Kenapa Pisang Cepat Matang Setelah Dipetik? Ini Penjelasan Sainsnya!

Pernahkah kamu membeli pisang yang masih hijau tetapi baru beberapa hari disimpan di rumah sudah berubah menjadi kuning, lebih manis, dan teksturnya semakin lembut?

Banyak orang mengira hal ini terjadi karena suhu ruangan atau karena pisang “memang cepat busuk”. Padahal, ada proses ilmiah yang menarik di baliknya.

Pisang merupakan salah satu buah klimakterik, yaitu buah yang tetap melanjutkan proses pematangan meskipun sudah dipetik dari pohonnya. Proses ini dikendalikan oleh hormon alami berupa gas etilen yang memicu berbagai perubahan pada warna, tekstur, aroma, hingga rasa buah.

Ayo kita kupas tuntas mengapa pisang cepat matang setelah dipetik, mengenal berbagai jenis pisang yang umum dikonsumsi, kandungan gizinya, manfaatnya, hingga cara menyimpan pisang agar tetap segar lebih lama.

Pisang mengandung karbohidrat sebagai sumber energi


Apa Itu Pisang?

Pisang (Musa spp.) adalah salah satu buah tropis yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Tanaman ini berasal dari kawasan Asia Tenggara dan kini telah dibudidayakan di lebih dari 130 negara.

Indonesia sendiri termasuk salah satu produsen pisang terbesar dengan ratusan varietas yang tersebar di berbagai daerah. Meskipun sering disebut sebagai pohon pisang, secara botani tanaman pisang sebenarnya bukan pohon berkayu, melainkan tanaman herba berukuran besar.

Batangnya tersusun dari pelepah daun yang saling menumpuk sehingga tampak seperti batang pohon. Hal inilah yang membuat pisang mampu tumbuh cepat dan menghasilkan buah hanya dalam beberapa bulan.

Selain mudah ditemukan dengan harga yang relatif terjangkau, pisang juga menjadi salah satu buah favorit karena dapat dikonsumsi langsung maupun diolah menjadi berbagai makanan, seperti pisang goreng, kolak, keripik pisang, hingga tepung pisang.

Kandungan karbohidrat kompleks, serat, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa bioaktif di dalamnya membuat pisang menjadi salah satu buah dengan nilai gizi yang baik (Pakpahan et al., 2024).

Kenapa Pisang Cepat Matang Setelah Dipetik?

Jawabannya terletak pada sifat biologis pisang sebagai buah klimakterik.

Buah klimakterik adalah kelompok buah yang masih dapat melanjutkan proses pematangan setelah dipanen. Berbeda dengan buah non-klimakterik, pisang tetap aktif melakukan respirasi (bernapas) dan memproduksi hormon alami berupa gas etilen (ethylene) meskipun sudah terlepas dari tanamannya. Gas inilah yang menjadi “saklar” utama proses pematangan buah.

Ketika kadar etilen meningkat, berbagai perubahan terjadi secara bersamaan, antara lain:

  • warna kulit berubah dari hijau menjadi kuning
  • pati di dalam buah diubah menjadi gula sederhana sehingga rasanya semakin manis
  • dinding sel mulai melunak sehingga tekstur buah menjadi empuk
  • aroma khas pisang semakin kuat
  • kandungan gula terlarut meningkat

Penelitian juga menunjukkan bahwa semakin tinggi produksi etilen, semakin cepat pula proses pematangan berlangsung (Charloq, 2024).

Selain etilen, proses respirasi juga meningkat selama pematangan. Respirasi merupakan proses metabolisme yang menghasilkan energi untuk mendukung seluruh perubahan fisiologis pada buah, mulai dari pelunakan tekstur hingga pembentukan aroma khas pisang matang.

Kenapa Pisang yang Disimpan Bersama Pisang Matang Ikut Cepat Matang?

