
Kimpul belakangan kembali ramai diperbincangkan setelah konten Ibu Tin dari Bantul, yang dikenal sebagai “Ibu Kimpul” melalui akun Instagram @black.sheep8208, memperlihatkan berbagai olahan berbahan kimpul. Popularitas tersebut membuat banyak orang kembali penasaran dengan umbi lokal yang mungkin selama ini jarang diperhatikan.
Namun, sebenarnya kimpul itu umbi apa? Apakah kimpul sama dengan talas? Dan mengapa kimpul bisa terasa gatal jika diolah dengan cara yang kurang tepat? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat kimpul dari sisi botani, karakteristik fisik, kandungan pati, hingga cara pengolahannya.
Apa Itu Kimpul?
Kimpul merupakan tanaman herba menahun dari famili Araceae, yaitu kelompok tanaman yang dikenal sebagai suku talas-talasan. Nama ilmiahnya adalah Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott, sehingga secara botani kimpul berbeda dari talas yang termasuk genus Colocasia.
Tanaman kimpul dapat tumbuh sekitar 1–2 meter dan menghasilkan umbi di bawah tanah. Bagian yang biasa dipanen dan dikonsumsi adalah umbi anak atau kormel (cormels), yang tumbuh mengelilingi umbi induk (corm).
Kormel kimpul umumnya berbentuk silinder hingga agak bulat dengan kulit berwarna cokelat dan memiliki serat kasar. Bagian dalam umbinya dapat memiliki warna yang berbeda-beda tergantung kultivar, mulai dari putih, kuning kemerahan, hingga keunguan.
Ukuran kormel juga cukup beragam, dengan berat sekitar 300–1.000 gram dan panjang maupun diameter yang dapat mencapai 12–25 cm. Jadi, kimpul yang kita kenal sebagai bahan pangan sebenarnya merupakan bagian dari sistem umbi tanaman Xanthosoma, bukan sekadar “talas dengan nama berbeda”.
Kimpul berasal dari wilayah tropis Amerika Selatan bagian utara dan Kepulauan Karibia, kemudian menyebar ke berbagai wilayah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini dapat tumbuh dari dataran rendah hingga sekitar 1.100–1.300 meter di atas permukaan laut dan cukup toleran terhadap naungan serta kekeringan musiman.
Di Indonesia, masyarakat juga mengenal beberapa kultivar kimpul berdasarkan karakteristik daun, batang, dan umbinya. Beberapa di antaranya adalah kimpul hitam, kimpul hijau, kimpul Belitung, kimpul Haji, dan kimpul Gendruk, yang memiliki perbedaan pada warna, bentuk, dan karakter umbinya.
Apakah Kimpul Sama dengan Talas?
Kalau selama ini kamu menganggap kimpul dan talas sebagai umbi yang sama, ternyata keduanya berbeda. Kebingungan ini cukup wajar karena kimpul dan talas masih memiliki hubungan kekerabatan yang dekat, yaitu sama-sama berasal dari famili Araceae dan memiliki bentuk tanaman yang sekilas mirip.
Perbedaan paling mendasarnya terletak pada genus. Kimpul termasuk genus Xanthosoma, sedangkan talas sejati termasuk genus Colocasia.
Keduanya memang memiliki beberapa persamaan. Misalnya, sama-sama merupakan tanaman monokotil, memiliki daun lebar, menghasilkan umbi kaya pati, dan mengandung kalsium oksalat yang dapat menimbulkan sensasi gatal apabila tidak diolah dengan tepat.
Namun, bentuk daun dan sistem umbinya dapat membantu membedakan keduanya. Kimpul memiliki daun yang cenderung menyerupai mata panah dengan lekukan pangkal yang terbuka, sedangkan daun talas umumnya berbentuk jantung atau tameng.
