Apakah Edamame Sama dengan Kedelai? Simak Faktanya

edamame dan kedelai

Semakin populernya gaya hidup sehat membuat edamame kini makin sering dikonsumsi dan dikenal sebagai salah satu makanan tinggi nutrisi atau bahkan disebut sebagai “superfood”. Namun, masih banyak orang yang bertanya tanya apakah edamame sebenarnya sama dengan kacang kedelai biasa yang sering digunakan untuk membuat tahu, tempe, atau susu kedelai.

Sekilas keduanya memang terlihat mirip karena berasal dari tanaman yang sama. Namun, jika dilihat lebih dalam, edamame dan kedelai ternyata memiliki perbedaan yang cukup besar, mulai dari cara panen, tekstur, rasa, kandungan nutrisi, hingga penggunaannya dalam makanan sehari hari.

Memahami perbedaan ini penting karena edamame bukan sekadar “kedelai biasa” yang dikemas ulang, melainkan memiliki karakteristik tersendiri baik dari sisi biokimia maupun nilai ekonominya.

Apa Itu Edamame?

Secara etimologis, kata edamame berasal dari bahasa Jepang. Kata “eda” berarti cabang, sedangkan “mame” berarti kacang. Karena itu, edamame secara harfiah dapat diartikan sebagai “kacang di dahan” atau kacang bertangkai.

Secara botani, edamame adalah biji kedelai yang dipanen saat masih muda dan segar. Edamame biasanya dipanen ketika biji di dalam polong telah terisi sekitar 80 hingga 90 persen, tetapi belum mengeras sempurna seperti kedelai kering.

Di banyak negara, terutama negara Barat, edamame juga dikenal sebagai vegetable soybean atau kedelai sayur karena lebih sering dikonsumsi langsung sebagai camilan sehat, direbus, dikukus, atau ditambahkan ke berbagai hidangan modern.

Apakah Edamame Sama dengan Kedelai?

Secara biologis dan genetik, edamame dan kedelai sebenarnya berasal dari tanaman yang sama, yaitu Glycine max. Jadi, bisa dibilang edamame memang merupakan bagian dari kedelai. Namun, perbedaan utamanya terletak pada waktu panennya.

Edamame dipanen lebih awal saat bijinya masih muda, segar, dan berwarna hijau cerah. Pada tahap ini, biji sudah terisi penuh di dalam polong tetapi belum mengering. Sementara itu, kedelai biasa yang digunakan untuk membuat tahu, tempe, atau susu kedelai dibiarkan matang sepenuhnya hingga polongnya mengering dan berubah warna menjadi kuning atau cokelat.

Karena dipanen pada tahap yang berbeda, edamame dan kedelai akhirnya memiliki karakteristik yang cukup berbeda, mulai dari bentuk, rasa, tekstur, hingga kandungan nutrisinya.

Perbedaan Edamame dan Kedelai

Bentuk dan Warna

Perbedaan antara edamame dan kedelai sebenarnya sangat mudah dikenali dari tampilannya.

Edamame dipanen bersama polongnya yang masih berwarna hijau cerah hingga hijau tua dan biasanya masih dilapisi bulu halus. Biji di dalamnya berukuran lebih besar, terlihat lebih montok, lunak, dan memiliki kandungan air yang sangat tinggi sehingga terasa segar saat dimakan.

Sebaliknya, kedelai matang memiliki polong yang sudah mengering dan berubah warna menjadi kuning, abu abu, atau cokelat. Bijinya lebih kecil, keras, dan padat karena kadar airnya sudah jauh berkurang.

Perbedaan Rasa dan Tekstur

Edamame dikenal memiliki rasa yang lebih manis dan gurih alami atau sering disebut memiliki rasa umami yang kuat. Hal ini terjadi karena kandungan gula alami dan asam amino pada edamame masih berada pada titik tertinggi saat dipanen muda.

Teksturnya juga lebih lembut namun tetap sedikit renyah ketika digigit, sehingga sering disukai sebagai camilan sehat atau pelengkap berbagai hidangan.