Pisang matang menghasilkan gas etilen dalam jumlah lebih tinggi. Gas tersebut akan menyebar ke buah di sekitarnya dan merangsang proses pematangan menjadi lebih cepat dan lebih seragam.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa penggunaan sumber etilen eksternal mampu mempercepat perubahan warna kulit, aroma, serta pelunakan tekstur buah dibandingkan penyimpanan biasa (Asikin et al., 2026).

Karena alasan inilah, pisang mentah sering diperam bersama buah yang sudah matang untuk mempercepat proses pemasakan secara alami.

Jenis Pisang yang Sering Ditemukan

Indonesia memiliki ratusan varietas pisang, tetapi beberapa jenis berikut merupakan yang paling sering dikonsumsi masyarakat.

  • Pisang Ambon: terkenal karena aromanya yang harum dan rasanya manis sehingga cocok dimakan langsung.
  • Pisang Kepok: memiliki daging yang lebih padat sehingga sering digunakan untuk pisang goreng, kolak, atau pisang rebus.
  • Pisang Raja: memiliki aroma kuat dan rasa manis legit sehingga banyak digunakan untuk aneka jajanan tradisional.
  • Pisang Cavendish: merupakan varietas yang paling banyak dijual di supermarket karena bentuknya seragam dan mudah dikonsumsi.
  • Pisang Mas: berukuran kecil dengan rasa manis pekat.
  • Pisang Barangan: populer sebagai buah meja karena teksturnya lembut dan aromanya khas.

Beragamnya jenis pisang membuat buah ini dapat dimanfaatkan baik sebagai buah segar maupun bahan baku berbagai produk olahan pangan.

Kandungan Gizi Pisang

Selain rasanya yang manis, kaandungan pisang juga cukup lengkap sehingga menjadikannya salah satu buah yang sering direkomendasikan sebagai camilan sehari-hari.

Pisang mengandung karbohidrat sebagai sumber energi, serat pangan, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa bioaktif yang berperan dalam menjaga kualitas buah maupun mendukung kebutuhan nutrisi harian.

Secara umum, dalam 100 gram pisang matang terkandung:

Kandungan GiziJumlah (±)
Energi89 kkal
Karbohidrat22–23 g
Protein1,1 g
Lemak0,3 g
Serat2,6 g
Kalium358 mg
Magnesium27 mg
Vitamin C8,7 mg
Vitamin B60,4 mg

Selain zat gizi makro dan mikro tersebut, pisang juga mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti fenolik, flavonoid, karotenoid, dan tanin yang berperan sebagai antioksidan alami. Kandungan inilah yang membuat pisang tidak hanya lezat, tetapi juga memiliki nilai gizi yang baik (Pakpahan et al., 2024).

Manfaat Pisang untuk Keseharian

Banyak orang mencari manfaat pisang karena buah ini praktis, mudah ditemukan, dan dapat dikonsumsi kapan saja. Berikut beberapa manfaat pisang dalam pola makan sehari-hari:

1. Menjadi sumber energi yang praktis

Karbohidrat merupakan komponen terbesar dalam pisang. Saat buah semakin matang, sebagian besar pati akan berubah menjadi gula alami seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa sehingga lebih mudah digunakan tubuh sebagai sumber energi. Karena itu, pisang sering dijadikan camilan sebelum atau sesudah beraktivitas.

2. Memberikan rasa kenyang lebih lama

Kandungan serat pada pisang membantu memberikan rasa kenyang sehingga cocok dijadikan camilan di sela waktu makan tanpa harus mengonsumsi makanan tinggi gula atau tinggi lemak.

3. Mudah diolah menjadi berbagai makanan

Salah satu keunggulan pisang adalah fleksibilitasnya. Pisang dapat dimakan langsung maupun diolah menjadi aneka makanan seperti smoothie, oatmeal, pancake, bolu pisang (banana bread), keripik pisang, kolak, pisang goreng, dan tepung pisang.

Semakin matang buah pisang, biasanya rasa manisnya semakin kuat sehingga sering dimanfaatkan sebagai pemanis alami pada berbagai olahan.