Pada bagian bawah tanah, kimpul memiliki satu umbi induk yang dikelilingi banyak umbi anak. Sementara itu, talas dapat memiliki satu umbi induk besar atau menghasilkan umbi-umbi kecil melalui stolon, tergantung jenisnya.
| Karakteristik | Kimpul (Xanthosoma sagittifolium) | Talas (Colocasia esculenta) |
|---|---|---|
| Genus | Xanthosoma | Colocasia |
| Asal | Amerika tropis | Asia Tenggara dan wilayah Indo-Malaya |
| Bentuk daun | Menyerupai mata panah dengan lekukan pangkal terbuka | Umumnya berbentuk jantung atau tameng |
| Sistem umbi | Satu umbi induk dengan banyak umbi anak | Satu umbi induk besar atau umbi kecil dari stolon |
| Tinggi tanaman | Dapat mencapai sekitar 2–3 meter | Umumnya sekitar 1–1,5 meter |
| Kondisi tanah | Lebih menyukai tanah lembap dengan drainase baik | Lebih toleran terhadap tanah yang jenuh air |
Jadi, kimpul bukan talas sejati, meskipun keduanya masih satu keluarga. Penyebutan seperti “talas Belitung” yang terkadang digunakan untuk kimpul lebih merupakan istilah populer, bukan penanda bahwa keduanya berasal dari genus yang sama.
Bagaimana Rasa dan Tekstur Kimpul?
Kimpul yang dimasak hingga matang memiliki rasa yang cenderung gurih, sedikit manis, dan lezat. Umbi ini juga relatif bebas dari aroma tanah yang kuat sehingga cukup fleksibel untuk digunakan dalam berbagai olahan.
Dari sisi tekstur, kimpul yang sudah matang terasa pulen, empuk, padat, tetapi tetap lembut saat dikunyah. Karakter tersebut berkaitan erat dengan komposisi pati yang terdapat di dalam umbinya.
Kandungan pati pada kimpul segar berkisar antara 18,2–22,4%, sedangkan pada tepung kimpul yang sudah dikeringkan kadarnya dapat mencapai sekitar 65–80%. Perbedaan ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya kadar air selama proses pengeringan.
Pati kimpul terutama tersusun atas dua komponen, yaitu amilopektin dan amilosa. Amilopektin merupakan komponen yang lebih dominan dan berperan dalam memberikan sifat lengket serta pulen, sedangkan amilosa memiliki struktur rantai yang lebih lurus dan jumlahnya lebih rendah.
Kadar amilopektin yang tinggi membantu menghasilkan tekstur yang pulen dan sedikit lengket setelah dimasak. Sementara itu, proporsi amilosa yang lebih rendah membuat kimpul cenderung menghasilkan tekstur yang empuk setelah patinya mengalami gelatinisasi akibat panas.
Menariknya, granula pati kimpul juga berukuran relatif kecil, yaitu sekitar 1–4 μm. Kombinasi ukuran granula, kandungan pati, dan dominasi amilopektin membuat kimpul cukup fleksibel untuk digunakan sebagai bahan dasar berbagai olahan pangan, termasuk produk berbasis tepung dan pangan fungsional.
Kandungan Gizi Kimpul
Kimpul merupakan sumber karbohidrat yang cukup potensial, sekaligus menyediakan sejumlah vitamin dan mineral. Berdasarkan data Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) dari Kementerian Kesehatan RI, berikut kandungan gizi kimpul mentah dalam setiap 100 gram bahan segar.
Kandungan Gizi Kimpul per 100 Gram
| Zat Gizi | Kandungan per 100 g | Satuan |
|---|---|---|
| Air | 63,1 | g |
| Energi | 145 | kkal |
| Protein | 1,2 | g |
| Lemak | 0,4 | g |
| Karbohidrat | 34,2 | g |
| Serat | 1,5 | g |
| Abu | 1,1 | g |
| Kalsium | 26 | mg |
| Fosfor | 54 | mg |
| Besi | 1,4 | mg |
| Natrium | 6 | mg |
| Kalium | 536,1 | mg |
| Tembaga | 0,20 | mg |
| Seng | 0,9 | mg |
| Vitamin B1 | 0,10 | mg |
| Vitamin B2 | 0,10 | mg |
| Niasin | 2,3 | mg |
| Vitamin C | 2 | mg |
Sumber: Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, data komposisi “Belitung, talas, segar (Xanthosoma sagittifolium)” pada Panganku.