Berbeda dengan edamame, kedelai matang memiliki rasa yang lebih netral dan cenderung langu. Saat kedelai semakin matang, sebagian besar gula alaminya berubah menjadi pati sehingga rasa manisnya berkurang. Teksturnya pun menjadi keras dan tidak bisa dikonsumsi langsung tanpa proses pengolahan terlebih dahulu.

Perbedaan Kandungan Nutrisi

Edamame dan kedelai sama sama kaya nutrisi, tetapi kandungannya berbeda karena tingkat kematangannya juga berbeda.

Edamame lebih unggul dalam kandungan vitamin yang sensitif terhadap proses pengeringan, seperti vitamin C dan folat atau vitamin B9. Bahkan, kandungan folat pada edamame bisa jauh lebih tinggi dibandingkan kedelai matang. Selain itu, edamame juga mengandung senyawa pembentuk gas yang lebih rendah sehingga biasanya terasa lebih nyaman di pencernaan.

Sementara itu, kedelai matang memiliki kandungan protein, lemak, kalori, serta mineral seperti kalsium dan zat besi yang lebih tinggi secara konsentrasi. Hal ini terjadi karena kadar air pada kedelai matang sudah jauh berkurang sehingga nutrisinya menjadi lebih padat.

Apakah Edamame dan Kedelai Boleh Dikonsumsi Mentah?

Jawabannya adalah tidak. Baik edamame maupun kedelai tidak dianjurkan untuk dikonsumsi dalam keadaan mentah.

Seperti jenis kacang kacangan lainnya, kedelai mentah mengandung senyawa anti nutrisi yang dapat mengganggu proses pencernaan dan penyerapan protein di dalam tubuh. Salah satu senyawa yang paling dikenal adalah trypsin inhibitor, yaitu senyawa yang dapat menghambat kerja enzim pencernaan protein.

Jika dikonsumsi mentah dalam jumlah tertentu, senyawa ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti perut tidak nyaman, mual, kembung, hingga meningkatkan risiko keracunan ringan.

Karena itu, edamame maupun kedelai perlu dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Proses perebusan atau pengukusan selama sekitar 5 sampai 10 menit sangat penting untuk membantu menghancurkan senyawa anti nutrisi tersebut sehingga kacang menjadi lebih aman, sehat, dan mudah dicerna tubuh.

Manfaat Edamame dan Kedelai bagi Kesehatan

Edamame dan kedelai termasuk sumber protein nabati lengkap karena mengandung sembilan asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh. Selain tinggi protein, keduanya juga kaya serat, vitamin, mineral, dan senyawa aktif yang bermanfaat bagi kesehatan.

Menjaga Kesehatan Jantung

Edamame dan kedelai mengandung protein, serat, serta antioksidan yang dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat atau LDL dalam darah. Konsumsi kedelai secara rutin juga dikaitkan dengan penurunan risiko penumpukan plak pada pembuluh darah yang dapat memicu penyakit jantung.

Membantu Meredakan Gejala Menopause dan Menjaga Tulang

Kedelai mengandung isoflavon, yaitu senyawa fitoestrogen yang memiliki struktur mirip hormon estrogen. Senyawa ini dapat membantu mengurangi gejala menopause seperti rasa panas mendadak atau hot flashes. Selain itu, isoflavon juga berperan dalam membantu menjaga kepadatan tulang dan menurunkan risiko osteoporosis.

Lebih Ramah untuk Gula Darah

Edamame memiliki indeks glikemik yang rendah sehingga tidak mudah menyebabkan lonjakan gula darah. Kandungan protein dan seratnya juga membantu tubuh merasa kenyang lebih lama dan mendukung sensitivitas insulin, sehingga cocok dijadikan pilihan camilan sehat untuk penderita diabetes atau orang yang sedang menjaga kadar gula darah.

Berpotensi Membantu Mencegah Kanker

Kandungan isoflavon seperti genistein pada kedelai diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang dapat membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa senyawa ini berpotensi membantu menghambat pertumbuhan sel kanker tertentu, termasuk kanker payudara.