4. Membantu mengurangi limbah makanan (food waste)

Pisang yang mulai terlalu matang sebenarnya belum tentu harus dibuang. Selama belum berjamur, berlendir, atau berbau busuk, pisang matang dapat dimanfaatkan menjadi berbagai olahan seperti bolu, pancake, es krim, atau smoothies.

Cara ini membantu mengurangi pemborosan pangan sekaligus memanfaatkan buah secara maksimal.

Cara Agar Pisang Cepat Matang

Banyak orang membeli pisang yang masih hijau agar lebih tahan lama. Namun ketika ingin segera dikonsumsi, proses pematangannya bisa dipercepat secara alami.

Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:

  • Simpan bersama pisang yang sudah matang. Buah matang menghasilkan gas etilen yang akan mempercepat pematangan buah di sekitarnya (Asikin et al., 2026).
  • Masukkan ke dalam kantong kertas. Kantong membantu memerangkap gas etilen sehingga konsentrasinya meningkat dan proses pematangan berlangsung lebih cepat.
  • Simpan pada suhu ruang. Penelitian menunjukkan suhu ruang lebih efektif mempercepat pematangan dibandingkan penyimpanan pada suhu rendah. Sementara itu, penyimpanan dingin justru memperlambat perubahan warna, aroma, dan tekstur buah (Asikin et al., 2026).

Sebaliknya, jika kamu ingin pisang bertahan lebih lama, hindari menyimpannya bersama buah-buahan yang juga menghasilkan etilen tinggi seperti apel atau alpukat matang.

Cara Simpan Pisang agar Awet

Karena termasuk buah klimakterik, pisang akan terus mengalami proses pematangan setelah dipanen. Itulah sebabnya, cara simpan pisang agar awet sangat menentukan seberapa lama kualitas buah tetap terjaga.

Jika ingin menikmati pisang secara bertahap, berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan.

1. Simpan pada suhu ruang jika masih mentah

Pisang yang masih hijau sebaiknya disimpan pada suhu ruang dengan sirkulasi udara yang baik. Hindari meletakkannya di tempat yang terkena sinar matahari langsung karena suhu yang terlalu tinggi dapat mempercepat produksi gas etilen sehingga buah lebih cepat matang.

2. Bungkus bagian tangkai pisang

Salah satu cara yang cukup populer adalah membungkus bagian pangkal atau tangkai pisang menggunakan plastic wrap atau aluminium foil. Cara ini membantu memperlambat pelepasan gas etilen dari tangkai sehingga proses pematangan tidak berlangsung terlalu cepat.

3. Pisahkan jika sudah ada yang matang

Gas etilen yang dihasilkan satu buah pisang matang dapat mempercepat pematangan buah lain di sekitarnya. Oleh karena itu, jika ada satu buah yang sudah matang sempurna, sebaiknya segera dipisahkan agar seluruh sisir pisang tidak ikut cepat menguning.

4. Simpan di kulkas setelah matang

Banyak orang mengira kulkas akan membuat pisang cepat rusak. Faktanya, menyimpan pisang matang di dalam kulkas justru dapat memperlambat proses pematangan lanjutan.

Kulit pisang memang biasanya akan berubah menjadi cokelat atau kehitaman lebih cepat akibat suhu dingin, tetapi daging buah di dalamnya umumnya masih tetap segar dan layak dikonsumsi selama belum menunjukkan tanda-tanda pembusukan. Penelitian juga menunjukkan bahwa penyimpanan pada suhu rendah mampu memperlambat laju pematangan dibandingkan penyimpanan pada suhu ruang (Asikin et al., 2026).

Perbandingan visual pisang dengan kulit normal vs pisang dengan kulit berubah menjadi hitam hampir seluruhnya disertai bagian yang lembek berair

Ciri-Ciri Pisang Busuk yang Tidak Layak Dikonsumsi

Pisang matang sering disalahartikan sebagai pisang busuk. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda.