Apa Manfaat Kimpul sebagai Bahan Pangan?
Kimpul bukan hanya menarik karena sedang populer. Sebagai umbi sumber karbohidrat, kimpul juga mengandung serat serta sejumlah vitamin dan mineral yang membuatnya cukup potensial untuk menjadi bagian dari beragam olahan pangan.
1. Sumber Energi
Kandungan karbohidrat yang cukup tinggi membuat kimpul dapat menjadi salah satu sumber energi dari kelompok umbi-umbian. Karbohidrat kompleks di dalamnya juga dapat dicerna lebih bertahap, sehingga berpotensi membantu menyediakan energi secara lebih stabil.
2. Mendukung Kesehatan Pencernaan
Kimpul mengandung serat pangan yang membantu menambah massa feses dan mendukung pergerakan usus. Seratnya juga dapat menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme yang hidup di usus, sehingga berpotensi mendukung kesehatan saluran pencernaan.
3. Berpotensi Membantu Mengontrol Gula Darah
Kimpul memiliki indeks glikemik yang relatif rendah, sekitar 55, dan mengandung pati resisten. Menariknya, proses pengolahan juga dapat memengaruhi jumlah pati resisten di dalamnya. Kimpul yang direbus kemudian didinginkan dilaporkan mengalami peningkatan pati resisten hingga sekitar 40%.
Artinya, cara mengolah kimpul dapat memengaruhi karakteristik karbohidrat yang dikonsumsi, bukan sekadar rasa dan teksturnya.
4. Mendukung Kesehatan Jantung
Dalam 100 gram kimpul segar terdapat sekitar 394 mg kalium. Mineral ini berperan dalam menjaga keseimbangan cairan dan fungsi otot, termasuk otot jantung. Asupan kalium yang cukup juga berkaitan dengan pemeliharaan tekanan darah yang sehat.
5. Menyediakan Mineral untuk Tulang
Kimpul juga mengandung kalsium dan fosfor, masing-masing sekitar 77 mg dan 24 mg per 100 gram. Kedua mineral tersebut dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi, termasuk mempertahankan struktur tulang dan gigi.
6. Secara Alami Bebas Gluten
Kimpul merupakan bahan pangan yang secara alami tidak mengandung gluten. Karena itu, tepung kimpul dapat menjadi salah satu alternatif tepung berbahan gandum, termasuk dalam pengembangan produk pangan bebas gluten.
7. Rendah Purin
Kandungan purin pada kimpul tergolong rendah. Karena itu, kimpul dapat menjadi salah satu pilihan sumber karbohidrat bagi orang yang perlu memperhatikan asupan purin dalam pola makannya.
Namun, manfaat tersebut tidak berarti kimpul dapat menggantikan seluruh kebutuhan gizi. Kimpul terutama berperan sebagai sumber karbohidrat, sehingga tetap perlu dikombinasikan dengan sumber protein, lemak, vitamin, mineral, dan pangan berserat lainnya agar pola makan tetap beragam.
Mengapa Kimpul Bisa Menyebabkan Gatal?
Kalau kamu pernah mengolah kimpul, mungkin kamu pernah merasakan sensasi gatal, perih, atau seperti terbakar pada tangan setelah menyentuhnya. Sensasi serupa juga dapat muncul pada bibir, mulut, dan tenggorokan ketika kimpul dikonsumsi dalam kondisi mentah atau belum matang sempurna.
Penyebab utamanya adalah kristal kalsium oksalat berbentuk jarum mikroskopis yang disebut raphide. Kristal ini tersimpan di dalam sel khusus tanaman yang disebut idioblast.
