki pelafalan yang mirip dengan ungkapan “fa cai”, yang berarti kemakmuran atau keberuntungan. Karena itu, bahan makanan ini hampir selalu disajikan saat perayaan Tahun Baru Imlek sebagai simbol harapan akan rezeki dan kesuksesan.

Di sisi lain, fat choy tumbuh sangat lambat di habitat aslinya. Pemanenan liar secara besar-besaran pada masa lalu menyebabkan kerusakan ekosistem di wilayah gurun Tiongkok.

Untuk melindungi populasinya, pemerintah Tiongkok melarang pemanenan fat choy liar sejak tahun 2000. Kelangkaan inilah yang membuat harganya menjadi sangat mahal dan menjadikannya sebagai bahan makanan premium.

Bagaimana Rasa dan Tekstur Fat Choy?

Fat choy memiliki rasa yang cenderung netral dengan sedikit aroma tanah atau rumput yang sangat lembut. Keunggulan utamanya justru terletak pada kemampuannya menyerap bumbu dan kaldu selama proses memasak, sehingga cita rasanya mengikuti hidangan tempat ia dimasak.

Setelah dimasak, tekstur fat choy menjadi lembut, licin, dan menyerupai bihun yang sangat halus. Karakter inilah yang membuatnya sering digunakan sebagai pelengkap berbagai hidangan tradisional Tiongkok.

Kandungan Gizi Fat Choy

Meskipun biasanya dikonsumsi dalam jumlah yang tidak banyak, fat choy mengandung berbagai zat gizi dan senyawa bioaktif, di antaranya:

  • Protein, yang mengandung berbagai asam amino, termasuk beberapa asam amino esensial.
  • Kalsium dan zat besi, dengan kadar yang relatif tinggi dibandingkan banyak sayuran.
  • Vitamin B12, meskipun sebagian besar berada dalam bentuk pseudovitamin B12, yaitu bentuk vitamin B12 yang tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tubuh manusia.

Manfaat Fat Choy untuk Kesehatan

Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, fat choy telah lama dipercaya dapat membantu menjaga sirkulasi darah dan mendukung kesehatan jantung. Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa fat choy mengandung nostoflan, yaitu polisakarida yang menunjukkan aktivitas antivirus terhadap virus herpes pada penelitian laboratorium.

Namun, fat choy juga mengandung senyawa alami BMAA (beta-N-methylamino-L-alanine), yaitu asam amino non-protein yang masih terus diteliti kaitannya dengan penyakit neurodegeneratif, seperti Alzheimer dan ALS. Hingga saat ini, bukti pada manusia masih belum konklusif.

Oleh karena itu, konsumsi fat choy dalam jumlah wajar sesekali umumnya dianggap aman, tetapi tidak dianjurkan untuk dikonsumsi secara berlebihan atau dijadikan makanan sehari-hari.

Bagaimana Fat Choy Digunakan dalam Masakan?

hidangan fat choy

Fat choy umumnya tidak dikonsumsi sebagai bahan utama, melainkan sebagai pelengkap dalam berbagai hidangan tradisional Tiongkok. Karena rasanya cenderung netral, fat choy lebih berfungsi memberikan tekstur sekaligus menyerap cita rasa dari bumbu dan kaldu tempat ia dimasak.

Bahan ini juga sering disajikan saat perayaan Tahun Baru Imlek sebagai simbol harapan akan kemakmuran dan keberuntungan. Sebelum dimasak, fat choy perlu melalui beberapa tahap persiapan agar teksturnya tetap baik dan bebas dari kotoran.

Direndam Terlebih Dahulu

Fat choy kering perlu direndam dalam air dingin selama sekitar 15–30 menit hingga untaian-untaiannya mengembang dan menjadi lebih lembut. Proses perendaman ini juga membantu menghilangkan pasir, debu, atau kotoran halus yang masih menempel setelah proses pengeringan.

Dicuci hingga Bersih

Setelah direndam, fat choy sebaiknya dibilas beberapa kali menggunakan air bersih hingga air bilasan benar-benar jernih. Langkah ini penting karena fat choy tumbuh di daerah gurun sehingga butiran pasir halus masih dapat tertinggal di sela-sela filamennya.