Pisang matang umumnya memiliki kulit kuning cerah atau mulai muncul bintik-bintik cokelat kecil, teksturnya lebih lunak, aromanya harum, dan rasanya semakin manis. Kondisi ini masih normal dan justru menandakan buah berada pada tingkat kematangan optimal.

Sebaliknya, pisang busuk telah mengalami kerusakan akibat aktivitas mikroorganisme atau proses pembusukan yang berlebihan. Sebaiknya jangan dikonsumsi apabila menunjukkan ciri-ciri berikut.

  • Kulit berubah menjadi hitam hampir seluruhnya disertai bagian yang lembek berair.
  • Daging buah berubah menjadi kecokelatan atau kehitaman hingga bagian dalam.
  • Muncul jamur berwarna putih, hijau, atau hitam pada kulit maupun daging buah.
  • Mengeluarkan bau asam, menyengat, atau aroma fermentasi yang tidak normal.
  • Tekstur sangat lembek, berlendir, atau mengeluarkan cairan.

Jika hanya terdapat sedikit bintik cokelat pada kulit sementara daging buah masih berwarna krem, beraroma normal, dan tidak berlendir, pisang tersebut umumnya masih aman untuk diolah menjadi smoothie, pancake, atau banana bread sehingga dapat membantu mengurangi food waste.

Kesimpulan

Pisang merupakan buah klimakterik yang tetap melanjutkan proses pematangan meskipun sudah dipetik dari pohonnya. Proses ini dikendalikan oleh hormon alami berupa gas etilen yang memicu perubahan warna kulit, tekstur, aroma, dan rasa buah menjadi semakin matang (Charloq, 2024; Asikin et al., 2026).

Memahami cara kerja pematangan pisang dapat membantu kamu menentukan waktu terbaik untuk mengonsumsinya, mempercepat proses pemeraman saat diperlukan, sekaligus menyimpan buah dengan cara yang tepat agar lebih awet. Dengan begitu, kualitas pisang tetap terjaga dan risiko makanan terbuang pun dapat dikurangi.

Masih penasaran dengan fakta sains di balik bahan makanan lain yang sering kamu konsumsi? Jelajahi artikel Delinutri lainnya dan temukan jawaban ilmiah yang mudah dipahami untuk kehidupan sehari-hari!

Referensi:

Asikin, S. N., Muslimah, D. P., Resya, Khosina, A. L., Ervina, T., & Titin. (2026). Pengaruh Pemeraman Terhadap Laju Pematangan dan Kualitas Buah Pisang Kepok (Musa paradisiaca formatypica). Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha, 13(2), 296-306.

Maduwanthi, S. D. T., & Marapana, R. A. U. J. (2019). Induced Ripening Agents and Their Effect on Fruit Quality of Banana. International Journal of Food Science, 2019, 1-8.

Triardianto, D., Adhamatika, A., & Sucipto, A. (2022). Pengaruh Suhu Terhadap Parameter Fisik Pisang Kepok (Musa acuminata) Selama Penyimpanan. Agrosaintifika: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 5(1), 11-16.

Markiah, Hustiany, R., & Rahmi, A. (2020). Upaya Mempertahankan Umur Simpan Pisang Kepok dengan Kemasan Aktif Berbahan Arang Aktif Cangkang Kelapa Sawit. Jurnal Teknologi Industri Pertanian (IPB), 30(2), 198-204.

Charloq. (2024). Pengaruh Pemeraman Terhadap Hasil Titrasi Kandungan Etilen Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca L.). Jurnal Agroplasma, 11(1), 128-134.

Pakpahan, S. B., Anjani, G., & Pramono, A. (2024). Peran Kandungan Zat Gizi dan Senyawa Bioaktif Pisang Terhadap Satiety Hormones dan Tingkat Nafsu Makan: A Literature Review. Journal of Nutrition College, 13(4), 382-394.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top