Ketika kimpul digigit atau mengalami kerusakan mekanis, kristal tersebut dapat terlepas dan mengenai jaringan yang sensitif seperti kulit dan membran mukosa pada mulut serta tenggorokan. Bentuknya yang menyerupai jarum dapat menimbulkan iritasi sehingga muncul sensasi gatal, perih, atau terbakar.
Masalahnya bukan hanya soal rasa tidak nyaman. Kalsium oksalat dalam jumlah tinggi juga dapat berikatan dengan kalsium dan membentuk kristal yang tidak larut. Karena itu, kimpul sebaiknya tidak dikonsumsi mentah atau setengah matang.
Kandungan oksalat pada kimpul dapat berbeda-beda tergantung kultivar dan kondisi bahan. Beberapa laporan menunjukkan kadar yang cukup tinggi pada kimpul segar. Inilah alasan pengolahan menjadi tahap penting sebelum umbi dikonsumsi.
Bagaimana Cara Mengolah Kimpul agar Tidak Gatal?
Agar kimpul aman dan tidak menimbulkan rasa gatal, kamu bisa mengikuti beberapa langkah berikut:
- Kupas kulitnya hingga bersih
Kulit dan bagian luar kimpul dapat mengandung oksalat dan mengeluarkan getah. Mengupasnya membantu mengurangi komponen tersebut sebelum kimpul masuk ke tahap pengolahan berikutnya. - Rendam kimpul dalam air
Perendaman dapat membantu mengurangi sebagian oksalat yang larut dalam air. Salah satu metode yang telah diteliti pada kimpul adalah penggunaan larutan garam (NaCl). Larutan garam membantu menarik sebagian oksalat keluar dari jaringan kimpul sehingga dapat terbawa ke air rendaman. Efektivitasnya dipengaruhi oleh konsentrasi dan lama perendaman. - Bilas hingga bersih
Buang air rendaman, kemudian bilas kimpul beberapa kali dengan air bersih. - Rebus atau kukus hingga matang
Masak pada suhu sekitar 100°C selama 20–45 menit, atau sampai bagian dalamnya benar-benar empuk. - Buang air rebusan
Jika direbus, buang airnya dan jangan digunakan kembali untuk memasak bahan lain.

Kimpul Bisa Diolah Menjadi Apa Saja?
Kimpul memiliki pati yang didominasi amilopektin, sehingga setelah dimasak teksturnya cenderung pulen, lembut, dan mudah dibentuk. Karakter ini membuat kimpul cukup fleksibel untuk diolah menjadi berbagai makanan, baik secara sederhana maupun sebagai bahan dasar produk pangan.
- Direbus atau dikukus
Cara paling sederhana untuk menikmati kimpul. Umbi yang sudah dikupas dapat dikukus hingga empuk, kemudian disajikan hangat, misalnya bersama kelapa parut. - Keripik kimpul
Kimpul dapat diiris tipis, direndam dalam larutan perenyah, kemudian dibumbui dan digoreng hingga renyah. Pengolahan ini menghasilkan keripik dengan tekstur garing dan rasa gurih. - Gorengan
Kimpul juga dapat dipotong memanjang atau diserut, kemudian dicampur dengan adonan berbumbu dan digoreng. Hasilnya memiliki bagian luar yang renyah dengan bagian dalam yang tetap pulen. - Tepung kimpul
Kimpul dapat diolah menjadi tepung melalui proses perajangan, perendaman, pengeringan, penggilingan, dan pengayakan. Tepung ini memiliki daya simpan lebih panjang dan dapat digunakan sebagai bahan dasar berbagai produk pangan. - Kue dan makanan ringan
Tepung maupun puree kimpul dapat digunakan dalam berbagai produk, seperti cookies, kue lumpur, dan getuk panggang. Kimpul juga dapat dikombinasikan dengan bahan lain untuk menghasilkan tekstur dan rasa yang berbeda. - Mi, udon, dan beras analog
Tepung kimpul dapat digunakan dalam formulasi mi, udon, atau beras analog. Namun, karena kimpul rendah protein dan tidak mengandung gluten, penggunaannya perlu dikombinasikan dengan bahan lain, seperti tepung kacang-kacangan, agar produk memiliki struktur dan elastisitas yang lebih baik.
