Soy Protein Isolate, Benarkah Kandungan Proteinnya Mencapai 90%?

soy protein isolate


Soy protein isolate (SPI) merupakan salah satu bahan baku protein nabati yang paling banyak digunakan dalam produk protein powder, minuman tinggi protein, hingga daging nabati (plant-based meat). Salah satu alasan utamanya adalah karena SPI dikenal memiliki kandungan protein yang sangat tinggi, bahkan sering diklaim mencapai 90%.

Namun, apakah angka tersebut benar-benar menunjukkan bahwa setiap 100 gram soy protein isolate mengandung 90 gram protein? Ataukah ada cara perhitungan tertentu di balik klaim tersebut?

Untuk memahaminya, kamu perlu mengetahui bagaimana soy protein isolate dibuat, bagaimana kandungan proteinnya dihitung, dan mengapa angka pada label produk bisa berbeda.

Benarkah Soy Protein Isolate Mengandung Protein hingga 90%?

Jawabannya ya, tetapi ada penjelasan ilmiah di balik angka tersebut.

Klaim bahwa soy protein isolate mengandung protein hingga 90% memang benar. Namun, angka tersebut dihitung menggunakan basis kering (dry basis atau moisture-free basis), yaitu kondisi ketika seluruh kandungan air pada produk tidak ikut diperhitungkan.

Sesuai regulasi Codex Alimentarius (CODEX STAN 175-1989), suatu produk baru dapat disebut sebagai soy protein isolate apabila kandungan protein kasarnya mencapai 90% atau lebih pada basis kering.

A. Kandungan protein produk sebenarnya bisa lebih rendah

Dalam praktiknya, bubuk soy protein isolate yang dijual sebagai bahan baku masih mengandung sedikit air, umumnya sekitar 4–10%. Karena itu, jika dihitung berdasarkan kondisi produk apa adanya (as is atau wet basis), kandungan protein nyatanya biasanya berada di kisaran 81–87%.

Perbedaan ini bukan berarti kualitas produknya menurun, melainkan karena kadar air masih ikut dihitung dalam bobot produk.

B. Mengapa kandungan protein pada label bisa berbeda?

Kandungan protein pada produk jadi, seperti protein shake atau minuman tinggi protein, sering kali lebih rendah dibandingkan soy protein isolate murni. Hal ini karena produsen menambahkan berbagai bahan lain, seperti pemanis, perisa, penstabil, maupun bahan pembentuk tekstur.

Penambahan bahan-bahan tersebut membuat konsentrasi protein per sajian menjadi lebih rendah dibandingkan bahan baku soy protein isolate itu sendiri.

Apa Itu Soy Protein Isolate?

Soy protein isolate (SPI) adalah bentuk protein kedelai dengan tingkat kemurnian paling tinggi yang diproduksi secara komersial. Bahan ini dibuat dari biji kedelai (Glycine max) yang telah dikupas kulitnya (dehulled) dan dihilangkan sebagian besar kandungan lemaknya (defatted).

Karena hampir seluruh komponen selain protein telah dipisahkan, soy protein isolate berbentuk bubuk berwarna putih hingga kuning pucat dengan rasa dan aroma yang relatif netral. Karakteristik ini membuatnya tidak memiliki rasa langu (beany flavor) yang biasanya masih ditemukan pada tepung kedelai utuh.

Selain digunakan untuk meningkatkan kandungan protein, soy protein isolate juga banyak dimanfaatkan karena sifat fungsionalnya dalam industri pangan. Bahan ini mampu berperan sebagai pengikat (binder), pengemulsi (emulsifier), penahan air, sekaligus pembentuk tekstur (texturizing agent) pada berbagai produk olahan.

Bagaimana Soy Protein Isolate Dibuat?

Pembuatan soy protein isolate dilakukan melalui serangkaian proses pemisahan yang bertujuan memperoleh protein kedelai dengan tingkat kemurnian yang tinggi.

1. Membuat tepung kedelai rendah lemak

Proses diawali dengan membersihkan, mengupas, dan memecah biji kedelai. Selanjutnya, minyak kedelai diekstraksi menggunakan pelarut, umumnya heksana, sehingga dihasilkan tepung kedelai rendah lemak (defatted soy flour).

2. Mengekstraksi protein

Tepung kedelai kemudian dicampurkan ke dalam larutan yang bersifat sedikit basa dengan pH sekitar 8–9. Pada kondisi ini, protein akan larut sehingga dapat dipisahkan dari komponen lain.

3. Memisahkan serat dan komponen non-protein

Larutan tersebut kemudian disentrifugasi untuk memisahkan serat yang tidak larut. Setelah itu, pH larutan diturunkan hingga sekitar 4,4–4,5, yaitu titik isoelektrik protein kedelai. Pada kondisi ini, protein akan menggumpal membentuk dadih, sedangkan sebagian besar gula, mineral, dan oligosakarida tetap berada dalam cairan dan dipisahkan.