Dimasak Bersama Bahan Beraroma Umami

Karena memiliki rasa yang ringan, fat choy biasanya dimasak dengan teknik braising, yaitu dimasak perlahan dalam kaldu berbumbu agar dapat menyerap cita rasa secara optimal. Dalam masakan tradisional Tiongkok, fat choy sering dipadukan dengan bahan-bahan bercita rasa umami, seperti jamur shiitake, tiram kering (dried oyster), abalon, atau aneka hidangan laut.

Setelah matang, teksturnya menjadi lembut dan sedikit licin sehingga memberikan sensasi yang khas saat disantap. Karena kemampuannya menyerap bumbu dengan baik, fat choy lebih dihargai karena tekstur dan makna simbolisnya daripada rasa alaminya.

Tips Memilih dan Menyimpan Fat Choy

Karena termasuk bahan makanan premium dengan harga yang relatif mahal, fat choy juga cukup sering dipalsukan atau dicampur dengan bahan lain yang menyerupai bentuk aslinya.

Oleh karena itu, penting untuk memilih produk dari penjual tepercaya dan mengenali ciri-ciri fat choy yang berkualitas sebelum membeli.

Cara Membedakan Fat Choy Asli dan Palsu

Fat choy asli umumnya memiliki untaian yang tipis, lentur, dan saling menyatu membentuk gumpalan menyerupai rambut. Setelah direndam dalam air, warnanya biasanya berubah menjadi hijau tua hingga hijau zaitun, sedangkan teksturnya tetap utuh dan tidak mudah hancur.

Sebaliknya, produk palsu yang dibuat dari pati, agar, atau bahan lain yang diberi pewarna cenderung tetap berwarna hitam pekat setelah direndam atau mudah hancur ketika dimasak dalam waktu lama. Jika memungkinkan, pilih produk yang memiliki informasi asal bahan dan dipasarkan oleh produsen atau importir yang terpercaya.

Cara Menyimpan Fat Choy

Fat choy kering sebaiknya disimpan dalam wadah kedap udara dan diletakkan di tempat yang sejuk, kering, serta terhindar dari sinar matahari langsung. Hindari menyimpannya di tempat yang lembap karena dapat memicu pertumbuhan jamur dan menurunkan kualitas produk.

Apabila kemasan sudah dibuka, pastikan wadah selalu tertutup rapat setelah digunakan. Penyimpanan yang tepat akan membantu menjaga tekstur, aroma, dan kualitas fat choy hingga siap digunakan kembali.

Baca juga: Black Garlic, Benarkah Bawang Hitam Hasil Fermentasi?

Kesimpulan

Fat choy bukan rumput laut, jamur, ataupun rambut, melainkan sejenis sianobakteri yang telah lama menjadi bagian dari kuliner tradisional Tiongkok. Popularitasnya kembali meningkat setelah viral sebagai topping croissant, tetapi nilai utamanya tetap berasal dari makna budaya, kelangkaan, dan bentuknya yang unik.

Meski memiliki kandungan gizi dan senyawa bioaktif, fat choy umumnya dikonsumsi dalam jumlah kecil sebagai pelengkap hidangan, bukan sebagai sumber nutrisi utama. Jika ingin mencobanya, pastikan memilih produk yang asli dan mengonsumsinya secara wajar sebagai bagian dari pola makan yang seimbang.

Referensi:

Shang, J. L., et al. (2025). Molecular Mechanisms of Nostoc flagelliforme Environmental Adaptation: A Comprehensive Review. Plants (Basel).

Roney, B. R., et al. (2009). Consumption of fa cai Nostoc soup: a potential for BMAA exposure from Nostoc cyanobacteria in China? Amyotrophic Lateral Sclerosis.

Yue, S. J., et al. (2011). Nutritional Analysis of the Wild and Liquid Suspension Cultured Nostoc Flagelliforme and Antitumor Effects of the Extracellular Polysaccharides. Advanced Materials Research.

    Tinggalkan Komentar

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Scroll to Top