Bagaimana Cara Memilih dan Menyimpan Kimpul?
1. Pilih Kimpul yang Padat dan Keras
Pilih kimpul yang terasa padat, keras, dan berat sesuai ukurannya saat ditekan. Hindari umbi yang lunak, gembur, atau berlendir karena dapat menjadi tanda awal pembusukan.
2. Perhatikan Kondisi Kulit Umbi
Kulit kimpul sebaiknya masih utuh, kering, dan bebas dari luka dalam, memar, maupun bercak kapang. Kerusakan pada kulit dapat mempercepat masuknya mikroorganisme dan menyebabkan umbi lebih cepat rusak.
3. Simpan Kimpul Utuh di Tempat Kering
Kimpul yang belum dikupas dapat disimpan hingga sekitar dua bulan. Letakkan dalam wadah berpori, seperti keranjang, kemudian simpan di tempat yang kering, teduh, dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Hindari tempat yang terlalu lembap atau terkena sinar matahari langsung.
4. Simpan Kimpul yang Sudah Dipotong di Kulkas
Kimpul yang sudah dikupas atau dipotong lebih mudah mengalami pencokelatan akibat oksidasi. Jika belum langsung diolah, rendam potongannya dalam air bersih atau bungkus rapat, kemudian simpan di kulkas sekitar 5°C.
Baca juga: Apakah Tomat Rampai Sama Dengan Tomat Ceri? Simak Faktanya
Kesimpulan
Kimpul (Xanthosoma sagittifolium) merupakan umbi yang menarik bukan hanya karena kembali populer, tetapi juga karena potensinya sebagai bahan pangan lokal.
Kandungan karbohidrat, kalium, serat, serta karakter pati yang didominasi amilopektin membuatnya dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk, mulai dari kukusan, keripik, gorengan, tepung, kue, hingga produk seperti mi dan beras analog.
Meski kimpul dapat menimbulkan rasa gatal akibat kristal kalsium oksalat, hal tersebut dapat diminimalkan melalui pengupasan, perendaman, pembilasan, dan pemasakan hingga matang sempurna.
Dengan pengolahan yang tepat, kimpul dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperluas pemanfaatan umbi lokal sekaligus mendukung diversifikasi pangan Indonesia.
Referensi:
Ayu, D. C., & Yuwono, S. S. (2014). Pengaruh suhu blansing dan lama perendaman terhadap sifat fisik kimia tepung kimpul (Xanthosoma sagittifolium). Jurnal Pangan dan Agroindustri, 2(2), 110–120.
Aprilia, D., dkk. (2021). Penurunan kadar total oksalat tepung talas dan tepung belitung asal Bogor, Indonesia menggunakan dua metode perendaman. Warta AKAB, 45(2), 78–83.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Data Komposisi Pangan Indonesia: Belitung, talas, segar (Taro, belitung, steamed). Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI), Panganku. https://panganku.org/id-ID/view. Diakses 19 Agustus 2026.
Oktavianty, H., dkk. (2022). Diversifikasi kimpul menjadi getuk panggang sebagai inovasi produk unggulan Pokdarwis Bokoharjo. Seminar Nasional Pengabdian dan CSR Ke-2 Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, 314–317.
Putranto, A. W., Argo, B. D., & Komar, N. (2013). Pengaruh perendaman natrium bikarbonat (NaHCO₃) dan suhu penggorengan terhadap nilai kekerasan keripik kimpul (Xanthosoma sagittifolium). Jurnal Teknologi Pertanian, 14(2), 105–114.