4. Mengeringkan menjadi bubuk

Dadih protein kemudian dicuci, dinetralkan kembali pH-nya, dipasteurisasi, lalu dikeringkan menggunakan metode spray drying. Hasil akhirnya adalah bubuk soy protein isolate dengan kandungan protein yang sangat tinggi dan siap digunakan sebagai bahan baku berbagai produk pangan.

Mengapa Kandungan Protein Soy Protein Isolate Sangat Tinggi?

Kandungan protein pada soy protein isolate (SPI) bisa mencapai sekitar 90% (basis kering) karena melalui proses pemurnian yang menghilangkan sebagian besar komponen selain protein. Dengan kata lain, proses ini tidak menambah jumlah protein, tetapi memusatkan protein yang memang sudah ada di dalam kedelai.

Selama proses pembuatan, sebagian besar lemak, karbohidrat, dan serat dipisahkan dari protein. Lemak dihilangkan melalui proses ekstraksi, sedangkan karbohidrat larut, seperti rafinosa dan stakiosa, ikut terbuang bersama cairan hasil ekstraksi.

Sementara itu, serat kasar dipisahkan melalui proses sentrifugasi. Hasil akhirnya adalah bubuk yang sebagian besar terdiri atas protein kedelai (globulin), dengan kandungan lemak dan karbohidrat yang jauh lebih rendah.

Hal ini berbeda dengan biji kedelai utuh, yang secara alami hanya mengandung sekitar 38% protein kasar. Sisanya terdiri atas sekitar 19% lemak dan 23% karbohidrat, serta komponen lain seperti air, serat, vitamin, dan mineral.

Karena sebagian besar komponen non-protein telah dihilangkan selama proses isolasi, soy protein isolate memiliki konsentrasi protein yang jauh lebih tinggi dibandingkan kedelai utuh.

Apa Perbedaan Soy Protein Isolate, Soy Protein Concentrate, dan Tepung Kedelai?

chatgpt image aug 3, 2026, 08 14 57 pm


Semua produk ini berasal dari biji kedelai, tetapi memiliki tingkat pemrosesan dan kandungan protein yang berbeda. Semakin tinggi tingkat pemurniannya, semakin tinggi pula konsentrasi protein yang dihasilkan. Sebaliknya, kandungan lemak, karbohidrat, dan serat akan semakin berkurang.

Berikut perbedaan utama antara tepung kedelai, soy protein concentrate (SPC), dan soy protein isolate (SPI) berdasarkan basis kering (dry basis).

ParameterTepung Kedelai (Soy Flour)Soy Protein Concentrate (SPC)Soy Protein Isolate (SPI)
Kadar protein50% hingga <65%65% hingga <90%≥90%
LemakBervariasi (full-fat hingga 20%, defatted <1,5%)Rendah (maks. 1%)Sangat rendah (maks. 1%)
KarbohidratCukup tinggiSekitar 20%Sangat rendah (<4%)
SeratMasih mengandung serat alami kedelaiMaksimal 4%Hampir tidak ada (maksimal 0,2%)
Tingkat pemrosesanPaling sederhana, umumnya hanya melalui ekstraksi minyak dan penggilinganPemrosesan sedang dengan menghilangkan sebagian karbohidrat larutPaling tinggi melalui proses fraksinasi dan pemurnian protein
PenggunaanBahan baku donat, biskuit, dan sosisDaging nabati, sereal, dan berbagai produk panganProtein powder, minuman tinggi protein, formula khusus, dan produk gizi olahraga

Dari tabel di atas terlihat bahwa soy protein isolate (SPI) merupakan turunan kedelai dengan konsentrasi protein paling tinggi karena sebagian besar lemak, karbohidrat, dan serat telah dihilangkan selama proses pemurnian.

Sementara itu, soy protein concentrate (SPC) masih mempertahankan sebagian karbohidrat dan serat, sedangkan tepung kedelai (soy flour) memiliki komposisi yang paling mendekati biji kedelai utuh sehingga kandungan protein dan komponen gizinya lebih seimbang.

Apa Manfaat Soy Protein Isolate?

Berkat kandungan proteinnya yang tinggi dan kualitas proteinnya yang baik, soy protein isolate (SPI) banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk tinggi protein. Berikut beberapa manfaatnya.