Mengapa Edamame Lebih Mahal daripada Kedelai?

edamame

Meski berasal dari tanaman yang sama, harga edamame di pasaran biasanya jauh lebih mahal dibandingkan kedelai biasa. Perbedaan harga ini dipengaruhi oleh proses budidaya, panen, hingga distribusinya yang lebih rumit dan membutuhkan biaya lebih besar.

Salah satu penyebab utamanya adalah proses panen edamame yang cenderung padat karya. Untuk menjaga kualitas polong tetap segar, hijau, dan tidak rusak, edamame sering dipanen secara manual menggunakan tangan. Proses ini membutuhkan lebih banyak tenaga kerja dibandingkan kedelai biasa yang umumnya dipanen setelah kering.

Selain itu, edamame juga memiliki waktu panen yang sangat singkat. Polong harus dipanen tepat saat kualitasnya sedang berada di puncak, biasanya hanya dalam rentang beberapa hari saja. Jika terlambat dipanen, warna hijau pada polong bisa berubah menjadi kekuningan dan rasa manis alaminya mulai berkurang karena berubah menjadi pati.

Edamame segar juga lebih sensitif selama proses distribusi. Setelah dipanen, edamame harus segera didinginkan dan disimpan dalam suhu rendah agar kualitas, warna, dan rasanya tetap terjaga. Karena itu, distribusi edamame membutuhkan sistem rantai dingin atau cold chain yang tentu menambah biaya penyimpanan dan pengiriman.

Baja juga: Cara Menyimpan Tempe Agar Awet Berhari-Hari

Kesimpulan

Pada dasarnya, edamame dan kedelai merupakan tanaman yang sama, tetapi dipanen pada tahap kematangan yang berbeda. Edamame adalah kedelai muda yang dipanen saat masih segar dan hijau, sehingga memiliki tekstur lebih lembut, rasa lebih manis, serta kandungan vitamin tertentu yang lebih tinggi dibandingkan kedelai matang.

Di sisi lain, kedelai matang lebih sering digunakan sebagai bahan baku berbagai produk olahan seperti tahu, tempe, dan susu kedelai karena kandungan protein dan mineralnya lebih padat.

Meski harga edamame lebih mahal karena proses panen dan distribusinya lebih kompleks, keduanya tetap merupakan sumber protein nabati yang sangat baik untuk kesehatan.

Baik edamame maupun kedelai sama sama kaya nutrisi dan dapat membantu mendukung kesehatan jantung, menjaga kadar gula darah, serta memenuhi kebutuhan protein harian jika dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan seimbang.

Referensi:

Carneiro, R. C. V., Duncan, S. E., O’Keefe, S. F., Yu, D., Huang, H., Yin, Y., Neill, C. L., Zhang, B., Kuhar, T., Rideout, S., Reiter, M., Ross, J., Chen, P., & Gillen, A. (2021). Utilizing Consumer Perception of Edamame to Guide New Variety Development. Frontiers in Sustainable Food Systems.

Kurniasanti, S. A., Sumarwan, U., & Kurniawan, B. P. Y. (2014). Analisis dan Model Strategi Peningkatan Daya Saing Produk Edamame Beku. Jurnal Manajemen & Agribisnis.

Pesic, M. B., Vucelic-Radovic, B. V., Barac, M. B., Stanojevic, S. P., & Nedovic, V. A. (2007). Influence of Different Genotypes on Trypsin Inhibitor Levels and Activity in Soybeans. Sensors.

Putri, H. R. (2024). Pembuatan Tempe Edamame Sebagai Media Untuk Mengimplementasikan Biotechnopreneurship Pada Mahasiswa Pendidikan Biologi UNIPAR Jember. BIO-CONS: Jurnal Biologi dan Konservasi.

Sisca, P., Dulbari, D., & Kalsum, N. (2024). Kualitas Hasil Edamame pada Berbagai Umur Panen. J-Plantasimbiosa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top