  • Membantu memenuhi kebutuhan protein. SPI memiliki konsentrasi protein yang tinggi sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan protein harian tanpa menyumbang banyak lemak maupun karbohidrat.
  • Mendukung pembentukan dan pemeliharaan massa otot. SPI mengandung berbagai asam amino esensial, termasuk Branched-Chain Amino Acids (BCAA) dan arginin yang berperan dalam sintesis protein otot. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa suplementasi protein kedelai dapat memberikan peningkatan massa otot dan kekuatan yang sebanding dengan whey protein jika dikombinasikan dengan latihan beban.
  • Merupakan sumber protein nabati berkualitas tinggi. Soy protein isolate memiliki nilai PDCAAS 1,0, yaitu skor tertinggi untuk kualitas protein. Artinya, protein kedelai mengandung seluruh asam amino esensial dengan tingkat kecernaan yang sangat baik.
  • Cocok untuk vegetarian dan vegan. Karena termasuk complete protein, SPI dapat membantu memenuhi kebutuhan asam amino esensial pada pola makan berbasis nabati.

Apakah Soy Protein Isolate Aman Dikonsumsi?

Secara umum, soy protein isolate aman dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang seimbang. Berbagai penelitian telah mendukung keamanan konsumsi protein kedelai, bahkan FDA menyatakan bahwa konsumsi sekitar 25 gram protein kedelai per hari dapat membantu mendukung kesehatan jantung jika disertai pola makan rendah lemak jenuh dan kolesterol.

Salah satu anggapan yang masih sering beredar adalah bahwa kandungan isoflavon dalam kedelai dapat menurunkan hormon testosteron pada pria. Namun, berbagai meta-analisis menunjukkan bahwa konsumsi kedelai maupun isoflavonnya tidak terbukti menurunkan kadar testosteron, meningkatkan estrogen, maupun mengganggu fungsi reproduksi pria.

Meski demikian, soy protein isolate tidak cocok untuk semua orang. Individu yang memiliki alergi terhadap kedelai sebaiknya menghindari produk ini. Sebaliknya, bagi orang dengan intoleransi laktosa, SPI dapat menjadi alternatif protein karena secara alami tidak mengandung laktosa.

Seperti halnya sumber protein lainnya, soy protein isolate sebaiknya dikonsumsi sesuai kebutuhan. Konsumsi dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan ringan, seperti perut kembung, pada sebagian orang.

Produk Apa Saja yang Menggunakan Soy Protein Isolate?

Karena memiliki kemampuan mengikat air, mengemulsi lemak, dan membentuk tekstur, soy protein isolate banyak digunakan dalam berbagai produk pangan, di antaranya:

  • Protein powder, sebagai sumber protein dalam suplemen olahraga.
  • Minuman tinggi protein, termasuk minuman siap saji (ready-to-drink) dan minuman berbasis nabati.
  • Protein bar, sebagai camilan tinggi protein.
  • Daging nabati (plant-based meat), seperti burger, sosis, dan nugget berbahan dasar tumbuhan.
  • Produk bakery, seperti roti dan kue untuk meningkatkan kandungan protein sekaligus membantu mempertahankan kelembapan adonan.
  • Produk susu nabati, seperti keju vegan, es krim dairy-free, dan krimer nabati.

Baca juga: Kenali Macam-Macam Protein Powder dan Cara Memilihnya

Kesimpulan

Klaim bahwa soy protein isolate mengandung protein hingga 90% memang benar, tetapi angka tersebut dihitung berdasarkan basis kering (dry basis) sesuai standar internasional. Kandungan protein yang tinggi diperoleh melalui proses pemurnian yang menghilangkan sebagian besar lemak, karbohidrat, dan serat dari biji kedelai.

Hasilnya adalah sumber protein nabati dengan kualitas yang sangat baik, mengandung seluruh asam amino esensial, serta memiliki nilai PDCAAS 1,0.

Berkat karakteristik tersebut, soy protein isolate banyak digunakan dalam protein powder, minuman tinggi protein, hingga produk daging nabati, dan dapat menjadi pilihan yang baik untuk membantu memenuhi kebutuhan protein harian, termasuk bagi vegetarian dan vegan.

Referensi:

Codex Alimentarius Commission. (1989). Codex General Standard for Soy Protein Products (CODEX STAN 175-1989). Food and Agriculture Organization of the United Nations / World Health Organization.

Reed, K. E., Camargo, J., Higgins, J., Shafagoj, Y., Malkova, D., & Messina, M. (2021). Neither soy nor isoflavone intake affects male reproductive hormones: An expanded and updated meta-analysis of clinical studies. Reproductive Toxicology, 100, 60-67.

Astawan, M., & Prayudani, A. P. G. (2020). The Overview of Food Technology to Process Soy Protein Isolate and Its Application toward Food Industry. World Nutrition Journal, 4(S1), 12-17.

    Tinggalkan Komentar

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Scroll to Top